TRENGGALEKNJENGGELEK.JAWAPOS.COM – Ramalan Jayabaya Satrio Piningit kembali menjadi perbincangan setelah sebuah tayangan mengulas isi Jangka Jayabaya yang dikaitkan dengan perjalanan kepemimpinan Indonesia. Dalam video tersebut dijelaskan bahwa sebagian masyarakat meyakini pola pergantian pemimpin nasional telah digambarkan melalui simbol-simbol dalam naskah kuno yang dikaitkan dengan Prabu Jayabaya.
Narator menjelaskan, Jangka Jayabaya kerap dipahami sebagai kumpulan ramalan mengenai perjalanan zaman. Namun, di sisi lain, naskah tersebut juga dipandang sebagai refleksi sosial dan filosofi kepemimpinan yang menggunakan bahasa simbolik.
Baca Juga: Sistem Gerilya Tak Mempan Siasat Jemput Bola SDN 2 Sukowetan Tahun Ini Hanya Dapatkan Tiga Siswa
Prabu Jayabaya dan Lahirnya Jangka Jayabaya
Menurut penjelasan video, Prabu Jayabaya merupakan raja Kerajaan Kediri yang memerintah pada abad ke-12. Pada masa pemerintahannya, Kediri disebut mencapai perkembangan pesat dalam bidang sastra dan kebudayaan.
Nama Jayabaya kemudian dikenal luas karena dikaitkan dengan Jangka Jayabaya, naskah yang diyakini memuat gambaran perjalanan zaman hingga ratusan tahun ke depan.
Dalam tayangan tersebut disebutkan bahwa sejumlah isi Jangka Jayabaya sering dihubungkan dengan berbagai peristiwa sejarah, mulai dari masa penjajahan Belanda yang digambarkan sebagai bangsa berkulit putih, pendudukan Jepang yang disebut berlangsung singkat, hingga kemajuan teknologi seperti kereta tanpa kuda dan pesawat terbang.
Filosofi Cakra Manggilingan
Narator menjelaskan bahwa salah satu konsep utama dalam Jangka Jayabaya adalah Cakra Manggilingan, yakni roda kehidupan yang terus berputar.
Menurut penafsiran yang disampaikan, kehidupan bangsa akan mengalami siklus antara masa kemerosotan dan masa kejayaan.
Periode penuh kekacauan disebut sebagai Zaman Kalabendu, yang digambarkan dengan menurunnya moral, meningkatnya korupsi, dan berbagai persoalan sosial.
Setelah melewati fase tersebut, roda zaman dipercaya bergerak menuju Zaman Kalasuba, yang dipahami sebagai masa kemakmuran dan kesejahteraan.
Baca Juga: Harapan Tujuh Siswa Pupus SDN 2 Parakan Cuma Terima Dua
Tujuh Tahapan Pemimpin Nusantara
Video kemudian mengulas penafsiran pujangga Keraton Surakarta, Ronggowarsito, mengenai tujuh tahapan kepemimpinan Nusantara yang dikaitkan dengan sosok Satrio Piningit.
Tahapan pertama adalah Satrio Kinunjoro, yang dalam tayangan dikaitkan dengan Presiden Soekarno karena pernah mengalami masa penjara sebelum Indonesia merdeka.
Tahap kedua ialah Satrio Mukti Wibowo, yang ditafsirkan sebagai pemimpin dengan kewibawaan dan kemakmuran besar, kemudian dikaitkan dengan era Presiden Soeharto.
Selanjutnya terdapat Satrio Jumput Sumela Atur, yang dihubungkan dengan B.J. Habibie karena naik menjadi presiden pada masa transisi Reformasi 1998.
Tahap keempat adalah Satrio Lelono Toprame, yang dalam video dikaitkan dengan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur karena dikenal memiliki perjalanan diplomasi yang luas serta kedalaman spiritual.
Tahap kelima, Satrio Piningit Hamong Tuwuh, ditafsirkan sebagai sosok pemimpin yang membawa pengayoman dan dikaitkan dengan Megawati Soekarnoputri.
Tahap keenam adalah Satrio Tiningkah Wahyu, yang disebut memiliki kedekatan dengan latar belakang militer dan dikaitkan dengan dua periode kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono.
Sementara tahap ketujuh ialah Satrio Boyong Pambukaning Gapura, yang dalam video dihubungkan dengan era Presiden Joko Widodo karena dikaitkan dengan pemindahan ibu kota serta pembukaan babak baru pembangunan nasional.
Narator menegaskan bahwa seluruh pengaitan tersebut merupakan tafsir yang berkembang di masyarakat.
Sosok Satrio Piningit
Setelah tujuh tahapan tersebut, video membahas sosok yang disebut sebagai Satrio Piningit.
Narator menyampaikan bahwa tokoh ini digambarkan memegang simbol Trisula Weda, yang tidak dimaknai sebagai senjata fisik, melainkan lambang tiga kualitas utama seorang pemimpin.
Tiga unsur tersebut adalah cipta, yang dimaknai sebagai kecerdasan, kemampuan memahami teknologi, dan memiliki visi global.
Unsur kedua adalah rasa, yaitu memiliki empati tinggi, dekat dengan masyarakat, serta memahami persoalan rakyat kecil.
Sementara unsur ketiga adalah karsa, yang dimaknai sebagai ketegasan, integritas moral, dan tidak mudah tergoda penyalahgunaan kekuasaan.
Video juga menyebut Satrio Piningit digambarkan berasal dari tempat yang disebut bumi miring, memiliki nama yang berkaitan dengan unsur alam, serta bukan berasal dari lingkaran elite politik.
Menurut penjelasan tersebut, sosok itu diyakini muncul ketika negara menghadapi berbagai krisis multidimensi.
Baca Juga: SDN 2 Ngadisuko Hanya Jaring 5 Siswa Baru
Tafsir Simbolik Jangka Jayabaya
Di akhir pembahasan, narator menilai Jangka Jayabaya tidak harus dipahami sebagai ramalan gaib semata.
Menurutnya, naskah tersebut juga dapat dibaca sebagai analisis sosial yang menggambarkan siklus perjalanan sebuah bangsa.
Narator menyampaikan bahwa Satrio Piningit tidak selalu harus dimaknai sebagai satu tokoh tertentu. Sosok tersebut dapat dipahami sebagai simbol lahirnya generasi yang memiliki integritas, menguasai teknologi, serta mempunyai kepedulian terhadap kemajuan Indonesia.
Editor : Fadhilah Salsa BellaSumber : pinteerst