MALANG - Raja Kertanegara dikenang sebagai penguasa terakhir Kerajaan Singasari yang membawa kerajaannya mencapai puncak kejayaan. Di bawah pemerintahannya sejak 1268 hingga 1292 Masehi, Singasari memperluas pengaruh ke berbagai wilayah Nusantara, menggelar Ekspedisi Pamalayu, menaklukkan Bali, hingga menolak tunduk kepada Kekaisaran Mongol di bawah Kubilai Khan. Namun, masa kekuasaannya berakhir setelah gugur dalam pemberontakan Jayakatwang.
Berdasarkan paparan JinggLang Channel, sebelum menjadi raja Singasari, Kertanegara lebih dahulu diangkat sebagai raja muda berdasarkan Prasasti Mula Malurung. Dalam prasasti tersebut, ia menggunakan gelar abhiseka Sri Maharaja Sri Loka Wijaya Purushottama Wira Asta Basudewa Diva Anyeswara Wirya Nindita Parakrama Digjaya Uttunggadewa.
Sementara itu, Prasasti Padang Roco yang bertarikh 1286 menyebut Kertanegara bergelar Sri Maharajadiraja Kertanegara Wikrama Dharmottunggadewa. Ia naik takhta menggantikan ayahnya, Wisnuwardhana, pada 1268 Masehi dan menurut Kitab Pararaton menjadi satu-satunya raja Singasari yang naik takhta tanpa melalui perebutan kekuasaan.
Singasari Berawal dari Kerajaan Tumapel
Dalam video dijelaskan bahwa Kerajaan Singasari merupakan kerajaan bercorak Hindu-Buddha yang berada di wilayah Malang, Jawa Timur.
Kerajaan tersebut didirikan oleh Ken Arok pada 1222 Masehi. Sebagai raja pertama, Ken Arok memakai gelar Sri Rajasa Bhatara Sang Amurwabumi.
Mengacu pada Prasasti Kudadu, nama resmi kerajaan sebenarnya adalah Tumapel. Sementara menurut Kitab Negarakertagama, ibu kota Tumapel pada awal berdiri bernama Kutaraja.
Perubahan terjadi pada 1254 ketika Raja Wisnuwardhana mengangkat putranya, Kertanegara, sebagai raja muda sekaligus mengganti nama ibu kota menjadi Singasari.
Nama ibu kota itu kemudian lebih dikenal dibandingkan nama Tumapel. Akibatnya, kerajaan tersebut juga lebih populer dengan nama Kerajaan Singasari.
Nama Tumapel juga disebut muncul dalam kronik Dinasti Yuan dari Tiongkok dengan ejaan "Tu Ma Pan".
Raja Pertama yang Mengarahkan Pandangan ke Luar Jawa
Kertanegara disebut sebagai raja pertama di Jawa yang memiliki visi memperluas kekuasaan hingga mencakup wilayah Nusantara.
Untuk mewujudkan ambisi tersebut, pada 1275 ia mengirim Ekspedisi Pamalayu.
Ekspedisi itu bertujuan memperkuat pengaruh Singasari di Sumatra, terutama di kawasan Selat Malaka yang memiliki nilai ekonomi dan politik penting.
Selain memperluas wilayah, ekspedisi tersebut juga dimaksudkan sebagai langkah menghadapi ekspansi bangsa Mongol yang ketika itu menguasai sebagian besar daratan Asia.
Dalam beberapa catatan sejarah yang disebutkan dalam video, Ekspedisi Pamalayu juga bertujuan menjalin kekuatan bersama kerajaan-kerajaan di Sumatra untuk menghadapi ancaman Dinasti Yuan.
Saat itu, wilayah kekuasaan Mongol membentang dari Korea hingga Rusia, Timur Tengah, dan Eropa Timur. Kekaisaran tersebut juga mulai melakukan ekspansi ke Jepang dan Jawa.
Karena itu, pengiriman pasukan ke Sumatra dipandang sebagai upaya menghadang armada Mongol sebelum memasuki perairan Jawa.
Ekspedisi Pamalayu dan Hubungan Diplomatik
Pengiriman pasukan ke Sumatra dilakukan pada 1275 di bawah pimpinan Kebo Anabrang.
Dalam video disebutkan bahwa pada 1286 wilayah Bumi Melayu berhasil ditundukkan.
Setelah itu, Kertanegara mengirim utusan yang dipimpin Rakryan Mahamantri Dyah Adwaya Brahma dengan membawa Arca Amoghapasa.
Arca tersebut diberikan sebagai tanda persahabatan sekaligus hubungan diplomatik dengan Kerajaan Dharmasraya.
Saat itu Dharmasraya dipimpin Sri Maharaja Srimat Tribhuwanaraja Mauliwarmadewa.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan politik Singasari dengan wilayah di luar Pulau Jawa.
Menaklukkan Bali dan Menolak Kubilai Khan
Selain mengirim ekspedisi ke Sumatra, Kertanegara juga berhasil menaklukkan Bali pada 1284.
Dalam video dijelaskan bahwa raja Bali kemudian dibawa sebagai tawanan ke Singasari.
Lima tahun kemudian, tepatnya pada 1289, utusan Kubilai Khan bernama Meng Qi datang ke Singasari.
Utusan itu meminta Kertanegara mengakui kekuasaan Mongol dan mengirim upeti setiap tahun.
Permintaan tersebut ditolak.
Bahkan, dalam salah satu riwayat yang dikutip dalam video, Kertanegara disebut melukai wajah Meng Qi, bahkan memotong salah satu telinganya.
Tindakan itu membuat Kubilai Khan mengirim ekspedisi militer yang dipimpin Ike Mese untuk menyerang Singasari.
Namun ketika pasukan Mongol tiba di Jawa, Kertanegara telah lebih dahulu wafat akibat pemberontakan Jayakatwang.
Wilayah Kekuasaan Singasari
Kitab Negarakertagama yang dikutip dalam video menyebut sejumlah daerah bawahan Singasari di luar Jawa.
Wilayah tersebut meliputi Melayu, Bali, Pahang, Gurun, dan Bakulapura.
Keberhasilan memperluas pengaruh ke berbagai daerah disebut menjadi bukti ambisi Kertanegara menyatukan kerajaan-kerajaan Nusantara di bawah kekuasaan Singasari.
Pemerintahannya juga disebut berhasil membawa Singasari menjadi salah satu kerajaan Hindu-Buddha terbesar di Nusantara.
Latar Belakang Keluarga Kertanegara
Kertanegara merupakan putra Raja Wisnuwardhana.
Prasasti Mula Malurung menyebut ayahnya bernama Seminingrat, yang juga dikenal sebagai nama lain Wisnuwardhana dalam Prasasti Maribong.
Prasasti yang sama menyebut ibu Kertanegara bernama Wening Hyun.
Sementara dalam Prasasti Wurare, Kertanegara menyebut ibunya bergelar Jayawardhani.
Wening Hyun disebut merupakan cucu Ken Arok dan Ken Dedes, pendiri Kerajaan Singasari.
Dalam kehidupan keluarganya, Kertanegara menikahi Sri Bajradewi.
Ia memiliki beberapa putri yang kemudian dinikahkan dengan Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit, serta Ardharaja, putra Jayakatwang.
Negarakertagama menyebut empat putri Kertanegara yang menjadi istri Raden Wijaya, yakni Tribhuwana, Swari, Narendraduhita, Jayendradewi, dan Gayatri.
Gugur dalam Pemberontakan Jayakatwang
Akhir pemerintahan Kertanegara terjadi akibat pemberontakan Jayakatwang, Bupati Gelang-Gelang yang juga merupakan sepupu, ipar, sekaligus besannya.
Pararaton, Kidung Harsawijaya, dan Kidung Panji Wijayakrama menyebut Jayakatwang dipengaruhi Arya Wiraraja untuk melakukan pemberontakan.
Jayakatwang sendiri merupakan keturunan Kertajaya, raja terakhir Kediri yang dikalahkan Ken Arok pada 1222.
Sementara Arya Wiraraja disebut menyimpan kekecewaan setelah dimutasi ke Sumenep, Madura.
Dalam penyerangan itu, pasukan Jayakatwang dipimpin Jaran Goyang menyerang dari utara.
Kertanegara mengirim Raden Wijaya dan Ardharaja untuk menghadapi mereka.
Namun Ardharaja justru bergabung dengan pasukan ayahnya.
Serangan dari utara ternyata hanya pengalihan.
Pasukan utama Jayakatwang kemudian menyerbu Singasari dari arah selatan saat Kertanegara sedang menggelar pesta ritual keagamaan.
Kertanegara keluar menghadapi serangan tersebut dan akhirnya gugur bersama Mpu Raganata, Patih Kebo Anengah, Panji Anggraeni, serta Wirakerti.
Menurut Negarakertagama, Kertanegara kemudian dicandikan bersama istrinya di Sagala sebagai Wairocana dan Locana dengan lambang Arca Ardhanareswari.
Dalam Prasasti Wurare yang ditemukan di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur, ia juga dipuja sebagai titisan Buddha Agung oleh para keturunannya.
Editor : Muhammad Tafrihatu Zaidan Al AkhbariSumber : JinggLang Channel