TRENGGALEKNJENGGELEK.JAWAPOS.COM - Proses pembuatan Gaplek Trenggalek menjadi salah satu pemandangan ikonik yang mempertegas kekayaan pangan lokal di kawasan pedesaan. Aktivitas agraris yang bernilai tradisi tinggi ini dijumpai secara nyata di Dusun Bangun, Desa Wonokerto, Kecamatan Suruh, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Warga setempat memanfaatkan halaman depan rumah mereka yang luas sebagai area penjemuran ketela pohon hasil panen dari kebun perbukitan. Langkah pengolahan singkong kering ini menjadi urat nadi ketahanan pangan sekaligus warisan kuliner yang tetap eksis hingga saat ini.
Komoditas Gaplek Trenggalek yang dihasilkan oleh masyarakat Dusun Bangun memiliki karakteristik pengolahan yang sangat spesifik dan higienis. Setelah dipanen dari lereng gunung, ketela pohon segar dibersihkan secara menyeluruh dari kulit luarnya sebelum masuk tahap pencacahan. Warga tidak menjemurnya dalam bentuk potongan utuh gelondongan, melainkan diserut kasar terlebih dahulu menggunakan alat pasrah tradisional. Metode penyerutan memanjang ini oleh masyarakat Jawa setempat dikenal luas dengan istilah disaut-sawut sebelum dihamparkan di bawah terik matahari.
Proses penjemuran saut singkong di area terbuka ini membutuhkan pasokan panas matahari yang stabil agar kadar airnya menyusut drastis. Setelah kering sempurna, bahan pangan ini resmi berubah menjadi gaplek kering berkualitas tinggi yang siap disimpan dalam jangka panjang. Struktur bahan pangan yang kering dan keras membuatnya sangat tahan terhadap serangan jamur maupun hama bubuk bubuk kayu. Metode penyimpanan tradisional ini menjadi strategi jitu warga pelosok dalam mengamankan cadangan karbohidrat keluarga di sepanjang musim.
Baca Juga: Asal Usul Trenggalek, Legenda Menak Sopal dan Bendungan Bagong yang Menjadi Cikal Bakal Nama Daerah
Dari Parutan Saut Menjadi Bahan Baku Utama Nasi Tiwul Tradisional
Komoditas Gaplek Trenggalek yang telah mengering sempurna nantinya akan melewati proses penumbukan secara manual menggunakan lesung kayu besar. Proses memecah dan menghaluskan gaplek ini oleh masyarakat lokal kerap disebut sebagai aktivitas dibebak hingga menjadi tepung. Tepung gaplek alami yang beraroma khas tersebut merupakan bahan baku mutlak untuk mengolah nasi tiwul tradisional yang pulen. Nasi tiwul inilah yang sejak zaman dahulu menjadi makanan pokok pengganti beras bagi masyarakat yang tinggal di kawasan pegunungan.
Kehadiran panganan tiwul yang berbahan dasar gaplek kering ini memiliki tempat tersendiri di hati para pencinta kuliner mataraman. Karakteristik rasanya yang gurih alami dengan tekstur sedikit kenyal membuat panganan ini sangat cocok disandingkan dengan parutan kelapa. Menu ini juga kerap dinikmati bersama sayur pedas daun singkong segar yang tinggal dipetik langsung dari pekarangan rumah. Kombinasi menu sarapan pagi di teras rumah ini menyuguhkan sensasi kemewahan hidup pedesaan yang sangat bersahaja.
"Proses pembuatan gaplek dengan cara disaut lalu dibebak ini menjadi pemandangan berharga yang bikin kangen parah para perantau," tulis laporan video tersebut.
Nostalgia Kuliner Pegunungan di Tengah Kepungan Tebling Gunung Linggo
Aktivitas memproduksi Gaplek Trenggalek secara tradisional terbukti memicu gelombang nostalgia yang kuat bagi masyarakat yang sedang merantau di luar kota. Bayangan akan kepulan asap dapur berbahan bakar kayu yang sedang mengukus tiwul menjadi memori masa kecil yang sulit dilupakan. Keberadaan panganan berbahan singkong ini seolah menjadi simbol kepulangan dan kehangatan keluarga di kampung halaman mereka di Trenggalek. Eksotisme kuliner purba ini tetap terjaga dengan baik karena ekosistem alam di sekitar Gunung Linggo masih sangat asri.
Selain mengandalkan sektor palawija singkong, masyarakat di permukiman berbukit ini juga menopang hidup dari sektor peternakan kambing. Kotoran dari hewan ternak kambing potong diproses ulang oleh petani sebagai pupuk kompos alami untuk menyuburkan tanaman ketela. Siklus pertanian organik yang mandiri ini membuat kualitas singkong yang dihasilkan memiliki cita rasa manis yang bebas kimia. Keberlanjutan ekosistem agraria ini menjadi kunci utama mengapa kualitas komoditas gaplek dari wilayah Kecamatan Suruh selalu unggul.
Baca Juga: Alen-Alen Khas Trenggalek, Camilan Gurih yang Jadi Andalan Oleh-Oleh Pulang Kampung
Melalui dokumentasi digital yang tersebar luas, pesona panganan lokal tiwul diharapkan bisa naik kelas dan dikenal generasi muda. Upaya warga mempertahankan tradisi menjemur saut merupakan bentuk nyata penghormatan terhadap ilmu bertahan hidup para leluhur Jawa kuno. Ketangguhan pangan berbasis lokal ini menjadi modal berharga bagi Kabupaten Trenggalek dalam menjaga kedaulatan pangan dari gempuran produk impor. Gaplek bukan lagi sekadar makanan masa lalu, melainkan simbol kemandirian dan kebanggaan kultural masyarakat agraris Nusantara yang sejati.
Baca Juga: STKIP PGRI Trenggalek Terus Berkembang, Tawarkan Program Studi Unggulan dan Berbagai Beasiswa
Sumber : You Tube