JAKARTA - Nogo Dino dalam primbon Jawa dipercaya sebagai penentu arah baik dan arah buruk dalam mencari rezeki maupun melakukan perjalanan sehari-hari. Dalam kepercayaan masyarakat Jawa kuno, arah perjalanan yang berlawanan dengan posisi Nogo Dino diyakini bisa membawa kesialan, musibah, hingga kegagalan dalam usaha.
Kepercayaan tentang Nogo Dino masih dikenal luas di kalangan masyarakat Jawa hingga sekarang. Tradisi ini diwariskan turun-temurun melalui kitab primbon Jawa dan sering dijadikan pedoman oleh orang tua zaman dahulu sebelum bepergian, berdagang, atau merantau.
Secara sederhana, Nogo Dino diartikan sebagai “naga hari” yang berpindah arah setiap hari. Naga tersebut diibaratkan seekor ular besar yang menjaga arah tertentu. Jika seseorang berjalan berlawanan arah dengan naga itu, dipercaya akan mendapat hambatan atau kesialan.
Baca Juga: 20 Sifat dan Kebiasaan Orang Jawa yang Dibawa Sejak Lahir, Nomor 18 Disebut Jadi Kunci Kerukunan
“Jika salah arah, rezekinya bisa dimakan sang naga,” demikian pesan yang sering disampaikan dalam tradisi lisan masyarakat Jawa.
Primbon Jawa Menyebut Nogo Dino Berubah Setiap Hari
Dalam kitab primbon Jawa kuno, arah Nogo Dino berbeda-beda sesuai hari. Penentuan arah ini dipercaya menjadi pedoman untuk mencari keselamatan dan keberuntungan.
Pada hari Ahad atau Minggu, Nogo Dino disebut menghadap ke utara. Karena itu, masyarakat dianjurkan menghindari perjalanan ke arah selatan agar tidak menjadi “korban naga”. Sebaliknya, arah utara dianggap lebih baik untuk mencari rezeki.
Sementara pada hari Senin, arah Nogo Dino berada di timur. Orang yang bepergian ke arah barat dipercaya bisa menghadapi kesialan atau bertemu musuh. Oleh sebab itu, arah timur dianggap lebih aman dan membawa keberuntungan.
Hari Selasa dipercaya menempatkan Nogo Dino di selatan. Artinya, perjalanan ke arah utara sebaiknya dihindari. Sedangkan pada hari Rabu, posisi naga kembali berada di utara sehingga arah selatan dianggap kurang baik.
Dalam tradisi Jawa, penentuan arah seperti ini sering dipakai oleh pedagang keliling, petani, hingga masyarakat yang hendak melakukan perjalanan jauh.
Hari Kamis hingga Sabtu Punya Pantangan Arah Berbeda
Menurut primbon Jawa, hari Kamis memiliki posisi Nogo Dino di barat. Karena itu, arah timur dipercaya menjadi arah yang kurang baik untuk bepergian atau mencari rezeki.
“Jika ingin selamat dan mendapat rezeki melimpah, hendaknya menuju arah barat,” demikian penjelasan yang terdapat dalam tradisi primbon Jawa.
Pada hari Jumat dan Sabtu, Nogo Dino dipercaya berada di selatan. Akibatnya, perjalanan ke arah utara dianggap kurang menguntungkan dan berpotensi membawa hambatan.
Keyakinan ini membuat sebagian masyarakat Jawa zaman dahulu sangat berhati-hati menentukan arah perjalanan. Bahkan, ada yang menunda bepergian jika arah tujuan dianggap bertentangan dengan posisi Nogo Dino pada hari tersebut.
Selain digunakan untuk perjalanan, perhitungan ini juga dipakai dalam aktivitas penting lain seperti berdagang, pindah rumah, melamar pasangan, hingga menentukan arah membuka usaha.
Tradisi tersebut menjadi bagian dari budaya titen Jawa, yakni kebiasaan mengamati tanda-tanda alam dan pengalaman hidup untuk dijadikan pedoman sehari-hari.
Dipercaya Turun-Temurun, Namun Tetap Dianjurkan Berserah kepada Tuhan
Meski masih dipercaya sebagian masyarakat, banyak tokoh budaya Jawa menegaskan bahwa perhitungan Nogo Dino hanyalah warisan tradisi leluhur. Masyarakat tetap dianjurkan untuk berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa dan tidak menjadikan primbon sebagai keyakinan mutlak.
Dalam penjelasan video tersebut juga disebutkan bahwa manusia sebaiknya tetap berdoa dan memohon perlindungan agar dijauhkan dari musibah serta diberikan keselamatan.
“Sebagai orang beriman, kita harus percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa dan selalu berdoa agar diberi keselamatan,” ujar narator video.
Tradisi Nogo Dino sendiri dianggap sebagai bagian dari kearifan lokal masyarakat Jawa yang berkembang sejak ratusan tahun lalu. Hingga kini, sebagian masyarakat masih melestarikannya sebagai budaya dan bentuk penghormatan kepada leluhur.
Meski tidak semua orang mempercayainya, pembahasan mengenai Nogo Dino terus menarik perhatian karena berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa, terutama soal rezeki, perjalanan, dan keselamatan hidup.
Editor : Divka Vance Yandriana