Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Runtuhnya Kerajaan Singasari Jadi Awal Berdirinya Majapahit, Begini Peran Raden Wijaya dan Pasukan Mongol

Muhammad Tafrihatu Zaidan Al Akhbari • Jumat, 17 Juli 2026 | 21:20 WIB
Runtuhnya Kerajaan Singasari pada 1292 Masehi menjadi awal berdirinya Majapahit. Simak peran Raden Wijaya, Jayakatwang, dan pasukan Mongol. (Youtube. com)
Runtuhnya Kerajaan Singasari pada 1292 Masehi menjadi awal berdirinya Majapahit. Simak peran Raden Wijaya, Jayakatwang, dan pasukan Mongol. (Youtube. com)

MALANG - Runtuhnya Kerajaan Singasari pada 1292 Masehi menjadi titik balik dalam sejarah Nusantara. Raja Kertanegara tewas dalam pemberontakan Jayakatwang, tetapi setahun kemudian Raden Wijaya berhasil mendirikan Kerajaan Majapahit setelah menumbangkan Jayakatwang dengan memanfaatkan bantuan pasukan Mongol sebelum akhirnya berbalik mengusir mereka dari Jawa.

Peristiwa tersebut menjadi salah satu babak penting dalam sejarah kerajaan di Indonesia. Kejatuhan Singasari bukan hanya mengakhiri kekuasaan Kertanegara, tetapi juga menjadi awal kebangkitan Majapahit yang kemudian berkembang menjadi kerajaan besar di Nusantara.

Transkrip video menjelaskan bahwa hubungan antara Singasari dan Majapahit sangat erat. Runtuhnya Singasari justru menjadi pintu lahirnya kerajaan baru yang dipimpin oleh Raden Wijaya sebagai penerus kekuasaan.

Baca Juga: Kisah Ken Arok dan Keris Empu Gandring: Tragedi Darah, Kutukan, dan Lahirnya Kerajaan Singasari yang Mengubah Sejarah Jawa

Singasari Runtuh setelah Kertanegara Gugur

Kerajaan Singasari runtuh pada tahun 1292 Masehi ketika masih berada di bawah pemerintahan Raja Kertanegara.

Dalam peristiwa tersebut, Kertanegara tewas akibat pemberontakan yang dipimpin Jayakatwang. Kematian sang raja sekaligus mengakhiri perjalanan Kerajaan Singasari.

Menurut penjelasan dalam video, sebagian besar kerabat dan bekas keluarga Kerajaan Singasari menyimpan kebencian terhadap Jayakatwang karena berhasil merebut kekuasaan.

Namun, situasi berubah setelah Jayakatwang memperoleh dukungan dari penguasa Madura. Atas bantuan tersebut, Jayakatwang mengampuni Raden Wijaya yang merupakan menantu Kertanegara.

Baca Juga: Fakta Menarik Sejarah Kerajaan Nusantara, Kerajaan-Kerajaan Besar Ini Pernah Menguasai Perdagangan Asia Tenggara

Raden Wijaya kemudian menyatakan kesediaannya mengabdi kepada Jayakatwang. Sebagai bentuk kepercayaan, ia diberikan sebidang tanah di kawasan Hutan Tarik.

Awal Berdirinya Desa Majapahit

Setelah memperoleh wilayah di Hutan Tarik, Raden Wijaya mulai membuka kawasan tersebut bersama para pengikutnya.

Lahan yang semula berupa hutan kemudian berkembang menjadi sebuah desa baru.

Desa itu diberi nama Majapahit. Nama tersebut diambil dari buah maja yang memiliki rasa pahit.

Penamaan itu kemudian menjadi asal mula nama Majapahit yang dikenal hingga sekarang.

Baca Juga: Kerajaan Majapahit Paling Terkenal karena Kekuatan Militernya, Armada dan Strateginya Membuat Lawan Segan

Meski terlihat menerima kekuasaan Jayakatwang, Raden Wijaya ternyata masih menyimpan keinginan merebut kembali kekuasaan yang sebelumnya berada di tangan keluarga Singasari.

Transkrip menjelaskan bahwa sekitar satu tahun setelah Jayakatwang menguasai Singasari, Raden Wijaya berhasil membalas kekalahan tersebut.

Pada 1293 Masehi, ia mendirikan Kerajaan Majapahit setelah berhasil menumbangkan Jayakatwang.

Kemarahan Kubilai Khan kepada Kertanegara

Keberhasilan Raden Wijaya merebut kekuasaan tidak terlepas dari kedatangan pasukan Mongol ke Pulau Jawa.

Baca Juga: Fakta Menarik Sejarah Kerajaan Nusantara, Kerajaan-Kerajaan Besar Ini Pernah Menguasai Perdagangan Asia Tenggara

Peristiwa tersebut berawal ketika Kubilai Khan, penguasa Kekaisaran Mongol sekaligus Kaisar Dinasti Yuan, mengirim utusan ke berbagai negara agar mengakui kekuasaan Mongol dan membayar upeti.

Salah satu utusan Mongol dikirim ke Jawa untuk menemui Raja Kertanegara.

Namun, menurut penjelasan dalam video, utusan tersebut tidak diterima dengan baik.

Kerajaan Singasari menolak tunduk kepada Mongol.

Sebagai bentuk penolakan, Kertanegara disebut memberikan hukuman kepada utusan tersebut dengan mengecap wajahnya menggunakan besi panas seperti hukuman bagi pencuri, memotong telinganya, lalu mengusirnya secara kasar.

Perlakuan tersebut membuat Kubilai Khan murka.

Baca Juga: Terungkap! Sejarah Kerajaan Nusantara Menyimpan Kisah Perebutan Kekuasaan dan Diplomasi yang Mengubah Jalannya Peradaban

Pada 1292 Masehi, ia memerintahkan ekspedisi militer ke Jawa untuk menghukum Kertanegara.

Misi Pasukan Mongol ke Jawa

Menurut penjelasan dalam transkrip, tujuan ekspedisi Mongol bukan semata-mata membalas penghinaan terhadap utusannya.

Kubilai Khan juga memiliki kepentingan memperluas pengaruh Dinasti Yuan di kawasan Asia.

Apabila Jawa berhasil ditaklukkan, negara-negara lain di sekitarnya diyakini akan ikut tunduk kepada Mongol.

Selain itu, letak geografis Nusantara yang strategis dinilai penting untuk menguasai jalur perdagangan laut Asia.

Untuk menjalankan misi tersebut, Kubilai Khan mengumpulkan sekitar 20.000 hingga 30.000 pasukan.

Baca Juga: Fakta Menarik Sejarah Kerajaan Nusantara, Kerajaan-Kerajaan Besar Ini Pernah Menguasai Perdagangan Asia Tenggara

Pasukan itu diberangkatkan menggunakan sekitar 500 hingga 1.000 kapal dengan perbekalan yang dipersiapkan untuk kebutuhan selama satu tahun.

Kedatangan armada besar inilah yang kemudian dimanfaatkan Raden Wijaya sebagai bagian dari strateginya merebut kembali kekuasaan dari tangan Jayakatwang.

Raden Wijaya Memanfaatkan Kedatangan Pasukan Mongol

Saat armada Mongol tiba di Jawa, situasi politik telah berubah. Raja Kertanegara yang menjadi target ekspedisi Kubilai Khan telah lebih dahulu tewas akibat pemberontakan Jayakatwang.

Menurut penjelasan dalam video, Raden Wijaya kemudian mengirim seorang utusan dari Madura untuk menemui pasukan Mongol.

Melalui utusan tersebut, Raden Wijaya menyampaikan bahwa Kertanegara telah gugur dalam kudeta istana. Kekuasaan Singasari kini berada di tangan Jayakatwang yang memerintah dari Kediri.

Baca Juga: Sejarah Kerajaan Nusantara yang Membentuk Indonesia Modern, Dari Sriwijaya hingga Majapahit Jejaknya Masih Terasa Hingga Kini

Raden Wijaya kemudian menawarkan kerja sama kepada pasukan Mongol untuk menyerang Jayakatwang.

Dalam transkrip dijelaskan bahwa sebelumnya Raden Wijaya pernah mencoba menyerang Jayakatwang sendirian. Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil.

Karena itu, kedatangan pasukan Mongol dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk memperoleh kekuatan tambahan.

Sebagai imbalannya, Raden Wijaya menyatakan kesediaannya tunduk kepada Kaisar Mongol apabila Jayakatwang berhasil dikalahkan.

Ia juga menjanjikan dua orang putri cantik kepada para komandan Mongol sebagai hadiah atas bantuan tersebut.

Baca Juga: Fakta Menarik Sejarah Kerajaan Nusantara, Kerajaan-Kerajaan Besar Ini Pernah Menguasai Perdagangan Asia Tenggara

Pasukan Gabungan Bergerak Menuju Kediri

Pada 22 Maret, seluruh pasukan disebut telah berkumpul di Kalimas.

Dalam video dijelaskan bahwa sungai tersebut menjadi jalur penting untuk memasuki wilayah Jawa menuju pusat kekuasaan Kediri.

Selanjutnya disusun strategi penyerangan terhadap Jayakatwang.

Pada 22 April, pasukan dibagi menjadi tiga kelompok.

Ketiga pasukan itu mendapat tugas menyerang Kediri dari jalur yang berbeda dan sepakat berkumpul di Daha pada 26 April setelah mendengar tembakan meriam sebagai tanda dimulainya serangan.

Pasukan pertama bergerak menggunakan jalur sungai.

Pasukan kedua dipimpin Ike Mese berjalan menyusuri tepi timur sungai.

Baca Juga: Fakta Menarik Sejarah Kerajaan Nusantara, Kerajaan-Kerajaan Besar Ini Pernah Menguasai Perdagangan Asia Tenggara

Sementara pasukan ketiga yang dipimpin Cousin bergerak melalui sisi barat sungai.

Di belakang ketiga pasukan tersebut, Raden Wijaya bersama pasukannya ikut bergerak menuju pusat pertahanan Jayakatwang.

Jayakatwang Berhasil Dikalahkan

Pada 26 April, pasukan gabungan tiba di Daha yang menjadi pusat pertahanan Kediri.

Menurut penjelasan dalam transkrip, pasukan Jayakatwang mempertahankan kota sejak pagi.

Pertempuran berlangsung mulai pukul 06.00 hingga sekitar pukul 14.00.

Baca Juga: Sejarah Kerajaan Mataram Kuno dan Peran Raja-Raja Besarnya, Dari Sanjaya hingga Mpu Sindok yang Mengubah Arah Sejarah Jawa

Setelah tiga kali serangan dilancarkan, pasukan Kediri akhirnya berhasil dipukul mundur.

Ketika pasukan Mongol masih terlibat pertempuran, pasukan Raden Wijaya bergerak melalui jalur lain menuju istana.

Mereka berhasil mengalahkan penjaga istana, kemudian menjarah dan membakar pusat pemerintahan Jayakatwang.

Setelah kota berhasil dikepung, pasukan Mongol meminta Jayakatwang menyerahkan diri.

Pada sore harinya, Jayakatwang menyatakan menyerah kepada pasukan Mongol.

Jayakatwang kemudian ditangkap bersama istri, anak, para perwira, serta seluruh hartanya yang dalam transkrip disebut bernilai sekitar 50 juta Yuan.

Baca Juga: Misteri dan Sejarah Kerajaan Singosari: Dari Ken Arok, Kudeta Berdarah, hingga Runtuhnya di Tangan Jayakatwang

Strategi Raden Wijaya Berbalik Menghadapi Mongol

Setelah Jayakatwang berhasil dikalahkan, Raden Wijaya kembali ke Majapahit.

Ia menyampaikan kepada para komandan Mongol bahwa dirinya akan menyiapkan upeti sebagai bentuk penyerahan diri kepada Kaisar Mongol.

Menurut penjelasan dalam video, dua komandan Mongol menerima permintaan tersebut.

Namun, salah satu komandan bernama Cousin justru merasa ragu dan memperingatkan rekannya agar berhati-hati terhadap Raden Wijaya.

Meski demikian, permintaan Raden Wijaya tetap dikabulkan.

Baca Juga: Sejarah Kerajaan Mataram Kuno Penuh Misteri, Perpindahan Pusat Kerajaan Masih Menjadi Perdebatan Sejarawan

Ia kemudian meminta agar sebagian pasukan Mongol datang ke Majapahit tanpa membawa senjata.

Alasannya, dua putri cantik yang dijanjikan sebagai hadiah disebut takut melihat prajurit yang membawa persenjataan.

Akhirnya sekitar 200 prajurit Mongol tanpa senjata bersama dua orang perwira berangkat menuju Majapahit.

Tanpa disadari pasukan tersebut, langkah itu justru menjadi awal strategi Raden Wijaya untuk membalikkan keadaan dan mengusir pasukan Mongol dari tanah Jawa.

Baca Juga: Kerajaan Majapahit Paling Terkenal karena Kekuatan Ekonominya, Begini Cara Kerajaan Ini Menjadi Pusat Perdagangan Nusantara

Raden Wijaya Menyerang Balik Pasukan Mongol

Menurut penjelasan dalam transkrip, pada 26 Mei Raden Wijaya mulai menjalankan rencananya.

Pasukan Mongol yang datang ke Majapahit tanpa membawa senjata langsung disergap oleh pasukan Raden Wijaya.

Dalam serangan tersebut, rombongan Mongol berhasil dikalahkan. Keberhasilan itu kemudian menjadi tanda dimulainya serangan yang lebih besar terhadap pasukan utama Mongol.

Raden Wijaya segera menggerakkan seluruh pasukannya untuk melancarkan serangan mendadak.

Strategi tersebut membuat pasukan Mongol tidak sempat melakukan perlawanan secara maksimal.

Banyak prajurit Mongol tewas dalam pertempuran. Sebagian lainnya berusaha menyelamatkan diri dengan melarikan diri menuju kapal.

Namun pelarian mereka tidak berjalan mulus. Dalam transkrip disebutkan bahwa ketika tiba di sebuah candi, pasukan Mongol kembali disergap oleh tentara Jawa.

Meski akhirnya berhasil menerobos kepungan dan melanjutkan pelarian, pasukan Mongol kehilangan seluruh hasil rampasan perang yang sebelumnya mereka peroleh.

Baca Juga: Menguak Sejarah Kerajaan Nusantara dari Timur Indonesia, Kerajaan-Kerajaan Ini Pernah Menguasai Laut dan Jalur Perdagangan Dunia

Majapahit Resmi Berdiri pada 1293 Masehi

Setelah berhasil mengalahkan Jayakatwang sekaligus memukul mundur pasukan Mongol, Raden Wijaya mulai membangun kekuasaan baru.

Pada 1293 Masehi, ia mendirikan Kerajaan Majapahit yang kemudian menjadi penerus Singasari.

Raden Wijaya selanjutnya menobatkan dirinya sebagai raja pertama Majapahit.

Para pengikut yang dianggap berjasa dalam perjuangan mendirikan kerajaan juga mendapat kedudukan penting di pemerintahan.

Mereka diangkat menjadi pejabat tinggi sebagai bentuk penghargaan atas kesetiaan dan peran dalam berdirinya Majapahit.

Baca Juga: Kerajaan Majapahit Paling Terkenal karena Kekuatan Ekonominya, Begini Cara Kerajaan Ini Menjadi Pusat Perdagangan Nusantara

Peristiwa tersebut menjadi akhir dari rangkaian konflik yang bermula dari runtuhnya Singasari setahun sebelumnya.

Runtuhnya Singasari Menjadi Awal Kebangkitan Majapahit

Transkrip video menggambarkan bahwa keruntuhan Singasari tidak hanya menandai berakhirnya kekuasaan Raja Kertanegara.

Peristiwa itu juga menjadi awal munculnya kerajaan baru yang dipimpin oleh Raden Wijaya.

Dengan memanfaatkan situasi politik saat itu, Raden Wijaya berhasil menjalin kerja sama dengan pasukan Mongol untuk mengalahkan Jayakatwang.

Setelah tujuan tersebut tercapai, ia mengubah strategi dan menyerang balik pasukan Mongol hingga akhirnya mereka meninggalkan Jawa.

Keberhasilan itu membuka jalan bagi berdirinya Kerajaan Majapahit pada 1293 Masehi.

Baca Juga: Terungkap! Sejarah Kerajaan Nusantara Menyimpan Kisah Perebutan Kekuasaan dan Diplomasi yang Mengubah Jalannya Peradaban

Majapahit kemudian menjadi penerus Singasari sebagaimana dijelaskan dalam video, sekaligus menjadi kerajaan baru yang lahir setelah berakhirnya kekuasaan Kertanegara.

Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa runtuhnya Singasari bukanlah akhir dari sejarah kerajaan di Jawa, melainkan menjadi awal babak baru melalui berdirinya Majapahit di bawah kepemimpinan Raden Wijaya.

Editor : Muhammad Tafrihatu Zaidan Al Akhbari
Sumber : WBT
Raden Wijaya Jayakatwang Runtuhnya Kerajaan Singasari kerajaan Singasari majapahit