TRENGGALEKNJENGGELEK.JAWAPOS.COM – Ramalan Jayabaya 2026 kembali menjadi perhatian setelah sebuah tayangan mengulas tujuh peristiwa besar yang disebut dalam Jangka Jayabaya. Dalam pembahasan tersebut, tahun 2026 digambarkan bukan sebagai tahun biasa, melainkan masa penentuan yang diyakini menjadi ujian bagi keseimbangan kehidupan manusia.
Menurut narator, Prabu Jayabaya dari Kediri telah meninggalkan berbagai wejangan yang tidak hanya dipandang sebagai ramalan, tetapi juga sebagai pengingat moral. Dalam video disebutkan bahwa sejumlah isi Jangka Jayabaya kerap dikaitkan dengan berbagai peristiwa sejarah, mulai dari masa penjajahan, kemerdekaan Indonesia, hingga perkembangan teknologi modern.
Narator kemudian memaparkan tujuh peristiwa yang disebut saling berkaitan dan diyakini akan memengaruhi berbagai aspek kehidupan, mulai dari ekonomi, pangan, kesehatan, hubungan sosial, hingga kehidupan spiritual.
Krisis Ekonomi dan Pangan
Peristiwa pertama yang dibahas adalah krisis ekonomi dan pangan.
Dalam video dikutip kalimat, "Wong cilik angel golek pangan, rego-rego mundak tan kendat," yang dimaknai sebagai rakyat kecil semakin sulit mencari makanan sementara harga kebutuhan terus meningkat.
Narator mengaitkan kutipan tersebut dengan kondisi masyarakat yang menghadapi kenaikan harga bahan pokok, melemahnya daya beli, serta penghasilan yang dinilai tidak mengalami peningkatan signifikan.
Menurut penjelasan tersebut, kondisi tersebut membuat banyak keluarga lebih berfokus bertahan dibanding berkembang.
Sebagai bentuk ikhtiar, narator menyampaikan pesan leluhur agar hidup hemat, menyimpan persediaan pangan, memanfaatkan lahan untuk menanam kebutuhan sendiri, serta memperbanyak sedekah.
Baca Juga: Pasaran Wage Jadi Acuan Harga Kambing
Bencana Alam Datang Beruntun
Peristiwa kedua berkaitan dengan bencana alam.
Narator mengutip kalimat, "Bumi gonjang-ganjing, banyu gede nyapu daratan, geni gunung metu tanpo diundang," yang diartikan sebagai gempa bumi, banjir besar, dan letusan gunung yang datang secara beruntun.
Video menjelaskan bahwa Indonesia memang berada di kawasan cincin api sehingga memiliki potensi bencana alam.
Dalam pandangan budaya Jawa yang disampaikan narator, alam dianggap sebagai ibu kehidupan sehingga berbagai perubahan alam dipandang sebagai peringatan agar manusia lebih menjaga keseimbangan lingkungan.
Perpecahan Sosial
Bagian berikutnya membahas meningkatnya potensi konflik sosial.
Narator mengutip kalimat, "Sedulur dadi musuh, tonggo dadi satru," yang dimaknai sebagai saudara berubah menjadi musuh dan tetangga menjadi lawan.
Menurut penjelasan dalam video, konflik kecil dapat membesar akibat penyebaran informasi yang tidak tersaring, termasuk melalui media sosial.
Karena itu, masyarakat dianjurkan menjaga lisan, memverifikasi informasi sebelum menyebarkannya, serta mengedepankan dialog untuk menjaga kerukunan.
Baca Juga: Harapan Tujuh Siswa Pupus SDN 2 Parakan Cuma Terima Dua
Wabah Penyakit Baru
Peristiwa keempat adalah munculnya penyakit baru.
Video mengutip kalimat, "Bakal ono leloro anyar sing gegirisi, obat angel ditemoke," yang dimaknai sebagai hadirnya penyakit baru yang sulit diobati.
Narator mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan melalui pola makan yang baik, kebersihan, pemanfaatan tanaman herbal, menjaga daya tahan tubuh, dan memperbanyak sedekah sebagai bagian dari ikhtiar menurut tradisi Jawa.
Krisis Kepemimpinan
Dalam pembahasan selanjutnya, narator mengutip kalimat, "Pemimpin rebutan kursi, rakyat dilalaek," yang menggambarkan situasi ketika para pemimpin lebih sibuk mengejar kekuasaan dibanding memperhatikan kepentingan masyarakat.
Video mengaitkan pesan tersebut dengan falsafah Jawa Ing Ngarso Sung Tulodo, yang menekankan pentingnya keteladanan seorang pemimpin.
Narator mengajak masyarakat memilih pemimpin secara bijak, mengawasi jalannya pemerintahan dengan santun, serta tetap menyampaikan kritik secara bertanggung jawab.
Baca Juga: Harapan Tujuh Siswa Pupus SDN 2 Parakan Cuma Terima Dua
Musim Tidak Menentu dan Iklim Ekstrem
Peristiwa keenam membahas perubahan musim.
Narator mengutip kalimat, "Mongso bingung, petani kebingungan," yang menggambarkan musim yang tidak menentu sehingga memengaruhi waktu tanam maupun panen.
Menurut video tersebut, kondisi itu dikaitkan dengan rusaknya keseimbangan antara alam dan manusia.
Sebagai bentuk kepedulian, masyarakat diajak menjaga lingkungan, mengurangi perilaku yang merusak alam, serta memperbanyak penanaman pohon.
Kebangkitan Spiritual
Peristiwa terakhir yang dibahas adalah kebangkitan spiritual.
Video mengutip kalimat, "Wong bakal mulih marang Pangeran," yang dimaknai sebagai manusia kembali mendekat kepada Tuhan.
Narator menyampaikan bahwa berbagai kesulitan yang terjadi dipandang sebagai momentum untuk kembali memperkuat iman, menghidupkan nilai-nilai budaya, dan meningkatkan kesadaran spiritual.
Di akhir pembahasan, narator menegaskan bahwa tujuh peristiwa tersebut tidak dimaksudkan untuk menimbulkan ketakutan. Menurutnya, Jangka Jayabaya lebih tepat dipahami sebagai pengingat agar masyarakat mempersiapkan diri menghadapi berbagai kemungkinan dengan memperkuat ikhtiar, menjaga hubungan sosial, merawat lingkungan, serta meningkatkan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Baca Juga: Sistem Gerilya Tak Mempan Siasat Jemput Bola SDN 2 Sukowetan Tahun Ini Hanya Dapatkan Tiga Siswa
Editor : Fadhilah Salsa BellaSumber : pinterest