TRENGGALEKNJENGGELEK,JAWAPOS.COM- Legenda asal usul Trenggalek mengisahkan perjalanan Raden Ayu Saraswati, Menak Sopal, hingga lahirnya nama Trenggalek yang disebut berasal dari ungkapan "teranging penggalih". Kisah ini bermula pada masa Kerajaan Majapahit ketika seorang putri kerajaan mengalami penyakit misterius, lalu berakhir dengan pengorbanan demi kepentingan masyarakat dan asal-usul penamaan sebuah wilayah.
Cerita tersebut menempatkan Padepokan Sinawang di wilayah barat bumi perdikan Sendang Kamulyan sebagai pusat berbagai peristiwa penting. Dari tempat inilah rangkaian kisah berkembang, mulai dari kesembuhan sang putri, kelahiran Menak Sopal, pembangunan Dam Bagong, hingga asal mula nama Trenggalek menurut cerita rakyat.
Legenda ini juga memperlihatkan nilai gotong royong, pengorbanan, serta keikhlasan yang menjadi pesan utama dalam cerita turun-temurun tersebut.
Awal Kisah Putri Majapahit yang Mengalami Penyakit Misterius
Legenda bermula ketika wilayah barat bumi perdikan Sendang Kamulyan masih berada di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Saat itu, kerajaan diliputi kegelisahan karena putri tunggal raja, Raden Ayu Saraswati, mengalami penyakit yang tidak biasa.
Tubuh sang putri mengeluarkan bau amis yang sangat menyengat. Berbagai tabib terbaik dari berbagai daerah didatangkan untuk mengobatinya. Beragam ramuan dan doa telah dicoba, tetapi tidak satu pun berhasil menghilangkan penyakit tersebut.
Keadaan itu membuat sang raja tidak hanya khawatir kehilangan putrinya, tetapi juga merasa malu apabila kondisi tersebut diketahui tamu-tamu kerajaan.
Baca Juga: 5 Kuliner Khas Trenggalek yang Wajib Dicoba, dari Ayam Lodho hingga Sale Pisang
Dipindahkan ke Padepokan Sinawang
Dalam kebuntuan, sang patih mengusulkan agar Raden Ayu Saraswati dititipkan ke Padepokan Sinawang yang berada di bagian barat kerajaan.
Sang raja menerima usulan tersebut dan memerintahkan patih mengantarkan putrinya ke padepokan.
Sesampainya di sana, Ki Ageng Sinawang menerima kedatangan mereka dengan hormat. Namun para murid padepokan segera menyadari bau amis yang berasal dari tubuh sang putri.
Karena kondisi tersebut, para murid kemudian menjulukinya sebagai Rara Amis.
Berendam Selama 40 Hari di Sungai Bagong
Di Padepokan Sinawang, Raden Ayu Saraswati menjalani pengobatan dengan cara berendam di Sungai Bagong.
Hari demi hari berlalu tanpa perubahan berarti. Bau amis justru terus menjadi sumber penderitaan yang membuat sang putri kehilangan harapan.
Pada hari ke-40 saat berendam, muncul seorang pemuda bernama Srobo yang mendekatinya.
Pemuda itu bertanya mengenai asal bau amis yang memenuhi kawasan sungai. Setelah mengetahui penyebabnya, Srobo menawarkan bantuan.
Ia meminta sebuah janji. Apabila berhasil menghilangkan penyakit tersebut, Raden Ayu Saraswati harus bersedia menjadi istrinya.
Dalam kondisi putus asa, sang putri menyetujui permintaan tersebut.
Baca Juga: Ayam Lodho Pak Yusuf Jadi Hantaran Lebaran Favorit di Trenggalek, Penjualan Tembus 150 Ekor per Hari
Kesembuhan Raden Ayu Saraswati
Srobo kemudian berdiri di tengah Sungai Bagong dengan kedua tangannya terendam ke dalam air.
Tak lama kemudian permukaan sungai bergolak hebat layaknya air mendidih, meski tetap terasa sejuk.
Sesaat setelah air kembali tenang, bau amis yang selama ini melekat di tubuh Raden Ayu Saraswati lenyap seketika.
Merasa janjinya harus ditepati, sang putri menerima lamaran Srobo.
Keduanya kemudian menikah secara sederhana dengan restu Sang Prabu yang turut hadir dalam pernikahan tersebut.
Setelah menikah, Raden Ayu Saraswati diizinkan tinggal di Padepokan Sinawang bersama suaminya.
Rahasia Besar Srobo Terungkap
Beberapa waktu kemudian Raden Ayu Saraswati mengandung.
Sebelum menjalani tapa, Srobo berpesan agar istrinya tidak mengambil jemuran sebelum senja dan tidak memasuki tempat pertapaannya.
Pada awalnya pesan tersebut dipatuhi. Namun menjelang kelahiran anak mereka, Raden Ayu Saraswati akhirnya melanggar larangan itu.
Ia masuk ke tempat pertapaan dan terkejut karena menemukan seekor buaya putih.
Buaya tersebut kemudian mengaku sebagai Srobo.
Ia menjelaskan bahwa dirinya sebenarnya adalah penguasa Sungai Bagong yang berubah wujud.
Sebelum pergi, Srobo berpesan apabila anak mereka lahir laki-laki, namanya harus Menak Sopal.
Baca Juga: 7 Pantai Terpopuler di Trenggalek yang Wajib Dikunjungi, dari Pantai Prigi hingga Karanggongso
Lahirnya Menak Sopal
Beberapa bulan kemudian lahirlah seorang putra yang diberi nama Menak Sopal.
Sejak bayi, tubuhnya memancarkan cahaya kecil pada malam hari.
Ketika tumbuh dewasa, Menak Sopal dikenal sebagai pemuda cerdas, rendah hati, dan cepat menguasai ilmu dari Ki Ageng Sinawang.
Ia juga mewarisi ilmu Malih Rupo dari ayahnya, yang membuatnya mampu berubah menjadi harimau raksasa.
Meski memiliki kesaktian, Menak Sopal dikenal suka membantu masyarakat yang mengalami kesulitan.
Bendungan di Sungai Bagong Selalu Hancur
Suatu ketika masyarakat sekitar Sungai Bagong mengalami kekurangan air.
Belik-belik mulai mengering sehingga sawah dan ladang terancam gagal panen.
Menak Sopal kemudian mengajak para pemuda dan murid padepokan membangun bendungan di Sungai Bagong.
Bendungan berhasil diselesaikan melalui gotong royong.
Namun setiap malam bendungan itu selalu runtuh tanpa diketahui penyebabnya.
Peristiwa tersebut terus berulang hingga Menak Sopal memutuskan menggunakan kesaktiannya.
Melalui penglihatannya, ia mengetahui seekor buaya putih raksasa merusak bendungan menggunakan ekornya.
Baca Juga: Pantai Karanggongso Trenggalek Tawarkan Banana Boat, Ini Keseruan Wahana Favorit Wisatawan
Permintaan Kepala Gajah Putih
Menak Sopal memanggil buaya putih tersebut dan menanyakan alasan penghancuran bendungan.
Buaya itu menjelaskan bahwa dirinya tidak diberi persembahan sebelum pembangunan bendungan dilakukan.
Ia meminta kepala gajah putih sebagai syarat agar tidak lagi menghancurkan bendungan.
Menak Sopal kemudian mencari satu-satunya pemilik gajah putih, yakni Mbok Rondo Krandon.
Ia meminjam gajah tersebut selama tiga hari dengan jaminan dari Padepokan Sinawang.
Setelah memperoleh izin, Menak Sopal membawa gajah putih ke bendungan.
Demi memenuhi permintaan buaya putih, ia menyembelih gajah tersebut dan melemparkan kepalanya ke Sungai Bagong.
Setelah itu bendungan dibangun kembali.
Kali ini bendungan berdiri kokoh dan tidak pernah runtuh lagi.
Menurut cerita, bendungan tersebut kemudian dikenal sebagai Dam Bagong.
Air kembali mengalir sehingga sawah serta ladang warga terselamatkan.
Kemarahan Mbok Rondo Krandon
Masalah baru muncul ketika tiga hari berlalu tetapi gajah putih tidak pernah dikembalikan.
Mbok Rondo Krandon yang terus menunggu akhirnya merasa curiga.
Kecurigaan berubah menjadi kemarahan hingga ia mengumpulkan warga untuk meminta pertanggungjawaban kepada Menak Sopal.
Di tengah perjalanan mereka bertemu.
Menak Sopal menjelaskan bahwa gajah tersebut telah disembelih demi menghentikan gangguan buaya putih terhadap bendungan.
Namun penjelasan itu tidak langsung dipercaya.
Warga kemudian mengejar Menak Sopal.
Dalam keadaan terdesak, ia menggunakan ilmu Malih Rupo dan melompat ke bendungan Sungai Bagong.
Baca Juga: Pantai Mutiara Trenggalek, Surga Tersembunyi dengan Pasir Putih, Rumah Apung, dan Wisata Air
Penjelasan Ki Ageng Sinawang
Sementara Menak Sopal menghilang ke dalam bendungan, Mbok Rondo Krandon mendatangi Padepokan Sinawang.
Di sana Ki Ageng Sinawang menjelaskan alasan pengorbanan gajah putih.
Menurut penjelasan tersebut, tindakan Menak Sopal dilakukan agar bendungan tetap berdiri dan kebutuhan air masyarakat dapat terpenuhi.
Setelah mengetahui alasan sebenarnya, Mbok Rondo Krandon mengaku ikhlas.
Ia menyatakan tidak lagi mempermasalahkan gajah putihnya karena digunakan untuk kepentingan warga dan para petani.
Di sisi lain, Menak Sopal ternyata tidak tenggelam.
Ia disebut ditolong oleh buaya putih dan dibawa ke sebuah tempat bernama Sumur Gumuling sebelum akhirnya kembali ke Padepokan Sinawang dalam keadaan selamat.
Asal Mula Nama Trenggalek
Legenda kemudian mencapai penutup ketika Ki Ageng Sinawang memberikan penghormatan kepada Mbok Rondo Krandon.
Ia memuji ketulusan hati perempuan tersebut yang rela mengikhlaskan kehilangan gajah putih demi kepentingan masyarakat.
Dalam cerita disebutkan, Ki Ageng Sinawang mengucapkan kalimat "teranging penggalih" sebagai bentuk penghormatan atas kejernihan hati dan kelapangan jiwa Mbok Rondo Krandon.
Seiring berjalannya waktu, penyebutan "teranging penggalih" terus mengalami perubahan dari generasi ke generasi.
Menurut legenda tersebut, perubahan pelafalan itulah yang kemudian berkembang hingga dikenal sebagai nama Trenggalek.
Dengan demikian, kisah Raden Ayu Saraswati, Menak Sopal, Dam Bagong, dan Mbok Rondo Krandon menjadi bagian penting dari legenda asal usul Trenggalek yang diwariskan secara turun-temurun sebagai cerita rakyat daerah.
Editor : Fadhilah Salsa BellaSumber : pinterest