Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Ramalan Jayabaya 2026 Ungkap Zaman Kolobendu, Dua Matahari hingga Satrio Piningit, Benarkah Jadi Pertanda?

Fadhilah Salsa Bella • Rabu, 15 Juli 2026 | 17:30 WIB
Ramalan Jayabaya 2026 mengulas Jangka Jayabaya tentang Zaman Kolobendu, dua matahari, Noto Negoro, hingga Satrio Piningit sebagai tafsir simbolik (Pinterest).
Ramalan Jayabaya 2026 mengulas Jangka Jayabaya tentang Zaman Kolobendu, dua matahari, Noto Negoro, hingga Satrio Piningit sebagai tafsir simbolik (Pinterest).

TRENGGALEKNJENGGELEK.JAWAPOS.COM – Ramalan Jayabaya 2026 kembali menjadi perbincangan setelah sebuah tayangan mengulas isi Jangka Jayabaya yang dikaitkan dengan kepemimpinan, kondisi sosial, hingga harapan lahirnya sosok Satrio Piningit. Dalam video tersebut, Jangka Jayabaya dipaparkan sebagai naskah kuno yang kerap dianggap berisi petunjuk mengenai perjalanan bangsa Indonesia, meski penafsirannya masih menjadi perdebatan.

Narator menjelaskan bahwa banyak pihak menghubungkan isi Jangka Jayabaya dengan sejarah kerajaan, masa kemerdekaan Indonesia, hingga perkembangan politik modern. Namun, ia juga mempertanyakan apakah naskah tersebut benar-benar merupakan ramalan atau hanya teks simbolik yang kemudian disesuaikan dengan berbagai peristiwa.

Baca Juga: SDN 2 Ngadisuko Hanya Jaring 5 Siswa Baru

Jangka Noto Negoro dan Tafsir Urutan Pemimpin

Pembahasan pertama mengulas bagian Jangka Noto Negoro, yang memuat kalimat berbunyi, "Kala zaman mardiko bakal ono panotojo kang tinulis ing garis Noto Negoro."

Kalimat tersebut diartikan sebagai pertanda bahwa pada masa kemerdekaan akan muncul para pemimpin yang urutan namanya telah tertulis dalam garis Noto Negoro.

Menurut penjelasan narator, sebagian masyarakat menafsirkan suku kata "No" sebagai Soekarno, presiden pertama Indonesia yang bernama asli Kusno Sosrodihardjo.

Suku kata berikutnya, "To", kemudian dikaitkan dengan Soeharto sebagai presiden kedua Indonesia.

Selanjutnya, berbagai tafsir berkembang dengan menghubungkan rangkaian berikutnya kepada masa kepemimpinan B.J. Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono yang sering dikaitkan dengan sosok Pandito Ratu, hingga Joko Widodo yang disebut berasal dari kalangan rakyat biasa.

Narator menilai muncul anggapan bahwa rangkaian Noto Negoro dianggap sesuai dengan perjalanan kepemimpinan Indonesia, meski tafsir tersebut masih menjadi perdebatan.

Zaman Kolobendu Disebut Sebagai Masa Penuh Kekacauan

Bagian berikutnya membahas Zaman Kolobendu, yang dalam video digambarkan sebagai masa penuh konflik, kebingungan, dan kemerosotan moral.

Narator mengutip ungkapan yang populer dalam budaya Jawa, "Zaman edan, yen ora edan ora keduman, sing bener ketenger, sing salah malah bungah."

Ungkapan tersebut dimaknai sebagai kondisi ketika orang yang mempertahankan kebenaran justru tersisih, sementara kesalahan memperoleh tempat.

Dalam penjelasan video, Zaman Kolobendu juga dikaitkan dengan melemahnya nilai moral, hukum yang dianggap tidak berjalan semestinya, maraknya fitnah, penyebaran informasi bohong, serta meningkatnya kepentingan kelompok dibanding kepentingan bersama.

Narator menyebut sebagian masyarakat menilai kondisi sosial dan politik saat ini memiliki kemiripan dengan gambaran tersebut.

Baca Juga: Harapan Tujuh Siswa Pupus SDN 2 Parakan Cuma Terima Dua

Ramalan Dua Matahari Dikaitkan dengan Dualisme Kekuasaan

Pembahasan selanjutnya menyoroti simbol dua matahari, yang disebut sebagai salah satu bagian paling sering diperbincangkan dalam Jangka Jayabaya.

Video mengutip kalimat, "Bakal ono dewa metu ngagem anting-anting emas, rembulan lan srengenge kembar."

Narator menjelaskan bahwa matahari dalam tafsir simbolik sering dimaknai sebagai lambang kekuasaan tertinggi.

Karena itu, kemunculan dua matahari ditafsirkan sebagai adanya dua pusat kekuasaan yang sama-sama kuat sehingga berpotensi memunculkan perebutan pengaruh, konflik elite, maupun kebingungan di tengah masyarakat.

Dalam video disebutkan bahwa tahun 2026 kerap dikaitkan sebagai periode yang rawan munculnya gesekan tersebut. Namun, narator menyampaikan hal itu sebagai bagian dari penafsiran simbolik yang berkembang di masyarakat.

Satrio Piningit dan Harapan Memasuki Zaman Koloso

Bagian terakhir membahas sosok Satrio Piningit, yang dalam Jangka Jayabaya digambarkan muncul setelah masa sulit mencapai puncaknya.

Narator mengutip kalimat, "Udan salah mangsa bakal rampung teko sang satrio piningit ambuko zaman koloso."

Kalimat itu dimaknai sebagai berakhirnya masa sulit yang kemudian disusul hadirnya sosok pemimpin yang membawa perubahan menuju masa lebih baik.

Menurut penjelasan video, Satrio Piningit digambarkan bukan berasal dari keluarga politik besar maupun kalangan berkuasa.

Sebaliknya, sosok tersebut disebut lahir dari perjalanan hidup yang penuh kesulitan dan hadir ketika kondisi negara sedang menghadapi berbagai persoalan.

Narator menyebut tugas Satrio Piningit adalah memperbaiki keadilan, mengembalikan keseimbangan, serta menyatukan masyarakat.

Setelah itu, Nusantara disebut memasuki Zaman Koloso, yang digambarkan sebagai masa damai, adil, dan sejahtera.

Di akhir tayangan, narator menegaskan bahwa Jangka Jayabaya tidak seharusnya dipahami sebagai naskah yang menentukan masa depan secara mutlak. Menurutnya, teks tersebut lebih tepat dipandang sebagai pengingat moral agar masyarakat tetap menggunakan akal sehat, menjaga persatuan, dan berperan aktif dalam menentukan arah sejarah bangsa.

Baca Juga: Sistem Gerilya Tak Mempan Siasat Jemput Bola SDN 2 Sukowetan Tahun Ini Hanya Dapatkan Tiga Siswa

Editor : Fadhilah Salsa Bella
Sumber : pinterest
Satrio Piningit Zaman Kolobendu dua matahari Primbon Jawa ramalan jayabaya 2026 Jangka Jayabaya