JAKARTA - Kerajaan Singhasari merupakan salah satu kerajaan besar bercorak Hindu-Buddha yang berdiri di wilayah Tumapel, sekitar Malang, Jawa Timur. Dalam catatan sejarah, Kerajaan Singhasari berkembang pada abad ke-13 dan menjadi tonggak penting lahirnya kekuatan politik besar di Nusantara. Kejayaan kerajaan ini tidak lepas dari konflik berdarah, perebutan kekuasaan, hingga lahirnya Dinasti Rajasa yang kelak berpengaruh pada Majapahit.
Asal Usul Ken Arok dan Tumapel
Sejarah Kerajaan Singhasari berawal dari wilayah Tumapel yang saat itu masih berada di bawah kekuasaan Kerajaan Kadiri. Tokoh utama pendiri kerajaan ini adalah Ken Arok, sosok legendaris yang dalam kisah Pararaton digambarkan berasal dari latar belakang sederhana. Ia kemudian bertemu dengan Brahmana Lohgawe yang meyakini dirinya sebagai titisan dewa dan memiliki takdir besar untuk menguasai Jawa.
Ken Arok kemudian dibawa ke Tumapel dan bekerja di bawah Akuwu Tunggul Ametung. Di sinilah awal mula intrik besar dalam Kerajaan Singhasari dimulai, ketika Ken Arok jatuh cinta pada Ken Dedes, istri Tunggul Ametung yang digambarkan memiliki “cahaya keagungan” sebagai pertanda keturunan raja besar.
Keris Mpu Gandring dan Kudeta Tumapel
Perjalanan Kerajaan Singhasari tidak bisa dilepaskan dari kisah keris Mpu Gandring. Atas pesan Ken Arok, sebuah keris pusaka dibuat oleh Mpu Gandring. Namun keris tersebut justru menjadi alat pembunuhan Tunggul Ametung. Setelah berhasil merebut kekuasaan, Ken Arok naik menjadi penguasa Tumapel dan menikahi Ken Dedes.
Peristiwa ini menjadi titik balik penting dalam sejarah Kerajaan Singhasari, karena dari sinilah Ken Arok memulai konsolidasi kekuasaan dan membangun kekuatan politik baru yang menantang Kadiri. Konflik ini kemudian memuncak dalam Pertempuran Ganter, di mana Tumapel berhasil mengalahkan Kadiri dan menandai lahirnya kekuasaan baru di Jawa Timur.
Dinasti Rajasa dan Perebutan Takhta
Setelah berdirinya Kerajaan Singhasari, sejarah tidak berhenti pada kejayaan Ken Arok. Dinasti Rajasa justru dipenuhi konflik internal. Anusapati, putra Tunggul Ametung, membalas dendam dan membunuh Ken Arok. Namun kekuasaan kemudian beralih ke Tohjaya, yang juga hanya bertahan singkat sebelum digulingkan oleh Wisnuwardhana.
Pada masa Wisnuwardhana, stabilitas mulai terbentuk dan pusat pemerintahan dipindahkan ke Singhasari. Dinasti Rajasa kemudian berlanjut hingga munculnya Kertanegara, sosok raja yang membawa Kerajaan Singhasari ke puncak kejayaan politik dan ekonomi.
Puncak Kejayaan Kertanegara
Kertanegara dikenal sebagai raja terbesar dalam sejarah Kerajaan Singhasari. Ia memiliki visi besar untuk memperluas pengaruh kerajaan hingga luar Jawa melalui ekspedisi militer dan diplomasi. Dalam masa pemerintahannya, Singhasari menguasai jalur perdagangan penting yang menghubungkan Sumatra, Jawa, hingga kawasan Asia Tenggara.
Kertanegara juga memperkuat hubungan luar negeri, termasuk dengan wilayah Champa. Namun kebijakan ekspansi besar-besaran ini membuat pertahanan dalam negeri melemah. Kondisi tersebut kemudian dimanfaatkan oleh Jayakatwang dari Kadiri yang akhirnya memberontak dan berhasil menggulingkan kekuasaan Singhasari.
Warisan Sejarah Singhasari
Meski runtuh pada 1292, Kerajaan Singhasari meninggalkan warisan penting bagi sejarah Nusantara. Kerajaan ini menjadi fondasi lahirnya Majapahit melalui Raden Wijaya, menantu Kertanegara. Selain itu, peninggalan berupa candi seperti Candi Singosari, Candi Kidal, dan Candi Jago menjadi bukti kejayaan peradaban masa lalu.
Dalam sejarah Indonesia, Kerajaan Singhasari dipandang sebagai kerajaan transisi penting yang menghubungkan era Kadiri dan Majapahit, sekaligus membentuk struktur politik dan budaya Jawa kuno yang berpengaruh hingga kini.
Editor : Divka Vance Yandriana