Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Ramalan Naga Dina dan Patine Dina dalam Primbon Jawa: Cara Hitung Arah Keberuntungan dan Pantangan Hari Menurut Weton

Divka Vance Yandriana • Selasa, 26 Mei 2026 | 22:12 WIB
Ramalan Naga Dina dan Patine Dina dalam Primbon Jawa dipercaya menentukan arah rezeki dan pantangan hari menurut weton Jawa.
Ramalan Naga Dina dan Patine Dina dalam Primbon Jawa dipercaya menentukan arah rezeki dan pantangan hari menurut weton Jawa.

JAKARTA - Ramalan Naga Dina dan Patine Dina dalam Primbon Jawa kembali menjadi sorotan dalam pembahasan budaya Jawa terkait perhitungan weton dan arah keberuntungan. Konsep tradisional ini dipercaya masyarakat Jawa sebagai pedoman untuk menentukan arah rezeki sekaligus menghindari pantangan dalam aktivitas penting seperti berdagang, pindah rumah, hingga menggelar hajatan.

Dalam penjelasan tradisional, Naga Dina dan Patine Dina dalam Primbon Jawa menggambarkan dua sisi penting dalam satu hari, yakni arah “kejayaan” dan arah “pantangan”. Naga dina disebut sebagai arah kekuatan atau keberuntungan hari, sementara patine dina dianggap sebagai arah yang harus dihindari karena dipercaya membawa kesialan.

Sistem ini masih digunakan oleh sebagian masyarakat Jawa yang berpegang pada perhitungan weton. Meski bersifat tradisional, Naga Dina dan Patine Dina dalam Primbon Jawa tetap dipandang sebagai bagian dari kearifan lokal yang mengajarkan kehati-hatian dalam melangkah.

Baca Juga: Ramalan Weton Sabtu Pahing 2026: Usia 24-30 Tahun Disebut Paling Hoki, Rezeki dan Karier Diprediksi Melonjak


Konsep Naga Dina dan Patine Dina dalam Primbon Jawa

Dalam penjelasan perhitungan Jawa, Naga Dina merupakan simbol arah kejayaan suatu hari. Setiap hari dan pasaran memiliki nilai neptu yang kemudian dijumlahkan untuk menentukan arah keberuntungan seseorang.

“Yang disebut naga dina adalah kekuatan hari, di mana posisi tersebut dianggap sebagai arah yang membawa kejayaan,” demikian penjelasan dalam tradisi primbon yang masih digunakan hingga kini.

Sementara itu, patine dina dimaknai sebagai arah yang harus dihindari karena dianggap sebagai “arah kematian energi hari” atau simbol ketidakberuntungan dalam aktivitas penting.

Baca Juga: Misteri Candi Dadi Tulungagung, Peninggalan Majapahit di Puncak Bukit yang Tak Pernah Tergenang Air


Cara Menghitung Naga Dina dalam Primbon Jawa

Perhitungan Naga Dina dan Patine Dina dalam Primbon Jawa dimulai dari penentuan neptu hari dan pasaran. Dalam sistem ini, hari memiliki nilai masing-masing: Minggu (5), Senin (4), Selasa (3), Rabu (7), Kamis (8), Jumat (6), dan Sabtu (9). Sedangkan pasaran terdiri dari Legi (5), Pahing (9), Pon (7), Wage (4), dan Kliwon (8).

Contohnya, hari Sabtu Legi memiliki jumlah neptu 14 (9 + 5). Angka tersebut kemudian dihitung berurutan dari arah timur sebagai titik awal. Hasil akhir akan menentukan arah naga dina, misalnya jatuh di selatan atau arah lainnya sesuai perhitungan.

Menurut tradisi, arah ini diyakini sebagai “jalan keberuntungan” dalam aktivitas sehari-hari seperti berdagang atau bepergian.

Baca Juga: Sejarah Masjid Istiqlal, Simbol Kemerdekaan Indonesia yang Dibangun di Tengah Krisis dan Jadi Masjid Terbesar Asia Tenggara


Patine Dina dan Pantangan Arah Aktivitas

Selain naga dina, perhitungan Naga Dina dan Patine Dina dalam Primbon Jawa juga mengenal patine dina yang dianggap sebagai arah larangan. Perhitungan dilakukan dengan cara yang sama, yaitu menjumlahkan neptu hari dan pasaran, kemudian dihitung berurutan dari arah timur.

Dalam contoh Sabtu Legi, patine dina dapat jatuh di arah tertentu yang dianggap sebagai “kuburan hari” atau titik pantangan. Arah ini diyakini tidak baik untuk digunakan dalam aktivitas penting seperti hajatan, pindah rumah, atau berdagang.

“Jika seseorang melanggar arah patine dina, dipercaya usaha bisa tidak membuahkan hasil,” demikian penjelasan dalam narasi tradisional Jawa.


Fungsi Sosial dalam Kehidupan Masyarakat Jawa

Kepercayaan terhadap Naga Dina dan Patine Dina dalam Primbon Jawa tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga berfungsi sebagai pedoman kehati-hatian dalam mengambil keputusan. Banyak masyarakat Jawa menggunakan perhitungan ini sebagai pertimbangan tambahan sebelum melakukan aktivitas besar.

Meski tidak memiliki dasar ilmiah modern, sistem ini tetap dilestarikan sebagai bagian dari warisan budaya leluhur. Nilai yang terkandung di dalamnya adalah kehati-hatian, perhitungan matang, serta rasa hormat terhadap tradisi.

Seiring perkembangan zaman, sebagian masyarakat modern menempatkan primbon sebagai referensi budaya, bukan satu-satunya acuan dalam menentukan keputusan hidup.


Penutup

Fenomena Naga Dina dan Patine Dina dalam Primbon Jawa menunjukkan bahwa kearifan lokal Jawa masih hidup dan terus diwariskan hingga kini. Sistem ini tidak hanya menjadi simbol kepercayaan, tetapi juga filosofi hidup yang mengajarkan keseimbangan antara langkah manusia dan kehati-hatian dalam bertindak.

Seperti disampaikan dalam tradisi Jawa, “mengetahui arah naga dina berarti memahami jalan keberuntungan, sementara menghindari patine dina berarti menjaga diri dari kesialan,” meski pada akhirnya keputusan tetap kembali pada usaha dan kehendak Tuhan.

Editor : Divka Vance Yandriana
#Nogo Dino Jawa #Nogo Dino Jawa terbaru #Nogo Dino