MALANG – Sejarah Kerajaan Singosari menjadi salah satu kisah paling menarik dalam perjalanan kerajaan Hindu-Buddha di Nusantara. Berawal dari Kerajaan Tumapel yang dipimpin Ken Arok, kerajaan ini berkembang menjadi kekuatan besar di Jawa Timur sebelum mencapai puncak kejayaan pada masa Raja Kertanegara dan akhirnya runtuh akibat pemberontakan Jayakatwang pada 1292.
Kerajaan Singosari berpusat di wilayah Singosari, Malang, Jawa Timur. Dalam perjalanan sejarahnya, kerajaan ini dikenal bukan hanya karena keberhasilannya memperluas kekuasaan, tetapi juga karena pergantian takhta yang diwarnai intrik politik dan pembunuhan antarkeluarga kerajaan.
Riwayat berdirinya Singosari banyak mengacu pada Serat Pararaton dan Kitab Negarakertagama. Kedua sumber tersebut menjadi rujukan penting dalam menelusuri asal-usul kerajaan yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya Majapahit.
Awalnya Bernama Kerajaan Tumapel
Sebelum dikenal sebagai Singosari, kerajaan ini bernama Tumapel. Nama Singosari baru digunakan setelah Tumapel berhasil menaklukkan Kerajaan Kediri.
Perubahan nama tersebut membuat Singosari lebih populer dibanding Tumapel. Hingga kini, nama Singosari lebih dikenal dalam catatan sejarah Indonesia.
Menurut Serat Pararaton, pendiri kerajaan ini adalah Ken Arok. Tokoh tersebut diceritakan sebagai putra Ken Endok, seorang perempuan dari Desa Pangkur di sebelah timur Gunung Kawi.
Dalam naskah itu juga disebutkan bahwa Ken Arok bukan berasal dari benih suami Ken Endok, melainkan dari Dewa Brahma. Kisah tersebut menjadi bagian dari legenda yang mengiringi lahirnya pendiri Kerajaan Singosari.
Setelah dilahirkan, bayi Ken Arok dikisahkan dibuang di sebuah pemakaman. Bayi itu kemudian ditemukan oleh seorang pencuri bernama Lembong yang mengangkatnya sebagai anak.
Lembong sangat menyayangi Ken Arok. Bahkan ketika mencuri, ia kerap membawa anak angkatnya itu.
Masa Muda Ken Arok
Saat beranjak dewasa, Ken Arok dikenal memiliki sifat yang sulit diatur. Ia gemar berjudi hingga menghabiskan harta milik Lembong.
Akibat perbuatannya, Ken Arok meninggalkan Pangkur dan berpindah ke Desa Lebak. Di sana ia bekerja sebagai penggembala kerbau.
Namun nasib buruk kembali menimpanya. Seluruh kerbau yang digembalakannya hilang sehingga Lembong harus menanggung kerugian tersebut.
Peristiwa itu membuat Ken Arok kembali meninggalkan desa. Ia kemudian menjalani kehidupan sebagai pelarian yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain.
Dalam pengembaraannya, Ken Arok bertemu Dang Hyang Lohgawe, seorang pertapa dari Jambudwipa, India.
Lohgawe kemudian mengangkat Ken Arok sebagai anak. Tidak lama setelah itu, keduanya datang ke Tumapel dan menghadap Tunggul Ametung yang saat itu menjabat sebagai akuwu atau penguasa wilayah Tumapel.
Kisah Ken Dedes dan Tunggul Ametung
Di lingkungan pemerintahan Tumapel, Ken Arok mulai mengabdi kepada Tunggul Ametung.
Di sinilah kisah yang menjadi awal berdirinya Kerajaan Singosari bermula.
Ken Arok jatuh hati kepada istri Tunggul Ametung, yakni Ken Dedes.
Perasaan tersebut mendorongnya menyusun rencana untuk menyingkirkan sang akuwu.
Ia memesan sebilah keris kepada Mpu Gandring yang kemudian digunakan untuk membunuh Tunggul Ametung.
Saat peristiwa itu terjadi, Ken Dedes tengah mengandung anak Tunggul Ametung yang kelak diberi nama Anusapati.
Tidak lama setelah Tunggul Ametung meninggal, Ken Arok menikahi Ken Dedes.
Selain menjadikan Ken Dedes sebagai permaisuri, Ken Arok juga memperistri Ken Umang.
Dengan dukungan para Brahmana, Ken Arok kemudian melakukan kudeta terhadap Raja Kediri, Sri Kertajaya.
Keberhasilannya mengalahkan Kediri membuat Tumapel terbebas dari kekuasaan kerajaan tersebut.
Ken Arok kemudian naik takhta sebagai raja pertama Tumapel.
Dalam Prasasti Kudadu disebutkan, saat menjadi raja ia menggunakan gelar Rangga Rajasa Sang Girinathaputra. Sementara dalam Kitab Negarakertagama, ia dikenal dengan gelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi.
Keberadaan Ken Arok sebagai tokoh sejarah juga diperkuat oleh Prasasti Mula Malurung yang bertarikh 1255. Meski prasasti tersebut tidak secara langsung menyebut nama Ken Arok, keberadaannya menjadi bukti bahwa tokoh pendiri Singosari bukan sekadar legenda dalam Serat Pararaton.
Perebutan Takhta Berdarah Setelah Wafatnya Ken Arok
Masa pemerintahan Ken Arok tidak berakhir dengan damai. Menurut Serat Pararaton, Anusapati akhirnya mengetahui bahwa ayah kandungnya, Tunggul Ametung, tewas di tangan Ken Arok.
Keterangan tersebut diperoleh Anusapati dari ibunya, Ken Dedes. Ia juga mengetahui bahwa Ken Arok lebih menyayangi anak-anak kandungnya daripada dirinya.
Setelah mengetahui kenyataan itu, Anusapati meminta keris Mpu Gandring yang pernah digunakan untuk membunuh Tunggul Ametung.
Tidak lama kemudian, Anusapati memerintahkan seorang abdi dari Desa Batil untuk membunuh Ken Arok menggunakan keris tersebut.
Ken Arok akhirnya tewas setelah ditikam dari belakang ketika berada di ruang makan. Peristiwa itu menjadi awal rangkaian perebutan kekuasaan yang terus terjadi di lingkungan keluarga kerajaan.
Seusai kematian Ken Arok, Anusapati naik takhta sebagai raja kedua Tumapel dengan gelar Batara Anusapati.
Menurut Serat Pararaton, Anusapati memerintah pada periode 1247 hingga 1249.
Namun masa pemerintahannya juga tidak berlangsung lama. Ia kemudian dibunuh oleh Tohjaya, putra Ken Arok dari Ken Umang.
Tohjaya ingin membalas kematian ayahnya sekaligus merebut takhta Tumapel. Dengan bantuan seorang pengalasan dari Desa Batil, Anusapati akhirnya tewas menggunakan keris Mpu Gandring.
Setelah itu, Tohjaya menjadi raja Tumapel pada tahun 1249.
Kudeta Tohjaya dan Munculnya Wisnuwardhana
Meski berhasil menjadi raja, Tohjaya menghadapi ancaman dari keturunan Anusapati.
Pranaraja disebut terus menghasut Tohjaya agar menyingkirkan Ranggawuni, putra Anusapati, serta Mahisa Campaka yang dianggap dapat mengancam kekuasaannya.
Tohjaya kemudian memerintahkan Lembu Ampal untuk melaksanakan rencana tersebut.
Namun, Lembu Ampal justru berbalik mendukung Ranggawuni dan Mahisa Campaka.
Keduanya kemudian melakukan kudeta terhadap pemerintahan Tohjaya.
Menurut Serat Pararaton, Tohjaya meninggal di Katang Lumbang pada tahun 1172 Saka.
Berakhirnya pemerintahan Tohjaya membuka jalan bagi Ranggawuni untuk menjadi penguasa baru.
Ranggawuni kemudian naik takhta dengan nama Wisnuwardhana.
Pada masa pemerintahannya, pusat pemerintahan dipindahkan dari Kutaraja ke Singosari.
Sejak saat itu, nama Singosari semakin dikenal dan perlahan menggantikan penyebutan Tumapel sebagai nama kerajaan.
Mahisa Campaka yang ikut membantu Ranggawuni memperoleh kedudukan sebagai Ratu Angabhaya dengan gelar Batara Narasinga.
Dalam Serat Pararaton, keduanya diibaratkan sebagai sepasang naga yang hidup dalam satu liang, menggambarkan eratnya kerja sama mereka dalam memimpin kerajaan.
Awal Kejayaan Kerajaan Singosari
Masa pemerintahan Wisnuwardhana menjadi titik awal kebangkitan Singosari.
Selain berhasil menyatukan kembali wilayah Singosari dan Kediri, ia menjalankan sejumlah kebijakan untuk memperkuat kerajaan.
Transkrip menyebutkan tiga langkah besar yang dilakukan pada masa pemerintahannya.
Pertama, meresmikan Pelabuhan Canggu di Mojokerto.
Kedua, memindahkan ibu kota kerajaan dari Kutaraja ke Singosari.
Ketiga, menumpas pemberontakan Linggapati.
Namun, Serat Pararaton memberikan keterangan berbeda mengenai Pelabuhan Canggu.
Dalam naskah tersebut disebutkan bahwa Wisnuwardhana membangun benteng pertahanan di kawasan Canggu bagian utara, bukan meresmikan pelabuhan.
Perbedaan itu menunjukkan adanya variasi sumber dalam menjelaskan kebijakan pemerintahan Wisnuwardhana.
Meski demikian, kedua sumber sama-sama menggambarkan bahwa Singosari mulai memperkuat posisinya sebagai kerajaan yang lebih besar dibanding masa sebelumnya.
Pada masa ini pula hubungan dengan wilayah luar mulai berkembang melalui jalur laut.
Selain memperluas jaringan, Wisnuwardhana juga berhasil memadamkan pemberontakan Linggapati pada tahun 1252.
Menurut transkrip, kemenangan tersebut terjadi karena pasukan pemberontak berhasil disusupi Mahisa Bungalan.
Serat Pararaton menyebut Wisnuwardhana wafat pada tahun 1272, sedangkan Kitab Negarakertagama mencatat tahun 1271.
Setelah wafat, arwahnya dicandikan sebagai Siwa di Weleri dan sebagai Buddha di Jajaghu.
Sepeninggal Wisnuwardhana, takhta Kerajaan Singosari diteruskan oleh putranya, Kertanegara.
Kertanegara kemudian menjadi raja terakhir sekaligus salah satu penguasa terbesar dalam sejarah Singosari.
Puncak Kejayaan Singosari di Bawah Kertanegara
Sepeninggal Wisnuwardhana, Kertanegara naik takhta sebagai Raja Singosari. Ia merupakan raja terakhir dari Wangsa Rajasa dan sebelumnya pernah menjabat sebagai raja muda di Kediri pada tahun 1254.
Dalam Serat Pararaton, Kertanegara dikenal sebagai Batara Siwa Buddha karena menyatukan ajaran Hindu aliran Siwa dengan Buddha aliran Tantrayana. Transkrip juga menyebutkan bahwa berdasarkan kisah dalam naskah Tidung, Kertanegara kerap menggelar ritual yang disertai pesta minuman keras.
Di bidang politik, Kertanegara dikenal sebagai penguasa yang memiliki cita-cita besar untuk menyatukan wilayah-wilayah di Nusantara.
Gagasan tersebut diwujudkan melalui perluasan wilayah kekuasaan Singosari. Pada tahun 1275, ia mengirim pasukan untuk menaklukkan Sriwijaya dalam ekspedisi yang dikenal sebagai Ekspedisi Pamalayu.
Selain itu, pengaruh Singosari juga meluas ke Champa setelah Kertanegara menikahkan putrinya dengan raja di wilayah tersebut.
Menurut transkrip, berbagai langkah tersebut membuat kekuasaan Singosari semakin luas dan memperkuat posisi kerajaan di kawasan Nusantara.
Kepemimpinan Tegas Memicu Gejolak Politik
Kertanegara digambarkan sebagai pemimpin yang tegas terhadap bawahannya. Seluruh cita-cita kerajaan harus mendapat dukungan dari para pejabat dan punggawa.
Mereka yang menentang kebijakan raja dapat dikenai sanksi berupa penurunan pangkat, mutasi jabatan, bahkan pemberhentian secara tidak hormat.
Serat Pararaton menyebut Mpu Raganata pernah diturunkan jabatannya dari Rakryan Patih menjadi Tumenggung Yaksa karena menentang kebijakan raja.
Jabatan patih kemudian diberikan kepada Kebo Anengah dan Panji Aragani.
Nasib serupa juga dialami Arya Wiraraja. Karena berbeda pandangan dengan Kertanegara, ia dimutasi ke Sumenep dan kedudukannya diturunkan menjadi bupati.
Perubahan susunan pejabat kerajaan memunculkan ketidakpuasan di kalangan elite Singosari.
Transkrip menyebutkan bahwa Kelana Bhayangkara melakukan pemberontakan pada tahun 1278, disusul pemberontakan Maisaroh Angka pada tahun 1280.
Meski kedua pemberontakan itu berhasil dipadamkan, kondisi politik di dalam kerajaan mulai menunjukkan tanda-tanda tidak stabil.
Konflik dengan Kubilai Khan dan Akhir Kerajaan Singosari
Saat sebagian besar pasukan Singosari dikerahkan untuk mendukung Ekspedisi Pamalayu, pertahanan kerajaan menjadi berkurang.
Di tengah situasi tersebut, pada tahun 1289 datang utusan Kubilai Khan dari Mongolia yang membawa surat agar Kertanegara mengakui kekuasaan Kekaisaran Mongol.
Isi surat itu membuat Kertanegara murka. Ia kemudian melukai wajah utusan tersebut dengan memotong telinganya.
Menyadari tindakannya akan memicu balasan dari Mongolia, Kertanegara memperkuat kekuatan militernya di Sumatera.
Namun ancaman terbesar justru datang dari dalam negeri.
Pada tahun 1292, Jayakatwang, Bupati Gelang-Gelang yang masih memiliki hubungan keturunan dengan Raja Kertajaya, melancarkan pemberontakan.
Menurut transkrip, pemberontakan itu mendapat dukungan Arya Wiraraja yang menyimpan kekecewaan terhadap Kertanegara.
Jayakatwang juga memperoleh bantuan dari Kebo Mundarang serta Ardharaja yang merupakan putra Jayakatwang sekaligus menantu Kertanegara.
Berbeda dengan berbagai pemberontakan sebelumnya, serangan Jayakatwang berhasil menggulingkan pemerintahan Singosari.
Kertanegara yang saat itu sedang mengadakan pesta minuman keras akhirnya terbunuh bersama sejumlah pejabat kerajaan, di antaranya Mpu Raganata, Patih Kebo Anengah, dan Panji Aragani.
Sementara itu, Raden Wijaya berhasil melarikan diri ke Sumenep.
Menurut Kitab Negarakertagama, setelah wafat, arwah Kertanegara dicandikan bersama istrinya sebagai Wiracana dan Locana dengan lambang Arca Ardhanareswari.
Lahirnya Majapahit sebagai Penerus Singosari
Seusai kematian Kertanegara, Jayakatwang menguasai Singosari dengan Daha sebagai pusat pemerintahannya.
Namun kekuasaannya tidak berlangsung lama.
Pada tahun 1293, Raden Wijaya mendirikan Kerajaan Majapahit dan menyerang Jayakatwang dengan memanfaatkan bantuan pasukan Mongol.
Setelah Jayakatwang berhasil dikalahkan, pasukan Mongol justru diserang balik oleh pihak Majapahit hingga akhirnya meninggalkan Pulau Jawa.
Menurut Kitab Pararaton dan Kidung Panji Wijayakrama, Jayakatwang yang telah menyerah kemudian ditawan di benteng pertahanan Mongol di Ujung Galuh.
Berakhirnya pemerintahan Jayakatwang sekaligus menandai lahirnya Majapahit sebagai kerajaan penerus Singosari.
Meski hanya bertahan dalam waktu yang relatif singkat, Singosari meninggalkan pengaruh besar dalam sejarah Nusantara. Kerajaan ini menjadi penghubung penting antara Kerajaan Kediri dan Majapahit, sekaligus melahirkan tokoh-tokoh yang berperan besar dalam perkembangan politik, militer, dan perluasan kekuasaan di Jawa pada abad ke-13.
Editor : Muhammad Tafrihatu Zaidan Al AkhbariSumber : HRP