Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Gunung Kawi Viral Disebut Tempat Pesugihan, Ini Sejarah, Ritual Kejawen, hingga Klarifikasi Pengelola

Fadhilah Salsa Bella • Rabu, 15 Juli 2026 | 17:55 WIB
Gunung Kawi kembali viral karena isu pesugihan. Simak sejarah, ritual Kejawen, klarifikasi pengelola, hingga penjelasan MUI dalam ulasan lengkap (Pinterest).
Gunung Kawi kembali viral karena isu pesugihan. Simak sejarah, ritual Kejawen, klarifikasi pengelola, hingga penjelasan MUI dalam ulasan lengkap (Pinterest).

TRENGGALEKNJENGGELEK.JAWAPOS.COM – Gunung Kawi kembali menjadi perbincangan di media sosial setelah muncul berbagai unggahan yang mengaitkan kawasan ziarah di Kabupaten Malang, Jawa Timur, itu dengan praktik pesugihan. Isu tersebut semakin ramai setelah sejumlah konten di media sosial menampilkan dugaan ritual, daftar nama peziarah, hingga cerita tentang tokoh-tokoh yang disebut pernah datang ke lokasi tersebut.

Pembahasan mengenai Gunung Kawi juga mengemuka setelah pesulap Marcel Radhival atau Pesulap Merah mengulas aktivitas spiritual di kawasan tersebut. Dari hasil perbincangannya dengan seorang juru kunci, Gunung Kawi disebut sebagai lokasi ritual Kejawen yang berfokus pada olah batin, hubungan manusia dengan Tuhan, serta keselarasan dengan alam.

Meski dikenal luas sebagai tempat yang dikaitkan dengan pesugihan, pengelola, tokoh masyarakat, hingga sejumlah pihak memberikan penjelasan bahwa kawasan tersebut merupakan destinasi ziarah yang telah lama memiliki nilai sejarah dan religi.

Viral karena Konten Marcel Radhival dan Media Sosial

Perbincangan mengenai Gunung Kawi semakin meluas setelah beredar berbagai unggahan di platform X. Salah satunya menampilkan foto catatan yang disebut berisi daftar orang-orang yang datang melakukan pesugihan di Gunung Kawi.

Dalam catatan tersebut tertulis nama, alamat, hingga jenis usaha, termasuk salah satu usaha yang disebut sebagai MBG. Namun, dalam pembahasan video dijelaskan bahwa tidak terdapat rincian yang dapat memastikan kebenaran informasi tersebut.

Selain itu, Marcel Radhival juga memperlihatkan temuan sejumlah foto yang berada di salah satu ruangan di kawasan yang dikaitkan dengan ritual. Foto-foto tersebut ditemukan di lokasi yang dipenuhi bunga sedap malam dan nantinya disebut akan dimasukkan ke dalam gentong.

Temuan itu memunculkan beragam spekulasi di media sosial, termasuk dugaan bahwa foto-foto tersebut digunakan dalam ritual tertentu.

Baca Juga: Sistem Gerilya Tak Mempan Siasat Jemput Bola SDN 2 Sukowetan Tahun Ini Hanya Dapatkan Tiga Siswa

Ritual Kejawen dan Tradisi Spiritual

Berdasarkan penjelasan juru kunci yang dikutip dalam pembahasan, ritual di Gunung Kawi merupakan bagian dari tradisi Kejawen.

Dalam praktiknya, peziarah biasanya membawa dupa dan bunga tiga warna. Namun, perlengkapan tersebut disebut bukan sebagai kewajiban, melainkan sarana untuk menyampaikan doa dan harapan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Gunung Kawi juga dikenal sebagai lokasi tirakat, tawasul, tahlil, hingga selamatan yang dilakukan sebagian peziarah sesuai keyakinan masing-masing.

Di sisi lain, sejumlah cerita dari netizen turut memperkuat citra mistis Gunung Kawi. Salah satunya adalah kisah seorang kakek yang disebut pernah diminta menjalani puasa selama tiga hari tiga malam sebelum dihadapkan pada pilihan yang dikaitkan dengan tumbal.

Selain itu, beredar pula cerita mengenai praktik ritual menggunakan kambing kendit atau wedus kendit, ritual malam Jumat Legi, hingga malam Satu Suro. Namun, seluruh kisah tersebut disampaikan sebagai cerita yang beredar di masyarakat tanpa pembuktian.

Sejarah Gunung Kawi dan Pesarean Eyang Jugo

Di balik berbagai cerita mistis, Gunung Kawi memiliki sejarah yang berkaitan dengan tokoh perjuangan.

Kawasan pesarean di lereng Gunung Kawi menjadi tempat dimakamkannya Kanjeng Kiai Zakaria II atau Eyang Jugo yang wafat pada 22 Januari 1871 serta Raden Mas Imam Soejono yang wafat pada 8 Februari 1876.

Keduanya dikenal sebagai tokoh yang pernah berjuang bersama Pangeran Diponegoro sebelum akhirnya menetap di Jawa Timur.

Video tersebut juga mengulas cerita mengenai seorang keturunan Tionghoa bernama Tamyang yang disebut datang ke Gunung Kawi pada era 1940-an untuk membalas jasa Eyang Jugo kepada ibunya.

Tamyang kemudian merawat kawasan makam serta membangun tempat ibadah bergaya Tionghoa. Sejak saat itu, jumlah peziarah disebut terus meningkat sehingga kawasan Gunung Kawi berkembang menjadi destinasi wisata religi.

Baca Juga: Harapan Tujuh Siswa Pupus SDN 2 Parakan Cuma Terima Dua

Klarifikasi Pengelola dan Tokoh Masyarakat

Ketua RT setempat membantah anggapan bahwa Gunung Kawi merupakan tempat pesugihan.

Menurutnya, mayoritas pengunjung datang untuk berziarah ke makam Eyang Jugo dan Raden Mas Imam Soejono sambil memanjatkan doa agar usaha, pekerjaan, maupun kehidupan mereka berjalan lebih baik.

Keberhasilan yang diperoleh setelah berziarah disebut berasal dari doa kepada Tuhan dan kerja keras, bukan karena praktik pesugihan.

Penjaga Keraton Gunung Kawi juga menyampaikan hal serupa. Ia menjelaskan bahwa kawasan tersebut digunakan untuk ziarah kubur, tahlil, tawasul, tirakat, serta selamatan.

Jika ada peziarah yang menyembelih kambing atau sapi, hal itu dilakukan atas keinginan sendiri sebagai bentuk sedekah kepada masyarakat sekitar, bukan sebagai syarat ritual.

Pihak pengelola melalui akun resmi Instagram Gunung Kawi juga mengeluarkan klarifikasi. Mereka menegaskan kawasan tersebut dibangun atas nilai penghormatan kepada leluhur, menjaga tradisi, hidup berdampingan dalam keberagaman, serta memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur turut memberikan penjelasan bahwa masyarakat perlu memahami konteks ritual yang dilakukan di Gunung Kawi. Menurut MUI, tawasul kepada Allah tanpa ritual yang bertentangan dengan syariat berbeda dengan praktik yang menggunakan sesajen atau media tertentu.

Sementara itu, tokoh publik Bang Mongol menilai citra Gunung Kawi sebagai tempat pesugihan merupakan framing yang keliru. Menurutnya, kawasan tersebut lebih dikenal sebagai lokasi ziarah kepada tokoh spiritual dan pejuang, sedangkan cerita mengenai tumbal justru dinilai merugikan masyarakat yang menggantungkan ekonomi dari wisata religi.

Di sisi lain, video tersebut juga mengulas berbagai cerita yang beredar mengenai sejumlah pengusaha besar yang disebut pernah berziarah ke Gunung Kawi. Namun, seluruh kisah itu disampaikan sebagai cerita yang beredar di media tanpa konfirmasi langsung dari tokoh-tokoh yang disebutkan.

Baca Juga: Pasaran Wage Jadi Acuan Harga Kambing

Editor : Fadhilah Salsa Bella
Sumber : pinterest
Gunung Kawi Malang pesugihan Gunung Kawi Pesarean Eyang Jugo Marcel Radhival gunung kawi