TRENGGALEKNJENGGELEK.JAWAPOS.COM - Penelusuran malam hari secara mandiri menyusuri kawasan hutan paling angker di Jawa dilakukan oleh kreator konten Helmi dari saluran HM Adventure. Perjalanan mendebarkan tersebut bertujuan untuk menembus kegelapan Gua Istana Alas Purwo yang terletak di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
Lokasi tersebut selama ini dikenal luas menyimpan atmosfer mistis yang sangat kuat serta dinilai sebagai salah satu tempat paling wingit di kawasan Alas Purwo. Penelusuran menuju Gua Istana Alas Purwo dilakukan pada dini hari dengan melintasi jalan setapak sepanjang 1,6 hingga 1,8 kilometer dari area resort terdekat.
Perjalanan yang memakan waktu tempuh sekitar 30 hingga 45 menit tersebut menyuguhkan suasana mencekam di tengah rimbunnya vegetasi hutan belantara.
Mitos Pertemuan Presiden Soekarno dan Kanjeng Ratu Kidul
Salah satu cerita rakyat paling masyhur yang menyelimuti Gua Istana Alas Purwo adalah kepercayaan mengenai Presiden pertama RI, Bung Karno. Konon, Sang Proklamator pernah mendatangi goa ini untuk bermeditasi dan melakukan pertemuan spiritual bersama penguasa Laut Selatan, Kanjeng Ratu Kidul.
Situs ini dikeramatkan oleh banyak orang karena nilai sejarah dan spiritualnya yang sangat kental. Dalam masyarakat Jawa, penguasa gaib tersebut disapa dengan gelar Kanjeng Ratu Kidul, sedangkan masyarakat Sunda dan Bali kerap menyebutnya Nyi Roro Kidul atau Nyi Rara Kidul.
Atmosfer magis di sekitar lokasi kian terasa kuat lantaran hutan belantara Alas Purwo juga dipercaya sebagian orang sebagai pusat kerajaan gaib di tanah Jawa.
Menembus Hutan Bambu dan Bahaya Satwa Liar
Dalam penelusurannya, Helmi harus menyusuri jalanan bebatuan licin yang dikelilingi rindangnya pohon bambu serta pepohonan purba setinggi 15 hingga 20 meter. Selain aura mistis, potensi bahaya nyata dari satwa liar seperti ular weling, babi hutan (celeng), hingga macan tutul Jawa menjadi ancaman tersendiri.
Di tengah perjalanan, berbagai kejadian janggal sempat ditemui, seperti kemunculan asap misterius tanpa hembusan bau dupa hingga suara bergemuruh mirip kereta kencana. Ia juga melewati jembatan melengkung akibat tanah ambles serta area sungai dengan fasilitas melukat atau pembersihan diri alami.
Sayangnya, kondisi tempat melukat tersebut dicemari oleh tumpukan pakaian bekas yang dibuang sembarangan oleh oknum peziarah. Padahal, papan petunjuk tata tertib resmi secara tegas melarang pengunjung untuk membuang sampah, melakukan vandalisme, maupun merusak kelestarian alam.
Menjangkau Mulut Goa dan Bertemu Peziarah Malam
Setelah menaiki anak tangga berarsitektur gapura khas Majapahitan, Helmi akhirnya tiba di mulut goa tepat pada pukul 02.00 WIB. Meski berada di tengah malam, ia mendapati sejumlah peziarah lokal asal Banyuwangi yang sedang beristirahat dan beraktivitas spiritual di area luar goa.
Kondisi bagian dalam goa tampak dihuni oleh koloni kelelawar hitam serta genangan air yang mengandung mikroba dan kotoran satwa. Bau aroma dupa sisa ritual peziarah yang menyengat di antara deretan pohon jati kian memperkuat kesan creepy sekaligus sakral.
Meski papan aturan melarang pengunjung untuk bermalam, situs keramat ini tetap menjadi magnet utama bagi para pelaku spiritual dari berbagai daerah. Penelusuran malam di kawasan Alas Purwo ini menegaskan pentingnya menjaga kelestarian alam serta menghormati kearifan lokal yang telah bertahan selama ratusan tahun.
Baca Juga: Syifa Hadju Ulang Tahun ke-26, Konten Anjasmara Picu Polemik hingga El Rumi Bereaksi Keras
Sumber : You Tube