JAKARTA - asal usul Tulungagung ternyata menyimpan sejarah panjang sejak era Kerajaan Medang hingga kejayaan Majapahit. Wilayah yang kini berada di selatan Jawa Timur itu disebut pernah menjadi pusat perebutan kekuasaan, lokasi pembangunan bendungan raksasa abad XI, hingga tempat perlindungan raja-raja Jawa yang kalah perang.
Nama Tulungagung sendiri berasal dari bahasa Jawa Kawi, yakni “tulung” yang berarti pertolongan atau sumber air dan “agung” yang berarti besar. Makna tersebut berkaitan erat dengan sejarah wilayah itu yang dahulu dikenal sebagai Ngerawa, hamparan rawa luas di selatan Gunung Wilis.
Jejak sejarah Tulungagung juga diperkuat oleh berbagai prasasti kuno, mulai dari Prasasti Penampihan tahun 898 Masehi hingga Prasasti Lawadan bertarikh 18 November 1205 Masehi yang kini dijadikan dasar hari jadi Kabupaten Tulungagung.
Prasasti Kuno Ungkap Tulungagung Sudah Memiliki Pemerintahan Sejak Abad IX
Sejarah awal Tulungagung mulai terlihat pada masa pemerintahan Raja Medang, Sri Darmodaya Rakai Watukura Dyah Balitung yang berkuasa pada 898–910 Masehi. Dalam Prasasti Penampihan I bertahun 898 Masehi disebutkan adanya anugerah tanah perdikan di wilayah Penampihan, Sendang, Tulungagung.
Prasasti tersebut menjadi bukti bahwa wilayah Tulungagung sudah memiliki struktur pemerintahan lokal sejak lebih dari 1.100 tahun lalu.
Kala itu, Kerajaan Medang sedang melakukan ekspansi ke Jawa Timur untuk menaklukkan Kerajaan Kanjuruhan. Menurut kisah dalam prasasti, pasukan Dyah Balitung sempat mengalami kekalahan dan mundur ke kawasan Gunung Wilis sebelum akhirnya mendapat bantuan masyarakat setempat.
Baca Juga: Vivo V50 Resmi Hadir, Bawa Baterai 6000 mAh dan Desain Baru, Tapi Benarkah Lebih Baik dari Vivo V40?
Bantuan tersebut kemudian melahirkan anugerah sima perdikan yang tertulis dalam Prasasti Kubu-Kubu tahun 905 Masehi. Dari sinilah muncul makna “pertolongan agung” yang kemudian dikaitkan dengan nama Tulungagung.
Tidak hanya itu, wilayah Tulungagung juga disebut dalam berbagai catatan sejarah Medang Timur saat Empu Sindok memindahkan pusat kerajaan ke Jawa Timur pada abad X. Pada masa tersebut, Tulungagung dikenal dengan nama Lodoyong dan menjadi salah satu wilayah penting di selatan Sungai Brantas.
Tulungagung Pernah Jadi Medan Perang Erlangga dan Ratu Lodoyong
Memasuki abad XI, sejarah Tulungagung semakin menonjol ketika Raja Airlangga membangun kembali Kerajaan Medang setelah pralaya besar tahun 1006 Masehi.
Saat itu, Airlangga harus menghadapi kerajaan-kerajaan kecil yang memisahkan diri, termasuk Kerajaan Lodoyong di wilayah Tulungagung sekarang. Penguasa Lodoyong disebut sebagai Ratu Diah Tulodong, tokoh perempuan kuat yang bahkan berhasil mengusir Airlangga dari istananya di Watatanmas pada 1032 Masehi.
Peristiwa tersebut tercatat dalam Prasasti Terep I. Dalam catatan kuno, Ratu Diah Tulodong digambarkan sebagai sosok “serupa raksasa”, simbol kekuatan besar yang sulit ditaklukkan.
Tiga tahun kemudian, Airlangga berhasil merebut kembali kekuasaan dan menundukkan Lodoyong. Namun menariknya, Ratu Diah Tulodong tidak dibunuh dan tetap diperbolehkan memimpin wilayahnya sebagai bawahan Medang.
Konflik itu juga memunculkan proyek rekayasa hidrologi besar di Jawa Timur. Setelah wilayah Lodoyong terus dilanda banjir akibat luapan Sungai Brantas, Airlangga memerintahkan pembangunan bendungan raksasa Waringin Sapta sekitar tahun 1037 Masehi.
Pembangunan itu melibatkan pasukan Kahuripan, prajurit Lodoyong, serta masyarakat Brangkidul. Sungai buatan bernama Sungai Ngerawa juga dibuat untuk mengurangi genangan rawa di kawasan Tulungagung.
Catatan mengenai proyek tersebut termuat dalam Prasasti Kamalagyan yang menyebutkan adanya pengurangan pajak bagi desa-desa penjaga bendungan.
Dari Panjalu hingga Majapahit, Tulungagung Jadi Wilayah Strategis Kerajaan Jawa
Setelah Airlangga membagi kerajaan menjadi Panjalu dan Jenggala, wilayah Tulungagung disebut tetap memiliki posisi penting. Dalam kisah Empu Bharada, daerah Brangkidul bahkan digambarkan sebagai wilayah merdeka yang tidak sepenuhnya tunduk pada Panjalu maupun Jenggala.
Pada masa Kerajaan Kediri, Tulungagung kembali muncul dalam sejumlah prasasti seperti Prasasti Padlegan, Prasasti Kamulan, hingga Prasasti Lawadan tahun 1205 Masehi.
Prasasti Lawadan mencatat bagaimana penduduk Tulungagung membantu Raja Kertajaya saat menghadapi serangan Ken Arok dari Tumapel. Sebagai balas jasa, wilayah Lawadan mendapat status sima perdikan dan berbagai hak istimewa dari kerajaan.
Ketika era Majapahit dimulai, posisi Tulungagung justru semakin penting. Wilayah ini disebut sebagai tanah leluhur beberapa tokoh kerajaan, termasuk Raden Wijaya.
Sejumlah situs bersejarah di Tulungagung seperti Candi Dadi, Candi Sanggrahan, hingga Candi Boyolangu juga berkaitan erat dengan keluarga kerajaan Majapahit, terutama Maharani Gayatri Rajapatni.
Dalam Kitab Negarakertagama tahun 1365 Masehi, Tulungagung beberapa kali disebut sebagai wilayah penting yang memiliki desa perdikan, pusat pendidikan agama, hingga lokasi makam keluarga kerajaan.
Keberadaan pelabuhan penyeberangan Sungai Brantas di Waringin Pitu juga memperlihatkan bahwa Tulungagung menjadi jalur strategis penghubung kawasan Majapahit bagian selatan.
Hingga kini, berbagai prasasti dan situs kuno tersebut masih menjadi bukti bahwa asal usul Tulungagung tidak bisa dilepaskan dari perjalanan panjang kerajaan-kerajaan besar di tanah Jawa.
Editor : Divka Vance Yandriana