Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Nogo Dino dalam Tradisi Jawa Kembali Viral, Ini Cara Menghitung Arah Pernikahan dan Lamaran Menurut Primbon

Divka Vance Yandriana • Selasa, 26 Mei 2026 | 21:20 WIB
Nogo Dino kembali viral, ini cara menghitung arah lamaran dan pernikahan menurut primbon Jawa berdasarkan bulan Jawa.
Nogo Dino kembali viral, ini cara menghitung arah lamaran dan pernikahan menurut primbon Jawa berdasarkan bulan Jawa.

JAKARTA - Nogo Dino kembali ramai dibahas di media sosial setelah banyak masyarakat Jawa mencari cara menghitung arah lamaran dan pernikahan berdasarkan primbon Jawa. Tradisi Nogo Dino dipercaya masih digunakan hingga kini untuk menentukan arah yang dianggap baik saat proses lamaran maupun akad pernikahan berlangsung.

Perhitungan Nogo Dino dalam budaya Jawa berkaitan dengan posisi arah mata angin berdasarkan bulan Jawa. Tradisi ini banyak dipakai masyarakat yang hendak menikah agar terhindar dari arah yang dianggap kurang baik menurut perhitungan leluhur Jawa.

Dalam video yang diunggah kanal budaya Jawa, dijelaskan bahwa Nogo Dino dibagi menjadi empat arah utama, yakni timur, selatan, barat, dan utara. Posisi “nogo” atau naga dipercaya terus berputar mengikuti siklus bulan Jawa sepanjang tahun.

Baca Juga: Filosofi Orang Jawa Disebut Jadi Kunci Kehidupan Damai, Ini Makna Memayu Hayuning Bawono yang Viral di Media Sosial

Cara Menghitung Nogo Dino Menurut Primbon Jawa

Perhitungan Nogo Dino disebut cukup sederhana karena hanya menggunakan pembagian bulan Jawa ke dalam empat arah mata angin. Dalam tradisi Jawa, bulan dimulai dari Suro, Sapar, hingga Besar.

Tiga bulan pertama, yakni Suro, Sapar, dan Mulud, dipercaya posisi Nogo Dino berada di arah timur atau wetan. Artinya, masyarakat Jawa menghindari perjalanan atau prosesi lamaran yang bergerak menuju arah timur pada bulan tersebut.

Kemudian posisi naga berpindah ke selatan pada bulan Bakda Mulud, Jumadil Awal, dan Jumadil Akhir. Selanjutnya berpindah ke barat pada bulan Rejeb, Ruwah, dan Poso atau Ramadan.

Baca Juga: Asal Usul Tulungagung Terkuak, Jejak Kerajaan Medang hingga Majapahit Ternyata Bermula dari Tanah Rawa Penuh Pertempuran

Sementara tiga bulan terakhir, yakni Syawal, Apit, dan Besar, posisi Nogo Dino berada di utara. Siklus tersebut terus berputar setiap tahun mengikuti kalender Jawa.

“Kalau posisi naganya di selatan, maka arah menuju selatan biasanya dihindari,” demikian penjelasan dalam tayangan tersebut.

Tradisi ini masih sering digunakan masyarakat Jawa, terutama keluarga yang akan menggelar pernikahan atau lamaran. Bahkan sebagian masyarakat masih meminta saran sesepuh atau orang tua sebelum menentukan hari dan arah keberangkatan.

Baca Juga: Sejarah Masjid Istiqlal, Simbol Kemerdekaan Indonesia yang Dibangun di Tengah Krisis dan Jadi Masjid Terbesar Asia Tenggara

Mengapa Tradisi Nogo Dino Masih Dipercaya?

Budaya Jawa dikenal memiliki banyak perhitungan tradisional yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, termasuk pernikahan. Nogo Dino menjadi salah satu bagian dari primbon Jawa yang dipercaya turun-temurun.

Dalam praktiknya, masyarakat Jawa biasanya menyesuaikan arah perjalanan calon pengantin pria menuju rumah calon pengantin wanita. Jika arah perjalanan dianggap berlawanan dengan posisi Nogo Dino, sebagian orang memilih menunda atau mencari solusi lain.

Meski demikian, terdapat pula masyarakat yang menyiasati arah perjalanan dengan memutar jalur. Misalnya, jika arah rumah mempelai wanita berada di timur sementara posisi Nogo Dino juga di timur, maka perjalanan tidak dilakukan langsung menuju timur.

Tradisi ini disebut bukan sekadar soal mistis, tetapi lebih pada bentuk penghormatan terhadap adat dan budaya leluhur Jawa yang masih dijaga hingga sekarang.

Menurut sejumlah budayawan Jawa, tradisi seperti Nogo Dino juga menjadi simbol kehati-hatian dalam memulai kehidupan rumah tangga. Karena itu, sebagian masyarakat tetap mempertahankannya meski hidup di era modern.

Begini Siklus Arah Nogo Dino dalam Kalender Jawa

Dalam penjelasan yang beredar, siklus arah Nogo Dino dibagi menjadi empat putaran berdasarkan kalender Jawa selama satu tahun.

Rinciannya adalah sebagai berikut:

Tradisi ini masih banyak ditemukan di wilayah Jawa Tengah, Yogyakarta, hingga Jawa Timur. Bahkan masyarakat Jawa di luar Pulau Jawa juga masih mengenal perhitungan tersebut.

Budaya primbon Jawa sendiri terus menarik perhatian publik karena dianggap unik dan sarat filosofi. Tidak sedikit masyarakat muda yang kini mulai mempelajari kembali tradisi Jawa melalui media sosial maupun kanal YouTube budaya.

Meski tidak semua orang mempercayainya secara penuh, Nogo Dino tetap menjadi bagian dari warisan budaya Jawa yang masih lestari hingga sekarang. Tradisi ini juga menunjukkan bagaimana masyarakat Jawa memadukan nilai budaya, simbol arah mata angin, dan perhitungan waktu dalam kehidupan sehari-hari.

 

Editor : Divka Vance Yandriana
#Nogo Dino Jawa #Nogo Dino Jawa terbaru #Nogo Dino