MALANG - Kerajaan Singasari menjadi salah satu kerajaan besar di Nusantara yang mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Raja Kertanegara. Namun, kerajaan yang awalnya bernama Tumapel itu akhirnya runtuh pada 1292 Masehi setelah Kertanegara tewas dalam pemberontakan Jayakatwang. Peristiwa tersebut kemudian membuka jalan bagi lahirnya Kerajaan Majapahit sebagai penerus Singasari.
Kerajaan Singasari memiliki sejarah panjang sejak didirikan oleh Ken Arok. Selain dikenal karena kejayaannya di bawah kepemimpinan Kertanegara, kerajaan ini juga meninggalkan berbagai peristiwa penting, mulai dari pergantian nama kerajaan, konflik internal, hingga pemberontakan yang mengakhiri kekuasaannya.
Dalam perjalanan sejarahnya, Singasari tidak hanya menjadi pusat kekuatan politik di Jawa, tetapi juga melahirkan gagasan penyatuan Nusantara melalui Ekspedisi Pamalayu. Meski demikian, berbagai konflik di dalam kerajaan turut mempercepat keruntuhan kekuasaan Kertanegara.
Awal Berdirinya Kerajaan Singasari
Menurut penjelasan dalam video, Kerajaan Singasari didirikan oleh Ken Arok setelah membunuh Tunggul Ametung dan melakukan pemberontakan terhadap Kerajaan Kediri.
Meski lebih dikenal sebagai Kerajaan Singasari, nama sebenarnya kerajaan tersebut adalah Tumapel. Pusat pemerintahannya berada di Kota Raja.
Nama Singasari sendiri bermula ketika Kertanegara ditunjuk sebagai putra mahkota oleh ayahnya, Raja Wisnuwardhana. Pada saat itu, pusat kerajaan berganti nama menjadi Singasari.
Seiring berjalannya waktu, nama ibu kota tersebut justru lebih populer dibandingkan nama kerajaannya. Akibatnya, masyarakat terbiasa menyebut Kerajaan Tumapel sebagai Kerajaan Singasari.
Kertanegara Membawa Singasari ke Puncak Kejayaan
Kertanegara dikenal sebagai raja yang membawa Singasari memasuki masa keemasan. Di bawah kepemimpinannya, kerajaan berkembang menjadi salah satu kekuatan besar di Nusantara.
Dalam transkrip disebutkan bahwa Kertanegara bukan hanya menjadi raja yang mengangkat kejayaan Singasari, tetapi juga menjadi raja terakhir kerajaan tersebut.
Selama memerintah, Kertanegara menjadi pencetus gagasan Nusantara. Gagasan itu diwujudkan melalui Ekspedisi Pamalayu yang dikirim ke Sumatera.
Ekspedisi tersebut menjadi salah satu kebijakan penting pada masa pemerintahannya. Menurut penjelasan dalam video, gagasan Nusantara yang dirintis Kertanegara kemudian menginspirasi Mahapatih Majapahit, Patih Gajah Mada, pada masa berikutnya.
Namun, ketika berbagai ekspedisi masih berlangsung, sebagian kekuatan militer Singasari berada di luar wilayah kerajaan. Kondisi inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang ingin menjatuhkan Kertanegara.
Awal Munculnya Ancaman dari Jayakatwang
Keruntuhan Singasari bermula dari pemberontakan Jayakatwang pada 1292 Masehi. Jayakatwang merupakan Adipati Gelang-Gelang yang kini dikenal sebagai wilayah Madiun.
Pada saat itu, Gelang-Gelang masih berada di bawah kekuasaan Kerajaan Singasari. Jayakatwang juga memiliki hubungan kekerabatan dengan Kertanegara.
Menurut Prasasti Kudadu yang disebut dalam transkrip, putra Jayakatwang yang bernama Ardharaja menikah dengan salah seorang putri Kertanegara. Hubungan tersebut membuat Jayakatwang dan Kertanegara tidak hanya memiliki ikatan politik, tetapi juga menjadi besan.
Meski demikian, hubungan keluarga itu tidak menghilangkan konflik di antara keduanya. Berdasarkan catatan Pararaton, Jayakatwang menyimpan dendam terhadap keturunan Ken Arok karena leluhurnya, Kertajaya, pernah dikalahkan oleh pendiri Kerajaan Singasari.
Selain dipicu dendam lama, keputusan Jayakatwang memberontak disebut tidak lepas dari peran Arya Wiraraja. Dalam video dijelaskan, Arya Wiraraja diduga menjadi tokoh yang mendorong terjadinya pemberontakan yang kemudian mengakhiri riwayat Kerajaan Singasari.
Arya Wiraraja Disebut Berperan dalam Pemberontakan
Mengacu pada penjelasan dalam video yang mengutip buku Menuju Puncak Kemegahan karya Slamet Muljana (1965), Arya Wiraraja diduga menjadi aktor intelektual di balik pemberontakan Jayakatwang.
Arya Wiraraja sebelumnya merupakan pejabat tinggi di Kerajaan Singasari. Namun, pada masa pemerintahan Kertanegara ia dipindahkan ke Sumenep, Madura, karena kerap menentang kebijakan sang raja.
Pemindahan jabatan itu disebut membuat Arya Wiraraja menyimpan kekecewaan terhadap Kertanegara. Pada 1292 Masehi, ia menyampaikan kepada Jayakatwang bahwa saat itu merupakan waktu yang tepat untuk melancarkan pemberontakan.
Menurut penjelasan dalam transkrip, saran tersebut muncul karena kekuatan militer Singasari belum sepenuhnya berada di ibu kota. Sebagian besar pasukan masih dalam perjalanan pulang setelah menjalankan Ekspedisi Pamalayu di Sumatera.
Strategi Jayakatwang Menyerang Singasari
Mengikuti saran Arya Wiraraja, Jayakatwang menyusun strategi untuk melemahkan pertahanan Singasari.
Berdasarkan kisah dalam Pararaton, Jayakatwang mengirim pasukan yang dikenal dengan nama Jaran Goyang untuk menyerang dari arah utara.
Mendengar ancaman tersebut, Raja Kertanegara segera memerintahkan menantunya, Raden Wijaya, memimpin pasukan Singasari menghadapi serangan.
Raden Wijaya berhasil menghalau pasukan Jaran Goyang. Namun, kemenangan itu ternyata belum mengakhiri ancaman terhadap kerajaan.
Video menjelaskan bahwa pasukan Jaran Goyang hanya dijadikan pengalih perhatian. Saat sebagian besar pasukan Singasari bergerak menghadapi serangan di utara, pertahanan ibu kota menjadi jauh lebih lemah.
Kesempatan itu dimanfaatkan Jayakatwang dengan mengirim pasukan yang jauh lebih besar langsung menuju pusat Kerajaan Singasari.
Karena sebagian besar kekuatan militer masih berada bersama Raden Wijaya, pasukan Jayakatwang berhasil menduduki istana kerajaan.
Dalam serangan tersebut, Raja Kertanegara terbunuh. Wafatnya sang raja sekaligus mengakhiri perjalanan Kerajaan Singasari pada 1292 Masehi.
Setelah kemenangan itu, Jayakatwang mengambil alih kekuasaan dan menjadi raja di Kediri yang sebelumnya berada di bawah kekuasaan Singasari.
Raden Wijaya Mendirikan Kerajaan Majapahit
Kekuasaan Jayakatwang ternyata tidak berlangsung lama.
Menurut penjelasan dalam video, Raden Wijaya berhasil menyusun strategi untuk menggulingkan pemerintahan Jayakatwang.
Raden Wijaya merupakan menantu Raja Kertanegara. Dalam transkrip juga dijelaskan bahwa menurut Pustaka Raja Bumi Nusantara, nama aslinya adalah Sang Nararya Sanggramawijaya.
Ia disebut sebagai pangeran dari Kerajaan Sunda Galuh sekaligus cicit Ken Arok.
Setelah berhasil menumbangkan Jayakatwang, Raden Wijaya mendeklarasikan berdirinya Kerajaan Majapahit di Mojokerto pada tahun 1293 Masehi.
Majapahit kemudian menjadi penerus Kerajaan Singasari dan melanjutkan perjalanan sejarah kerajaan besar di Nusantara.
Kebijakan Kertanegara Memicu Ketidakpuasan
Selain dikenal membawa Singasari menuju masa keemasan, Kertanegara juga disebut melahirkan sejumlah kebijakan yang memicu kontroversi.
Dalam video dijelaskan bahwa ia kerap mengganti pejabat istana yang dianggap berseberangan dengan kebijakannya.
Sejumlah pejabat diberhentikan dari jabatannya, kemudian digantikan oleh tokoh-tokoh yang dinilai lebih mendukung pemerintahannya.
Empu Raganata, misalnya, digantikan oleh Kebo Anengah dan Panji Angragani. Sementara Arya Wiraraja dipindahkan dari jabatan sebelumnya menjadi Adipati Sumenep.
Pergantian pejabat tersebut disebut memunculkan ketidakpuasan di lingkungan istana maupun di kalangan rakyat Singasari.
Salah satu dampaknya adalah munculnya berbagai pemberontakan selama pemerintahan Kertanegara.
Menurut naskah Negarakertagama, Bhayaraja atau Jayaraja pernah melakukan pemberontakan pada 1270 Masehi.
Selanjutnya, pada 1280 Masehi terjadi pemberontakan Mahesa Ranggah yang juga disebut dalam naskah tersebut.
Meski kedua pemberontakan berhasil dipadamkan oleh Kertanegara, gejolak politik di dalam kerajaan terus terjadi hingga akhirnya berujung pada pemberontakan Jayakatwang yang mengakhiri kekuasaan Singasari.
Kontroversi Raja Kertanegara Menjelang Akhir Pemerintahannya
Di balik keberhasilannya membawa Singasari mencapai masa kejayaan, Kertanegara juga disebut sebagai sosok yang menuai kontroversi.
Dalam transkrip dijelaskan, pesta minuman keras dan pertunjukan tarian erotis yang diikuti perempuan-perempuan cantik kerap digelar di lingkungan istana sebagai bagian dari ritual suci yang dipimpin Kertanegara.
Bahkan, ketika pasukan Jayakatwang menyerang Singasari pada 1292 Masehi, Kertanegara disebut sedang menggelar pesta tersebut. Dalam serangan itu, sang raja akhirnya terbunuh sehingga riwayat Kerajaan Singasari berakhir.
Selain itu, Kertanegara juga dikenal sering melakukan perombakan jabatan di lingkungan pemerintahan. Sejumlah pejabat yang memiliki pandangan berbeda dengannya diberhentikan atau dipindahkan dari posisinya.
Menurut penjelasan dalam video yang mengutip buku Hitam Putih Ken Arok: Dari Kejayaan hingga Keruntuhan karya Muhammad Samsudin, salah seorang pejabat bahkan diturunkan jabatannya menjadi Ramadhyaksa akibat perbedaan pendapat dengan raja.
Para penggantinya diisi oleh pejabat yang dikenal lebih patuh terhadap kebijakan kerajaan. Kebijakan tersebut kemudian disebut menjadi salah satu penyebab munculnya ketidakpuasan di kalangan pejabat maupun rakyat Singasari.
Kertanegara sebagai Tokoh Penyatuan Siwa dan Buddha
Terlepas dari berbagai kontroversi yang melekat pada dirinya, Kertanegara juga dikenal sebagai tokoh yang memiliki peran penting dalam penyatuan ajaran Hindu dan Buddha.
Dalam naskah Negarakertagama, Kertanegara disebut menguasai ajaran Siwa dan Buddha. Karena itu, ia dikenal dengan sebutan Batara Siwa Buddha.
Video tersebut juga menyebutkan bahwa dalam naskah itu Kertanegara digambarkan sebagai raja yang telah terbebas dari segala dosa.
Peran tersebut menjadikan Kertanegara dikenang sebagai simbol penyatuan dua ajaran besar yang berkembang pada masa itu.
Patung Joko Dolog Menjadi Pengingat Sosok Kertanegara
Peninggalan yang dikaitkan dengan Kertanegara masih dapat dijumpai hingga kini.
Dalam transkrip dijelaskan bahwa sosok Kertanegara diabadikan dalam sebuah arca Jina Mahaksobhya atau Buddha yang kini berada di Taman Apsari, Surabaya.
Patung tersebut berasal dari Situs Kandang Gajah, Trowulan. Pada 1817, arca itu dipindahkan ke Surabaya oleh Baron Van der Capellen.
Masyarakat kemudian lebih mengenalnya dengan sebutan Patung Joko Dolog.
Keberadaan patung tersebut menjadi salah satu pengingat terhadap sosok Kertanegara yang pernah membawa Singasari mencapai masa kejayaannya sebelum akhirnya kerajaan itu runtuh.
Akhir Kerajaan Singasari dan Awal Berdirinya Majapahit
Berakhirnya Kerajaan Singasari pada 1292 Masehi menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah Nusantara.
Kematian Kertanegara di tangan Jayakatwang menandai berakhirnya kekuasaan kerajaan yang berawal dari Tumapel tersebut.
Meski demikian, berakhirnya Singasari bukan menjadi akhir dari pengaruh kerajaan itu.
Melalui Raden Wijaya, yang merupakan menantu Kertanegara, berdirilah Kerajaan Majapahit di Mojokerto pada 1293 Masehi.
Menurut penjelasan dalam video, Majapahit didirikan sebagai penerus Kerajaan Singasari. Gagasan penyatuan Nusantara yang sebelumnya dicetuskan Kertanegara melalui Ekspedisi Pamalayu kemudian menjadi inspirasi bagi perjalanan Majapahit pada masa berikutnya.
Dengan demikian, sejarah Singasari tidak hanya dikenang karena masa kejayaannya di bawah Kertanegara, tetapi juga karena menjadi mata rantai lahirnya salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah Indonesia.
Editor : Muhammad Tafrihatu Zaidan Al AkhbariSumber : ZONA KONFLIK