MALANG – Sejarah Kerajaan Singosari menjadi salah satu kisah paling penting dalam perjalanan kerajaan Hindu-Buddha di Nusantara. Berawal dari berdirinya Kerajaan Tumapel oleh Ken Arok pada 1222, kerajaan ini berkembang menjadi kekuatan besar di Jawa Timur sebelum mencapai puncak kejayaan pada masa Kertanegara dan akhirnya menjadi cikal bakal lahirnya Kerajaan Majapahit.
Kerajaan Singosari dikenal sebagai salah satu kerajaan besar yang pernah berdiri di wilayah Jawa Timur. Dalam perjalanan sejarahnya, kerajaan ini tidak hanya diwarnai oleh perluasan kekuasaan, tetapi juga kisah peperangan, pengkhianatan, balas dendam, serta perebutan takhta yang berlangsung antargenerasi.
Hubungan antara Singosari dan Majapahit juga tidak dapat dipisahkan. Dari kerajaan inilah lahir sejumlah tokoh yang kemudian berperan penting dalam sejarah Nusantara.
Sejarah awal Kerajaan Singosari banyak diuraikan dalam Kitab Pararaton. Meski kerap disebut sebagai karya sastra yang memuat unsur legenda, naskah tersebut tetap menjadi salah satu rujukan utama dalam menelusuri asal-usul berdirinya Singosari.
Berdasarkan kisah yang dikutip dalam transkrip, Ken Arok lahir pada tahun 1182. Ia disebut sebagai putra Gajah Para, seorang pejabat di wilayah kekuasaan Kerajaan Kediri, dengan seorang perempuan dari Desa Pangkur bernama Ken Endok.
Gajah Para meninggal ketika Ken Endok masih mengandung. Dalam perjalanan menuju Kediri, bayi Ken Arok kemudian dibuang di sebuah pemakaman.
Bayi itu ditemukan oleh seorang pencuri bernama Lembong yang kemudian mengasuh dan membesarkannya.
Ken Arok Tumbuh Menjadi Sosok Pemberani
Masa muda Ken Arok digambarkan jauh dari kehidupan bangsawan. Ia tumbuh sebagai sosok yang gemar berjudi dan kerap melakukan aksi perampokan.
Hingga akhirnya, perjalanan hidupnya berubah ketika bertemu seorang Brahmana bernama Lohgawe yang diyakini datang dari India.
Menurut kisah dalam transkrip, Lohgawe sedang mencari sosok yang dipercaya sebagai titisan Dewa Wisnu di Pulau Jawa.
Setelah bertemu Ken Arok, Lohgawe meyakini bahwa pemuda tersebut merupakan orang yang selama ini dicarinya.
Ia bahkan meramalkan Ken Arok kelak akan menjadi penguasa besar.
Lohgawe kemudian mengajak Ken Arok menuju Tumapel untuk mengabdi kepada penguasanya saat itu, yakni Tunggul Ametung.
Atas permintaan Lohgawe, Tunggul Ametung menerima Ken Arok sebagai pengawal pribadinya.
Status Lohgawe sebagai seorang Brahmana membuat permintaan tersebut sulit ditolak.
Pertemuan dengan Ken Dedes Mengubah Jalan Hidup Ken Arok
Di lingkungan pemerintahan Tumapel, Ken Arok mulai mengenal istri Tunggul Ametung yang bernama Ken Dedes.
Ken Dedes merupakan putri tunggal seorang pendeta Buddha bernama Mpu Purwa yang tinggal di lereng Gunung Kawi, di wilayah perbatasan Malang dan Blitar.
Suatu hari, saat mendampingi Tunggul Ametung dan Ken Dedes, Ken Arok melihat kain Ken Dedes tersingkap ketika turun dari kereta.
Peristiwa itu menjadi titik balik dalam kehidupannya.
Menurut kisah dalam Pararaton, Ken Arok melihat cahaya memancar dari tubuh Ken Dedes.
Ia kemudian menceritakan pengalaman tersebut kepada Lohgawe.
Sang Brahmana menjelaskan bahwa cahaya tersebut menandakan Ken Dedes adalah perempuan pilihan yang akan melahirkan raja-raja besar di tanah Jawa.
Ramalan itu membuat Ken Arok semakin yakin bahwa masa depannya berkaitan dengan Ken Dedes.
Selain jatuh hati kepada istri Tunggul Ametung, ia juga melihat peluang untuk menjadi penguasa Tumapel.
Keinginan itu mendorong Ken Arok menyusun rencana untuk menyingkirkan atasannya sendiri.
Pembunuhan Tunggul Ametung dan Berdirinya Tumapel
Meski Lohgawe tidak menyetujui niat tersebut, tekad Ken Arok tidak berubah.
Ia kemudian memesan sebilah keris kepada Mpu Gandring, seorang pembuat keris terkenal dari wilayah yang kini berada di sekitar Blitar.
Namun sebelum keris itu selesai sepenuhnya, Ken Arok justru membunuh Mpu Gandring dan membawa senjata tersebut.
Pada tahun 1222, Ken Arok menjalankan rencananya.
Menurut Pararaton, Tunggul Ametung dibunuh ketika sedang tertidur.
Agar tidak dicurigai sebagai pelaku, Ken Arok mengalihkan tuduhan kepada Kebo Ijo, sahabat sekaligus abdi setia Tunggul Ametung.
Siasat itu berhasil karena sebelumnya Kebo Ijo pernah memamerkan keris Mpu Gandring kepada banyak orang.
Setelah Tunggul Ametung meninggal, Ken Arok menikahi Ken Dedes yang saat itu tengah mengandung anak Tunggul Ametung.
Transkrip juga menyebutkan bahwa Ken Dedes tidak mencintai Tunggul Ametung dan menjalani pernikahan tersebut karena keterpaksaan.
Usai menikahi Ken Dedes, Ken Arok mendeklarasikan berdirinya Kerajaan Tumapel pada tahun 1222.
Ia menggunakan gelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi dan mulai membangun kekuatan politik untuk melepaskan Tumapel dari pengaruh Kerajaan Kediri.
Ken Arok Menaklukkan Kediri dan Memulai Wangsa Rajasa
Setelah mendirikan Kerajaan Tumapel, Ken Arok tidak berhenti memperkuat kekuasaannya. Ia bertekad membebaskan wilayah Tumapel dari pengaruh Kerajaan Kediri yang saat itu masih menjadi kekuatan utama di Jawa.
Ambisi tersebut berujung pada Perang Ganter, yakni pertempuran antara pasukan Tumapel yang dipimpin Ken Arok melawan Kerajaan Kediri di bawah Raja Kertajaya.
Menurut transkrip, perang itu dimenangkan oleh Tumapel. Kemenangan tersebut membuat wilayah kekuasaan Ken Arok semakin luas sekaligus mengakhiri dominasi Kerajaan Kediri.
Sejak saat itu, Ken Arok dikenal sebagai penguasa Tumapel sekaligus pendiri Wangsa Rajasa, dinasti yang kemudian melahirkan sejumlah raja besar di Nusantara.
Masa pemerintahannya berlangsung cukup lama, yakni sejak tahun 1222 hingga 1247.
Namun perjalanan pemerintahannya berakhir tragis akibat dendam yang telah lama dipendam oleh Anusapati.
Dendam Anusapati Berujung pada Kematian Ken Arok
Anusapati merupakan putra Ken Dedes dari pernikahannya dengan Tunggul Ametung.
Setelah mengetahui bahwa ayah kandungnya tewas di tangan Ken Arok, Anusapati memutuskan membalas dendam.
Menurut kisah dalam Pararaton, ia menggunakan keris Mpu Gandring, senjata yang sama yang pernah dipakai untuk membunuh Tunggul Ametung.
Ken Arok akhirnya tewas pada tahun 1247.
Dalam transkrip disebutkan bahwa jenazah Ken Arok diyakini disemayamkan di Candi Kagenengan, Malang, Jawa Timur.
Selain menceritakan pergantian kekuasaan, transkrip juga menjelaskan silsilah keluarga Ken Arok.
Dari pernikahannya dengan Ken Dedes, Ken Arok memiliki empat orang anak, yaitu Mahisa Wongateleng, Panji Agnibaya, Dewi Rimbi, serta keturunan lainnya sebagaimana disebutkan dalam transkrip.
Sementara dari pernikahannya dengan Ken Umang, ia memiliki empat anak, di antaranya Panji Tohjaya, Panji Sudatu, Tuan Regola, dan Dewi Rapi.
Konflik keluarga inilah yang kemudian terus memengaruhi perjalanan politik Kerajaan Tumapel.
Tohjaya, Wisnuwardhana, dan Perubahan Nama Menjadi Singosari
Setelah Ken Arok meninggal, Anusapati naik takhta.
Namun kekuasaannya tidak berlangsung lama.
Tohjaya, putra Ken Arok dari Ken Umang, kemudian membalas kematian ayahnya dengan membunuh Anusapati menggunakan keris Mpu Gandring pada tahun 1249.
Tohjaya selanjutnya menjadi penguasa Kerajaan Tumapel.
Sepeninggal Tohjaya, kekuasaan berpindah kepada Ranggawuni, putra Anusapati.
Ketika naik takhta, Ranggawuni menggunakan gelar Sri Jaya Wisnuwardhana.
Menurut transkrip, masa pemerintahan Wisnuwardhana membawa ketenteraman dan kemajuan bagi kerajaan.
Salah satu kebijakan penting yang diambil adalah mengangkat putranya, Kertanegara, sebagai raja muda atau yuwaraja pada tahun 1254.
Langkah tersebut dilakukan sebagai persiapan suksesi kepemimpinan.
Pada masa inilah ibu kota kerajaan dipindahkan dari Kutaraja ke Singosari yang kini menjadi bagian dari Kabupaten Malang.
Perpindahan pusat pemerintahan membuat nama Kerajaan Tumapel lambat laun tergantikan oleh Kerajaan Singosari.
Sejak saat itu, Singosari menjadi nama yang lebih dikenal dalam berbagai catatan sejarah.
Wisnuwardhana wafat pada tahun 1268.
Menurut transkrip, jenazahnya dimakamkan di Candi Jago.
Setelah itu, Kertanegara naik takhta tanpa melalui perebutan kekuasaan maupun pertumpahan darah.
Ia menjadi satu-satunya raja Singosari yang menerima suksesi secara damai.
Kertanegara Membawa Singosari ke Masa Kejayaan
Di bawah pemerintahan Kertanegara, Singosari mencapai puncak kejayaannya.
Raja terakhir Singosari tersebut menjalankan kebijakan ekspansi untuk memperluas pengaruh kerajaan ke luar Pulau Jawa.
Salah satu langkah terbesarnya adalah mengirim Ekspedisi Pamalayu yang berhasil menaklukkan sejumlah kerajaan di luar Jawa.
Keberhasilan ekspedisi itu, menurut transkrip, kemudian diabadikan melalui keberadaan Arca Amoghapasa sebagai simbol hubungan erat antara Kertanegara di Jawa dan Kerajaan Dharmasraya di Sumatera.
Kerja sama tersebut juga menjadi bagian dari upaya menghadapi ancaman ekspansi bangsa Mongol ke wilayah Nusantara.
Selain memperkuat hubungan dengan Sumatera, Kertanegara juga membangun hubungan internasional dengan kerajaan-kerajaan di luar Jawa sebagai bagian dari strategi memperkuat posisi Singosari.
Menolak Tunduk kepada Kubilai Khan
Pada masa pemerintahan Kertanegara, ancaman dari luar mulai datang. Menurut transkrip, pada tahun 1280 dan 1281 Kubilai Khan menghendaki agar Jawa tunduk di bawah kekuasaan Dinasti Yuan.
Kertanegara memilih mengambil sikap berbeda. Ia menolak tunduk kepada Kubilai Khan dan justru menggagas perlawanan terhadap kekuatan Mongol.
Untuk memperkuat posisinya, Kertanegara mengajak kerajaan-kerajaan di luar Jawa membangun kerja sama menghadapi ancaman tersebut.
Ia juga menjalin hubungan internasasional hingga ke Kamboja serta menjadikan wilayah kekuasaan Singosari sebagai tempat perlindungan bagi kerajaan yang terancam serangan Mongol.
Kebijakan itu semakin memperkuat pengaruh Singosari di kawasan Nusantara. Namun di sisi lain, perhatian besar terhadap urusan luar negeri membuat pertahanan di dalam kerajaan mulai melemah.
Lemahnya Pertahanan Dalam Negeri Dimanfaatkan Jayakatwang
Menurut transkrip, penyebab utama runtuhnya Kerajaan Singosari adalah lemahnya sistem pertahanan internal.
Kertanegara terlalu banyak mengirim pasukan untuk mendukung Ekspedisi Pamalayu sehingga kekuatan militer di pusat kerajaan berkurang.
Situasi tersebut dimanfaatkan oleh Jayakatwang, Bupati Gelang-Gelang, untuk melancarkan pemberontakan.
Serangan itu berhasil menggulingkan pemerintahan Singosari.
Kertanegara terbunuh dalam peristiwa tersebut sehingga berakhirlah kekuasaan Kerajaan Singosari.
Transkrip menyebutkan bahwa setelah wafat, Kertanegara didharmakan di Candi Jawi dan Candi Singosari.
Kematian raja terakhir Singosari menjadi penutup perjalanan salah satu kerajaan terbesar yang pernah berdiri di Jawa Timur.
Raden Wijaya Mendirikan Kerajaan Majapahit
Di tengah kekacauan akibat pemberontakan, Raden Wijaya yang merupakan menantu Kertanegara berhasil menyelamatkan diri ke Madura.
Ia kemudian memperoleh perlindungan dari Arya Wiraraja, seorang bupati di Madura.
Kejatuhan Singosari mendorong Raden Wijaya menyusun strategi untuk merebut kembali kekuasaan.
Menurut transkrip, ia bergabung dengan pasukan Mongol yang datang sebagai bagian dari ekspedisi Kubilai Khan.
Namun Raden Wijaya tidak memberitahukan bahwa Kertanegara telah gugur akibat pemberontakan Jayakatwang.
Pasukan gabungan tersebut kemudian menyerang Jayakatwang hingga berhasil mengalahkannya.
Jayakatwang tewas dalam peperangan yang mengakhiri kekuasaannya.
Sesudah kemenangan itu, Raden Wijaya justru berbalik menyerang pasukan Mongol.
Serangan mendadak tersebut memaksa pasukan Kubilai Khan meninggalkan Pulau Jawa dan kembali ke negeri asalnya.
Warisan Singosari Berlanjut ke Majapahit
Setelah berhasil mengusir pasukan Mongol, Raden Wijaya tidak menghidupkan kembali Kerajaan Singosari.
Sebaliknya, ia mendirikan kerajaan baru di wilayah berbeda dengan nama Kerajaan Majapahit.
Berdirinya Majapahit menjadi penanda berakhirnya sejarah Kerajaan Singosari sekaligus membuka babak baru dalam sejarah Nusantara.
Berdasarkan transkrip, perjalanan Singosari memperlihatkan bagaimana sebuah kerajaan dapat berkembang dari wilayah kecil bernama Tumapel hingga menjadi kekuatan besar di Jawa.
Kerajaan ini melahirkan tokoh-tokoh penting seperti Ken Arok, Wisnuwardhana, dan Kertanegara yang memiliki peran besar dalam perubahan politik pada masanya.
Di sisi lain, sejarah Singosari juga menunjukkan bahwa konflik internal, perebutan takhta, serta lemahnya pertahanan dalam negeri dapat menjadi penyebab runtuhnya sebuah kerajaan, meskipun sebelumnya berada di puncak kejayaan.
Hubungan erat antara Singosari dan Majapahit menjadikan kerajaan ini sebagai salah satu mata rantai terpenting dalam sejarah kerajaan-kerajaan besar di Indonesia.
Editor : Muhammad Tafrihatu Zaidan Al AkhbariSumber : PENA MEDIA