JAKARTA - Perhitungan Nogo Dino dalam Primbon Jawa kembali menjadi sorotan setelah sebuah video kejawen viral di media sosial karena menampilkan penjelasan yang bercampur antara arah rezeki, weton, hingga istilah patine dina yang dinilai membingungkan. Tradisi ini dipercaya sebagian masyarakat Jawa sebagai panduan menentukan arah keberuntungan dalam bekerja dan bepergian.
Dalam video tersebut, Nogo Dino dalam Primbon Jawa dijelaskan sebagai konsep arah “naga hari” yang bergerak setiap hari dan dipercaya memengaruhi rezeki seseorang. Jika seseorang berjalan searah dengan posisi naga, maka dianggap membawa keberuntungan, sementara arah berlawanan diyakini berisiko membawa kesialan.
Penjelasan yang beragam dari narasumber membuat konsep Nogo Dino dalam Primbon Jawa kembali ramai dibahas, terutama karena menyangkut hitungan arah mata angin, weton, serta pantangan perjalanan yang masih dipercaya sebagian masyarakat Jawa hingga saat ini.
Apa Itu Nogo Dino dalam Primbon Jawa dan Mengapa Masih Dipercaya
Secara umum, Nogo Dino dalam Primbon Jawa adalah sistem kepercayaan tradisional yang mengaitkan arah mata angin dengan hari tertentu. Konsep ini menggambarkan “naga hari” yang bergerak ke arah berbeda setiap harinya dan menjadi simbol energi baik atau buruk dalam aktivitas manusia.
Dalam penjelasan video, disebutkan bahwa masyarakat Jawa terdahulu menggunakan Nogo Dino sebagai panduan untuk mencari rezeki agar tidak “melawan arah naga”. Salah satu narasi menyebutkan, “Nogo Dino ini adalah petunjuk arah rezeki agar tidak mendapatkan kesialan dalam usaha.”
Kepercayaan ini biasanya digunakan oleh pedagang keliling, petani, hingga masyarakat yang sering bepergian. Tujuannya adalah menghindari arah yang dianggap membawa hambatan dalam mencari rezeki.
Meski demikian, dalam konteks modern, banyak pihak menilai Nogo Dino lebih sebagai warisan budaya dibandingkan aturan mutlak dalam kehidupan sehari-hari.
Cara Hitung Nogo Dino dan Arah Rezeki Menurut Weton
Dalam praktiknya, Nogo Dino dalam Primbon Jawa dihitung berdasarkan kombinasi hari, pasaran, dan arah mata angin. Setiap hari dipercaya memiliki arah tertentu, misalnya Minggu menghadap utara, Senin ke timur, Selasa ke tenggara, dan seterusnya dengan variasi berbeda dalam tiap versi Primbon.
Selain hari, pasaran Jawa seperti Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon juga diyakini memiliki pengaruh arah tersendiri. Kombinasi inilah yang kemudian digunakan untuk menentukan arah perjalanan seseorang saat mencari rezeki atau melakukan aktivitas penting.
Dalam video, juga disebutkan bahwa jika seseorang melawan arah Nogo Dino, maka diyakini dapat mengalami kerugian atau hasil usaha yang kurang baik. Namun jika mengikuti arah yang dianggap sesuai, maka keberuntungan akan lebih mudah didapatkan.
Konsep ini sering digunakan dalam aktivitas seperti berdagang keliling, membuka usaha baru, hingga menentukan arah pindah rumah dalam tradisi Jawa.
Perdebatan dan Makna Nogo Dino di Era Modern
Meski masih dipercaya sebagian masyarakat, Nogo Dino dalam Primbon Jawa juga menuai perdebatan karena banyak versi perhitungan yang berbeda antar daerah dan narasumber. Hal ini terlihat jelas dalam video yang menampilkan penjelasan campuran dan tidak seragam terkait arah dan weton.
Sebagian masyarakat menganggap Nogo Dino sebagai bagian dari kearifan lokal yang mengajarkan kehati-hatian. Namun ada pula yang melihatnya sebagai kepercayaan tradisional yang tidak bisa dijadikan patokan utama dalam mencari rezeki.
Seorang narasumber dalam video menyebutkan, “Kalau tidak percaya, silakan dicoba sendiri, tapi ini sudah menjadi bagian dari budaya turun-temurun.”
Di sisi lain, perkembangan zaman membuat banyak orang lebih mengandalkan logika, strategi usaha, dan kerja keras dibandingkan perhitungan arah tradisional. Meski begitu, nilai budaya dalam Nogo Dino tetap dianggap penting sebagai identitas masyarakat Jawa.
Pada akhirnya, Nogo Dino dalam Primbon Jawa tetap menjadi bagian dari warisan budaya yang hidup di tengah masyarakat. Terlepas dari benar atau tidaknya secara ilmiah, tradisi ini masih bertahan sebagai simbol hubungan antara manusia, alam, dan keyakinan leluhur.
Editor : Divka Vance Yandriana