TRENGGALEKNJENGGELEK.JAWAPOS.COM - Catatan penting mengenai sejarah Kerajaan Tarumanegara menjadi bukti konkret awal mula peradaban tertulis di wilayah barat Pulau Jawa pada abad ke-5 Masehi. Kerajaan yang berpusat di kawasan utara Jawa Barat meliputi Bogor, Bekasi, hingga Jakarta ini tumbuh pesat berkat pengelolaan agraris serta jalur perdagangan maritim.
Penelusuran ilmiah oleh para ahli epigrafi seperti Prof. Dr. R.M. Ng. Poerbatjaraka, R.J.G. Bosch, dan Hasan Djafar mengonfirmasi keberadaan kerajaan ini melalui artefak otentik. Bukti-bukti batu bertuliskan aksara Pallawa dan bahasa Sanskerta menjadi jendela utama untuk memahami dinamika politik Nusantara di masa lampau.
Keberadaan peradaban tua tersebut diperkuat oleh berbagai inskripsi sakral serta naskah perjalanan musafir asing yang melintasi wilayah pesisir Jawa Barat.
Jejak Prasasti dan Catatan Diplomatik Tiongkok
Sumber utama untuk merekonstruksi sejarah Kerajaan Tarumanegara bersumber dari sejumlah batu prasasti otentik, di antaranya Prasasti Ciaruteun, Prasasti Tugu, Prasasti Kebon Kopi, Prasasti Jambu, Prasasti Muara Cianten, dan Prasasti Cidanghiang. Penulisan inskripsi menggunakan bahasa Sanskerta mengindikasikan hadirnya pengaruh tradisi intelektual India yang terakulturasi secara harmonis dengan budaya lokal.
Sejarawan asal Prancis, George Cœdès, menjelaskan bahwa proses akulturasi budaya atau indianisasi di kawasan Asia Tenggara berlangsung tanpa penjajahan fisik. Selain bukti prasasti, nama kerajaan ini juga dicatat dalam dokumen Tiongkok kuno sebagai Tolomo atau Taruma.
Catatan Tiongkok merekam pengiriman utusan diplomatik dari Tarumanegara pada abad ke-6 hingga ke-7 Masehi. Musafir Buddha asal Tiongkok, Faxian (Fa-Hien), yang singgah pada awal abad ke-5 Masehi juga mencatat bahwa dominasi ajaran Hindu sangat kuat di kawasan tersebut.
Baca Juga: Baby Soleil Zebora Ghazali Lahir, Kain Bedong Putri Al Ghazali dan Alyssa Daguise Jadi Sorotan
Kepemimpinan Sri Purnawarman dan Proyek Kanal Raksasa
Silsilah raja-raja Tarumanegara kerap menempatkan Jayasingawarman sebagai pendiri kerajaan pada akhir abad ke-4 Masehi, diikuti oleh Dharmayawarman. Namun, para sejarawan menegaskan bahwa puncak kejayaan kerajaan ini terjadi di bawah kepemimpinan Sri Purnawarman.
Nama Sri Purnawarman diabadikan dalam berbagai inskripsi utama, termasuk simbol pahatan telapak kaki raja yang menandakan otoritas kekuasaan serta kehadiran hukum di tanah tersebut. Salah satu karya terbesarnya tercatat dalam Prasasti Tugu yang memuat kebijakan infrastruktur sistematis pada tahun ke-22 masa pemerintahannya.
Prasasti tersebut merekam proyek penggalian dua saluran air, yakni Sungai Candrabaga (identik dengan Kali Bekasi) dan Sungai Gomati. Pembangunan kanal sepanjang ribuan patok ini berfungsi ganda sebagai sarana irigasi pertanian serta penanggulangan banjir tahunan.
Perekonomian Agraris-Maritim dan Komoditas Pewarna Alam
Secara etimologi, nama Tarumanegara erat kaitannya dengan keberadaan Sungai Citarum serta tumbuhan tarum (Indigofera), tanaman penghasil bahan pewarna alami berwarna biru. Pemanfaatan sumber daya air yang optimal menjadikan sektor pertanian sawah sebagai penopang utama ketahanan pangan rakyat.
Kondisi ekonomi masyarakat kian solid berkat posisinya yang strategis di jalur pelayaran pantai utara Jawa. Pelabuhan-pelabuhan sungai aktif memperdagangkan komoditas pertanian, hasil hutan, dan bahan pewarna alami dengan para pedagang asing.
Struktur sosial masyarakat terbagi secara tertata, terdiri atas golongan raja, bangsawan, pemuka agama (Brahmana), serta rakyat yang bekerja sebagai petani, pedagang, dan pekerja pembangunan kanal.
Fase Kemunduran dan Peralihan ke Kerajaan Sunda
Eksistensi kerajaan mulai mengalami penurunan setelah berlalunya era kejayaan Sri Purnawarman, yang ditandai dengan berkurangnya pembuatan prasasti batu. Memasuki abad ke-7 Masehi, peta politik kawasan Nusantara bergeser seiring bangkitnya kekuatan maritim Kerajaan Sriwijaya di Sumatra.
Pengaruh maritim Sriwijaya secara perlahan menggeser peran perdagangan sungai yang dikelola oleh Tarumanegara. Pada akhir masa kekuasaannya sekitar tahun 669 Masehi, tokoh bernama Tarusbawa mencatatkan perubahan struktur pemerintahan yang memicu lahirnya Kerajaan Sunda.
Runtuhnya sistem pemerintahan Tarumanegara menjadi fondasi awal bagi kemunculan Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh di Tanah Pasundan. Para peneliti menyimpulkan bahwa peradaban ini merupakan bukti nyata tata kelola negara yang rasional berbasis kearifan alam dan diplomasi terbuka.
Sumber : Sejarah Kerajaan Tarumanegara, Sejarah Kerajaan Tarumanegara masa kejayaan Raja Purnawarman dan peninggalan prasasti, Raja Purnawarman, Prasasti Tugu, Prasasti Ciaruteun