TRENGGALEKNJENGGELEK.JAWAPOS.COM - Tradisi memproduksi Gaplek Trenggalek secara manual di kawasan pelosok menyimpan nilai memori kultural yang sangat mendalam bagi warga lokal. Nuansa kehidupan agraris yang sarat nilai sejarah ini terjaga dengan baik di Dusun Bangun, Desa Wonokerto, Kecamatan Suruh, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Setiap kepulan asap dari dapur rumah panggung yang mengukus tepung singkong kering selalu membangkitkan ingatan tentang kampung halaman. Proses pengolahan panganan ini bukan lagi sekadar urusan perut, melainkan ritual merawat kenangan masa kecil para leluhur.
Aktivitas memproduksi Gaplek Trenggalek bermula dari kesibukan fajar saat para petani membawa pulang ketela pohon dari kawasan bukit. Kaum perempuan di desa kemudian berbagi tugas melakukan penyisiran kulit singkong dan memotongnya menggunakan pisau pasrah kayu. Singkong yang terkoyak kasar menjadi helaian ketela pohon sawut tersebut kemudian dihamparkan di atas tikar anyaman bambu terbuka. Wangi khas singkong basah yang berbaur dengan hangat matahari pagi melahirkan sensasi ruang pedesaan yang sangat eksotik.
Lembaran saut yang telah mengering karena sengatan panas matahari di pekarangan akan segera dikumpulkan untuk masuk tahap berikutnya. Butiran kering yang telah mengeras tersebut kemudian ditumbuk atau dibebak menggunakan alat lesung kayu berukuran panjang hingga halus. Proses mekanis manual ini menghasilkan serbuk tepung gaplek bertekstur lembut dengan aroma wangi tanah yang sangat khas. Tepung inilah yang menjadi cikal bakal dari lahirnya menu kuliner legendaris bernama nasi tiwul.
Baca Juga: Legenda Asal Usul Trenggalek: Kisah Menak Sopal, Dam Bagong, hingga Lahirnya Nama Trenggalek
Racikan Nasi Tiwul Hangat Pengisi Teras Rumah yang Syahdu
Hasil olahan berbahan dasar Gaplek Trenggalek ini menyajikan cita rasa khas yang tidak dapat digantikan oleh kuliner modern manapun. Nasi tiwul bertekstur remah kenyal ini biasanya disajikan hangat dengan taburan kelapa muda parut yang diberi sedikit garam. Untuk menambah kenikmatan, warga sering menyantapnya bersama lauk sederhana berupa tumisan sayur daun singkong segar pemetik spontan. Menu sarapan bersahaja ini menjadi pelengkap suasana pagi hari di teras rumah yang menghadap langsung ke arah perbukitan.
Keindahan rasa yang jujur dan kesederhanaan penyajian inilah yang memicu rasa rindu luar biasa bagi warga yang sedang merantau. Para pekerja asal Trenggalek yang mengadu nasib di kota besar seringkali merindukan aroma khas dari masakan berbahan gaplek ini. Rekaman visual tentang simbah atau orang tua yang sedang menumbuk gaplek di dapur kuno menjadi obat penawar rindu.
"Suasana pengolahan ketela menjadi gaplek secara tradisional ini dipastikan membuat perantau kangen parah dengan tanah kelahiran," bunyi narasi video tersebut.
Baca Juga: Asal Usul Trenggalek, Legenda Menak Sopal dan Bendungan Bagong yang Menjadi Cikal Bakal Nama Daerah
Keasrian Lingkungan Pegunungan Gunung Linggo yang Menenangkan
Eksistensi Gaplek Trenggalek dapat terus bertahan karena didukung oleh kelestarian ekosistem alam di sekitar kawasan Gunung Linggo. Lingkungan tempat tinggal warga masih sangat bersih dari polusi industri, di mana pohon-pohon beringin tua berdiri kokoh menjaga pasokan air. Bunyi sahutan ayam bekisar hutan serta kicauan murai batu peliharaan warga menjadi musik alami yang menemani proses penjemuran singkong. Keharmonisan hidup di antara empat rumah di bawah tebing mencerminkan potret ideal masyarakat agraris Jawa.
Kelestarian budaya pangan ini menjadi modal penting bagi generasi penerus untuk tetap mencintai tanah tumpah darah mereka. Pendokumentasian aktivitas pembuatan tiwul secara digital diharapkan mampu membuka mata publik akan eksotisme kuliner pedalaman Trenggalek. Gaplek kini menjelma menjadi jembatan spiritual yang menghubungkan para perantau dengan tanah asal tempat mereka dilahirkan. Melalui rasa dan aroma tiwul, memori kolektif tentang jati diri sebagai anak cucu petani Nusantara akan selalu hidup abadi.
Baca Juga: Alen-Alen Khas Trenggalek, Camilan Gurih yang Jadi Andalan Oleh-Oleh Pulang Kampung
Editor : Dinar Ananda Putri
Sumber : You Tube