Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Sejarah Candi Sanggrahan Tulungagung Terungkap, Jejak Spiritual Majapahit dan Misteri Singa Gaib Jadi Sorotan

Divka Vance Yandriana • Selasa, 26 Mei 2026 | 19:08 WIB
Candi Sanggrahan Tulungagung disebut jadi tempat ibadah Majapahit dengan petirtaan suci, relief singa, dan filosofi spiritual.
Candi Sanggrahan Tulungagung disebut jadi tempat ibadah Majapahit dengan petirtaan suci, relief singa, dan filosofi spiritual.

JAKARTA - Candi Sanggrahan Tulungagung kembali menjadi sorotan setelah muncul penjelasan mengenai sejarah, fungsi spiritual, hingga filosofi bangunan peninggalan Majapahit tersebut. Candi Sanggrahan disebut sebagai tempat berdoa bersama para bangsawan Majapahit yang dibangun pada masa Ratu Tribhuwana Tunggadewi dan dilanjutkan pada era Prabu Hayam Wuruk.

Situs bersejarah yang berada di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur itu juga diyakini memiliki hubungan erat dengan Candi Gayatri. Selain menjadi pusat ritual spiritual, kawasan candi disebut memiliki petirtaan suci hingga relief singa yang dipercaya menjadi penjaga gaib wilayah tersebut.

Keberadaan Candi Sanggrahan dinilai penting karena menjadi salah satu candi terbesar di Tulungagung dengan struktur utama berbahan batu andesit yang masih tersisa hingga kini meski sebagian bangunan telah runtuh akibat faktor alam dan usia.

Baca Juga: ChatGPT Kini Bisa Kelola Rekening dan Investasi Pengguna, AI Tencent Mirip Jarvis hingga Claude Bantu Temukan Bitcoin Rp6 Miliar

Candi Sanggrahan Disebut Jadi Tempat Ibadah Era Majapahit

Dalam penjelasan yang disampaikan di lokasi situs, Candi Sanggrahan disebut digunakan sebagai tempat berdoa bersama pada masa Kerajaan Majapahit. Pembangunannya dikaitkan dengan masa pemerintahan Ratu Tribhuwana Tunggadewi dan diteruskan oleh Raja Hayam Wuruk.

“Candi Sanggrahan ini sebenarnya tempat untuk berdoa bersama-sama yang dipakai masa-masa Majapahit,” ungkap narasumber dalam video dokumentasi tersebut.

Kawasan candi juga disebut memiliki pendopo besar yang kini hanya menyisakan bagian pondasi. Selain itu terdapat area yang dahulu digunakan sebagai tempat penambatan gajah kerajaan Majapahit.

Baca Juga: ChatGPT 5.5 Diklaim Jago Finansial dan Excel, Uji Coba Bikin Model Keuangan Startup Ini Hasilnya Bikin Kaget

Di sisi lain kawasan candi terdapat petirtaan atau tempat penyucian diri. Air di petirtaan tersebut disebut berasal langsung dari sumber alami tanpa bantuan teknologi modern.

Petirtaan itu digunakan untuk membersihkan jiwa dan raga sebelum melakukan ritual doa di area utama candi. Bentuk petirtaan yang menyerupai naga juga menjadi salah satu daya tarik situs tersebut.

Tak hanya itu, di area sekitar candi ditemukan lima arca yang kondisinya telah runtuh. Demi alasan penyelamatan benda cagar budaya, arca-arca tersebut kemudian disimpan di Museum Wajakensis Tulungagung.

Baca Juga: Vivo V50 Lite 5G Resmi Meluncur, Baterai 6.500 mAh di Bodi Tipis Jadi Sorotan, Seberapa Gahar Performanya?

Kondisi Candi Sanggrahan Banyak Mengalami Kerusakan

Candi Sanggrahan ditemukan masyarakat Tulungagung dalam kondisi bangunan yang sudah mengalami kerusakan cukup parah. Meski tidak tertimbun tanah sepenuhnya, banyak bagian batu bata dan struktur bangunan yang tercerai-berai.

Kerusakan itu dipengaruhi perubahan alam selama ratusan tahun. Saat ini bagian yang masih tampak jelas hanya badan dan kepala candi, sementara sebagian area kaki candi berada di lahan milik warga.

Menurut penjelasan dalam video, keberadaan relief singa di kawasan candi juga menjadi bagian penting sejarah situs tersebut. Relief itu dikaitkan dengan kisah para resi atau guru spiritual yang mencari wilayah paling suci di kawasan Tulungagung.

“Digambarkan ada singa putih dan singa coklat yang menjaga wilayah ini,” ujar narasumber.

Cerita tersebut berkembang menjadi legenda lokal yang masih dipercaya sebagian masyarakat hingga kini. Bahkan disebut hanya orang tertentu yang memiliki “mata batin” dapat merasakan keberadaan penjaga gaib tersebut.

Selain nilai sejarah, Candi Sanggrahan juga dinilai penting sebagai simbol perkembangan budaya dan spiritualitas Jawa Timur pada era Majapahit sekitar abad ke-14.

Filosofi Batu Andesit dan Bata Jadi Simbol Kehidupan Manusia

Penjelasan lain yang menarik perhatian adalah filosofi material bangunan Candi Sanggrahan. Batu andesit yang digunakan pada bagian utama candi disebut melambangkan pondasi kuat dalam kehidupan manusia.

Dalam tradisi Jawa, bagian kepala candi dianggap sakral sehingga pengunjung tidak diperbolehkan naik ke atas bangunan utama. Hal itu berkaitan dengan penghormatan terhadap nilai etika dan tata krama.

“Konsepnya kepala tidak boleh diinjak-injak karena berkaitan dengan rasa hormat,” terang narasumber.

Sementara penggunaan batu bata di sejumlah bagian candi disebut melambangkan empat unsur kehidupan yakni tanah, air, api, dan udara. Filosofi tersebut menggambarkan asal-usul manusia yang berasal dari alam dan akan kembali kepada Tuhan.

Pandangan spiritual itu menjadi ciri kuat bangunan-bangunan peninggalan Majapahit di Jawa Timur. Candi bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga media pembelajaran nilai kehidupan dan hubungan manusia dengan alam.

Hingga kini Candi Sanggrahan masih menjadi salah satu situs bersejarah penting di Tulungagung. Meski sebagian bangunannya rusak, kawasan ini tetap menyimpan jejak kejayaan Majapahit sekaligus filosofi budaya Jawa yang terus diwariskan lintas generasi.

Editor : Divka Vance Yandriana
#Candi Sanggrahan Tulungagung #petirtaan suci #filosofi spiritual