TRENGGALEKNJENGGELEK.JAWAPOS.COM - Analisis struktur tatanan huruf pada Prasasti Ciaruteun mengungkap teknik penulisan kompleks aksara Pallawa abad kuno peninggalan Kerajaan Tarumanegara. Batu bertulis yang memuat nama besar Raja Purnawarman ini dipahat menggunakan sistem penumpukan huruf dan pengubah vokal yang sangat spesifik.
Kajian epigrafi terhadap fisik batu bersejarah tersebut memperlihatkan bagaimana abjad Pallawa dikombinasikan dengan bahasa Sanskerta secara presisi. Penulisan ini belum menggunakan bahasa daerah seperti Sunda kuno atau Jawa kuno karena masih mengikuti tradisi literasi asal aksara tersebut.
Pemahaman mengenai tata cara membaca per huruf ini memperjelas makna tersembunyi yang terkandung di dalaminskripsi legendaris tersebut.
Teknik Penumpukan Huruf dan Pengubah Vokal Aksara Pallawa
Pahatan pada Prasasti Ciaruteun memperlihatkan kaidah penulisan aksara Pallawa yang unik melalui metode penumpukan konsonan (pasangan). Ketika suatu bunyi huruf ditimpa oleh konsonan lain di bawahnya, vokal 'A' pada huruf bagian atas secara otomatis mati.
Sebagai contoh, pada pembacaan kata 'Fikra', konsonan 'FA' diubah vokalnya menjadi 'FI' melalui tanda pengubah vokal di bagian atas. Selanjutnya, penumpukan huruf 'KA' dan sisipan 'RA' membentuk bunyi tumpuk tiga yang kompleks.
Metode serupa berlaku pada konsonan 'NA' yang digantung dengan 'TA' sehingga berbunyi 'NTA', serta konsonan 'SA' yang digantung dengan 'YA' menjadi 'SYA'.
Detail Transliterasi dan Kemiripan Bentuk Huruf
Karakter fisik tulisan pada Prasasti Ciaruteun juga memiliki kerumitan tersendiri karena beberapa huruf memiliki bentuk yang mirip, seperti karakter 'NA', 'SA', dan 'TA'. Selain itu, terdapat pula satu huruf khusus yang berdiri sendiri untuk mengeja bunyi tunggal 'Sri'.
Transliterasi per kata pada baris-baris prasasti ini memuat deretan bunyi mulai dari Fikrantasya, Wanipateh, Shrimatah, Pumnawarmanaha, hingga Tarumanagarendrasya. Pembacaan dilanjutkan dengan frasa Wisnorifa, Padwayan, serta akhiran penutup berbunyi Ma dengan tanda pemati vokal di atasnya.
Pengubahan bunyi vokal seperti 'E', 'U', dan 'I' diwakili oleh simbol-simbol khusus yang ditempatkan di atas, bawah, maupun samping huruf utama.
Arti Lengkap Teks Prasasti Ciaruteun dan Makna Sosio-Historis
Hasil terjemahan dan transliterasi utuh dari Prasasti Ciaruteun menyebutkan: "Inilah sepasang telapak kaki yang seperti kaki Dewa Wisnu ialah telapak yang mulia Sang Purnawarman, raja di negeri Taruma, raja yang gagah berani di dunia."
Penggunaan bahasa Sanskerta serta aksara Pallawa pada masa itu menunjukkan bahwa tradisi literasi masyarakat Tarumanegara masih mengadopsi bahasa asli tempat aksara tersebut berasal. Penulisan belum mengadopsi bahasa lokal karena sistem penulisan daerah baru berkembang pada era pasca-Pallawa.
Pada era setelahnya, barulah aksara turunan Pallawa digunakan secara luas untuk mencatat bahasa daerah seperti bahasa Sunda kuno maupun Jawa kuno.
Evolusi Aksara dan Warisan Literasi Nusantara
Struktur penulisan pada Prasasti Ciaruteun menjadi cermin penting perkembangan awal literasi dan peradaban tulis di Nusantara. Melalui kerumitan pahatan batu tersebut, Raja Purnawarman berhasil mengabadikan legitimasi kekuasaannya melintasi zaman.
Pola penulisan tumpuk dan pengubah vokal yang diterapkan pada prasasti ini menjadi cikal bakal perkembangan sistem aksara daerah di Indonesia. Memahami tata cara baca aksara Pallawa membuka pintu penting dalam merekonstruksi sejarah kelautan dan kebudayaan masa lalu.
Keberadaan batu bersurat ini terus menjadi subjek penelitian berharga bagi para ahli arkeologi dan epigrafi hingga saat ini.
Baca Juga: Baby Soleil Zebora Ghazali Lahir, Kain Bedong Putri Al Ghazali dan Alyssa Daguise Jadi Sorotan
Sumber : You Tube