JAKARTA - Hari terbaik bangun rumah menurut primbon Jawa kembali menjadi perhatian masyarakat yang masih memegang tradisi leluhur. Dalam perhitungan Jawa, pemilihan hari untuk membangun rumah, renovasi, pindah rumah, hingga masuk rumah baru dipercaya memengaruhi keselamatan, rezeki, dan keharmonisan penghuni rumah.
Sejumlah hari bahkan dianggap paling baik karena berdasarkan empat perhitungan primbon seluruhnya menunjukkan hasil positif. Hari-hari tersebut diyakini membawa energi keberuntungan dan ketenteraman bagi pemilik rumah.
Dalam penjelasan kanal YouTube bertema primbon Jawa, disebutkan ada 12 hari yang dianggap baik untuk urusan rumah tangga dan hunian. Namun, pemilihannya tetap harus disesuaikan dengan weton masing-masing agar tidak bertabrakan dengan hari naas pribadi.
“Meski harinya baik, kalau masuk hari naas weton seseorang tetap tidak dianjurkan dipakai,” demikian penjelasan dalam tayangan tersebut.
Kamis Legi hingga Minggu Kliwon Dianggap Hari Paling Baik
Berdasarkan perhitungan primbon Jawa, tiga hari yang dianggap paling baik untuk membangun rumah maupun pindah rumah adalah Kamis Legi, Jumat Pon, dan Minggu Kliwon.
Ketiga hari tersebut memiliki neptu 13 dan dalam empat perhitungan primbon semuanya menunjukkan hasil baik, yakni Tibo Ratu, Kerto, Candi, dan Sri. Kombinasi itu dipercaya melambangkan kemuliaan, kesejahteraan, kemakmuran, dan ketenteraman hidup.
Karena seluruh hasil perhitungannya positif, ketiga hari tersebut sering menjadi pilihan utama masyarakat Jawa saat hendak memulai pembangunan rumah atau boyongan.
Namun demikian, penggunaan hari tersebut tetap harus menyesuaikan weton pemilik rumah. Contohnya, jika Kamis Legi merupakan hari naas seseorang, maka disarankan memilih Jumat Pon atau Minggu Kliwon sebagai alternatif.
Selain tiga hari utama tersebut, ada juga beberapa hari lain yang masih dianggap baik meski memiliki satu hasil perhitungan kurang bagus. Di antaranya Minggu Wage, Selasa Pon, Kamis Kliwon, Kamis Pahing, Sabtu Wage, hingga Senin Legi.
Dalam tradisi Jawa, hari-hari tersebut tetap dinilai membawa keberuntungan karena tiga dari empat unsur perhitungannya masih menunjukkan hasil positif.
Perhitungan Primbon Tidak Bisa Dipakai Sembarangan
Meski banyak masyarakat mencari hari baik pindah rumah menurut primbon Jawa, penggunaannya tidak bisa dilakukan sembarangan. Ada beberapa aturan tambahan yang harus diperhatikan.
Salah satunya adalah menghindari hari naas berdasarkan weton kelahiran. Selain itu, masyarakat Jawa juga mengenal istilah hari pantangan seperti Tombol Seren yang berubah setiap tahun.
Hari Tombol Seren dipercaya kurang baik untuk memulai aktivitas besar seperti membangun rumah atau pindahan. Karena itu, seseorang perlu mencocokkan kembali hari pilihan dengan kalender primbon tahunan.
Tak hanya itu, arah perpindahan rumah juga menjadi faktor penting. Dalam penjelasan primbon, setiap neptu hari memiliki arah pantangan tertentu yang sebaiknya dihindari.
Sebagai contoh, Senin Legi dengan neptu 9 dipercaya memiliki pantangan arah timur. Jika seseorang pindah rumah dari barat menuju timur pada hari tersebut, maka dianggap kurang baik meski Senin Legi termasuk kategori hari bagus.
“Harus disesuaikan dengan arah perpindahan rumah supaya tidak bertabrakan dengan arah pantangan,” jelas narator dalam video itu.
Tradisi Jawa Masih Dipercaya hingga Sekarang
Tradisi menentukan hari baik bangun rumah dan pindah rumah masih bertahan di tengah kehidupan modern. Banyak keluarga Jawa tetap menggunakan primbon sebagai bentuk ikhtiar sekaligus penghormatan terhadap warisan leluhur.
Selain untuk urusan rumah, perhitungan weton dan primbon Jawa juga kerap digunakan dalam menentukan hari pernikahan, membuka usaha, hingga perjalanan jauh.
Bagi sebagian masyarakat, tradisi ini bukan hanya soal kepercayaan mistis, tetapi juga filosofi kehati-hatian sebelum mengambil keputusan besar dalam hidup.
Hingga kini, pembahasan tentang hari baik menurut primbon Jawa terus ramai dicari di media sosial maupun YouTube. Hal itu menunjukkan budaya dan tradisi Jawa masih memiliki tempat kuat di tengah perkembangan zaman.
Editor : Divka Vance Yandriana