Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Gunung Kawi Malang, Benarkah Tempat Pesugihan? Ini Fakta Pesarean Eyang Jugo hingga Keraton Gunung Kawi

Fadhilah Salsa Bella • Rabu, 15 Juli 2026 | 17:50 WIB
Gunung Kawi Malang dikenal sebagai tempat pesugihan sekaligus kawasan ziarah. Simak fakta Pesarean Eyang Jugo, Keraton Gunung Kawi, dan sejarahnya (Pinterest).
Gunung Kawi Malang dikenal sebagai tempat pesugihan sekaligus kawasan ziarah. Simak fakta Pesarean Eyang Jugo, Keraton Gunung Kawi, dan sejarahnya (Pinterest).

TRENGGALEKNJENGGELEK.JAWAPOS.COMGunung Kawi Malang selama bertahun-tahun dikenal masyarakat sebagai lokasi yang sering dikaitkan dengan praktik pesugihan. Namun, di balik anggapan tersebut, kawasan ini juga merupakan pusat ziarah yang ramai didatangi peziarah dari berbagai daerah dengan tujuan spiritual yang beragam.

Berbagai cerita mengenai perubahan nasib setelah berkunjung ke Gunung Kawi terus berkembang dari mulut ke mulut. Kondisi itulah yang membuat kawasan di Kabupaten Malang, Jawa Timur, ini memiliki citra yang lekat dengan hal-hal yang dianggap berada di luar logika.

Meski demikian, aktivitas utama di kawasan tersebut tidak hanya berkaitan dengan cerita pesugihan. Di dalamnya terdapat sejumlah lokasi yang dianggap sakral, mulai dari Pesarean Eyang Jugo, Keraton Gunung Kawi, hingga area lain yang menjadi tempat berdoa, bertirakat, dan melakukan perenungan.

Baca Juga: SDN 2 Ngadisuko Hanya Jaring 5 Siswa Baru

Gunung Kawi Menjadi Kawasan Ziarah yang Ramai

Gunung Kawi berada di wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur. Kawasan pegunungan ini dikelilingi perbukitan, pepohonan lebat, serta jalur berupa tangga dan jalan setapak yang menghadirkan suasana tenang.

Sejak lama, lokasi tersebut dikenal sebagai tempat untuk mencari ketenangan batin. Banyak pengunjung datang untuk berdoa, bermeditasi, maupun sekadar menjauh dari hiruk pikuk kehidupan sehari-hari.

Suasana alam yang sunyi membuat Gunung Kawi dinilai cocok untuk aktivitas spiritual. Tradisi itu kemudian berkembang secara turun-temurun hingga menarik kedatangan peziarah dari berbagai daerah.

Sebagian pengunjung datang untuk berziarah. Sebagian lainnya membawa harapan yang berkaitan dengan rezeki, usaha, maupun keberuntungan dalam kehidupan.

Dari berbagai pengalaman tersebut kemudian muncul cerita mengenai perubahan kondisi ekonomi sejumlah orang setelah rutin berkunjung ke kawasan Gunung Kawi.

Cerita-cerita itu akhirnya berkembang luas dan membuat sebagian masyarakat menghubungkannya dengan praktik pesugihan, meskipun tidak semua aktivitas yang dilakukan dapat dipahami secara umum.

Pesarean Eyang Jugo Menjadi Pusat Aktivitas Spiritual

Salah satu lokasi paling dikenal di Gunung Kawi adalah Pesarean Eyang Jugo. Tempat ini merupakan makam Eyang Jugo dan Eyang Sujo yang dihormati masyarakat karena dianggap memiliki pengaruh besar dalam kehidupan spiritual pada masanya.

Setiap hari, kawasan pesarean dipenuhi peziarah dengan tujuan yang berbeda-beda. Ada yang datang untuk berdoa, memohon ketenangan, hingga berharap memperoleh kelancaran dalam kehidupan.

Selain berziarah, sebagian pengunjung juga menjalankan tirakat. Mereka berdiam diri dalam waktu tertentu, berdoa pada jam-jam khusus, atau mengikuti aturan yang diyakini sebagai bagian dari proses spiritual.

Aktivitas tersebut umumnya dilakukan secara pribadi sehingga tidak selalu terlihat oleh pengunjung lainnya.

Di sekitar pesarean juga terdapat pohon Dewandaru yang cukup terkenal. Pohon ini dikaitkan dengan berbagai kepercayaan yang berkembang di masyarakat.

Sebagian pengunjung meyakini bahwa daun atau buah yang jatuh secara alami dari pohon tersebut dapat menjadi pertanda tertentu, terutama yang berkaitan dengan keberuntungan maupun rezeki.

Karena keyakinan itu, tidak sedikit peziarah yang memperhatikan area sekitar pohon Dewandaru ketika berada di kawasan pesarean.

Meski muncul berbagai anggapan mengenai praktik tertentu, Pesarean Eyang Jugo tetap menjadi pusat kegiatan spiritual yang terus dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah.

Baca Juga: Harapan Tujuh Siswa Pupus SDN 2 Parakan Cuma Terima Dua

Pura Candi Gunung Kawi Berbeda dengan Gunung Kawi Malang

Nama Pura Candi Gunung Kawi kerap menimbulkan kebingungan karena memiliki nama yang sama dengan Gunung Kawi di Malang.

Padahal, lokasi tersebut berada di Bali dan bukan bagian langsung dari kawasan Gunung Kawi di Jawa Timur.

Pura Candi Gunung Kawi merupakan situs arkeologi yang diperkirakan berasal dari abad ke-11 pada masa Dinasti Warmadewa.

Kompleks tersebut dikenal memiliki Candi Tebing yang dipahat pada batu padas dan diyakini berkaitan dengan Raja Anak Wungsu beserta keluarga serta pejabat kerajaan pada masa itu.

Di kawasan tersebut juga terdapat ruang pertapaan yang dahulu digunakan para pendeta untuk bermeditasi dan menjalankan kehidupan spiritual.

Aktivitas di Pura Candi Gunung Kawi lebih berfokus pada aspek keagamaan dan budaya Hindu Bali, seperti sembahyang, upacara, serta penghormatan kepada leluhur.

Karena itu, situs tersebut tidak memiliki keterkaitan langsung dengan cerita pesugihan yang selama ini sering dikaitkan dengan Gunung Kawi di Malang.

Keraton Gunung Kawi dan Tradisi Spiritual

Selain Pesarean Eyang Jugo, kawasan ini juga memiliki Keraton Gunung Kawi yang menjadi bagian penting dalam aktivitas spiritual masyarakat.

Di area tersebut terdapat makam Eyang Tunggul Manik dan Eyang Tunggulwati yang dipercaya memiliki hubungan spiritual dengan tokoh-tokoh yang juga dihormati di Gunung Kawi, termasuk Eyang Jugo dan Raden Mas Iman Soejono.

Banyak pengunjung menjadikan lokasi ini sebagai bagian dari rangkaian ziarah mereka.

Keraton Gunung Kawi juga memiliki area pesanggrahan yang digunakan sebagai tempat meditasi dan perenungan.

Lokasi tersebut berada di bagian atas kawasan dengan suasana yang lebih tenang dibanding jalur utama sehingga dinilai mendukung aktivitas yang membutuhkan konsentrasi.

Lingkungan sekitar keraton dipenuhi pohon-pohon besar yang batangnya dibalut kain berwarna gelap sehingga menghadirkan suasana hening dan sakral.

Pada waktu tertentu, seperti malam Jumat Legi maupun tanggal 12 Suro, jumlah pengunjung biasanya meningkat.

Sebagian masyarakat meyakini momen tersebut memiliki nilai spiritual yang lebih kuat sehingga dimanfaatkan untuk menjalankan ritual adat Kejawen maupun selamatan agung.

Berbagai aktivitas itulah yang membuat Gunung Kawi hingga kini tetap menjadi kawasan spiritual yang menyimpan beragam cerita sekaligus memunculkan rasa penasaran masyarakat.

Baca Juga: Sistem Gerilya Tak Mempan Siasat Jemput Bola SDN 2 Sukowetan Tahun Ini Hanya Dapatkan Tiga Siswa

Editor : Fadhilah Salsa Bella
Sumber : pinterest
Gunung Kawi Malang Keraton Gunung Kawi Mengapa Gunung Kawi Malang dikenal sebagai tempat pesugihan Pesarean Eyang Jugo Pohon Dewandaru