TRENGGALEKNJENGGELEK.JAWAPOS.COM - Juru kunci Parang Kusumo sekaligus abdi dalem Keraton Yogyakarta bergelar Wedono Surakso Jaladri, Mbah Sarjini, membeberkan asal-usul penguasa Laut Selatan. Sosok berusia 80 tahun tersebut mengungkapkan bahwa sosok Kanjeng Ratu Kidul dan Nyi Roro Kidul sebenarnya merupakan dua entitas yang berbeda.
Pernyataan ini meluruskan kekeliruan masyarakat awam yang kerap menganggap Kanjeng Ratu Kidul sama dengan Nyi Roro Kidul. Selama lebih dari 50 tahun menjabat sebagai juru kunci, Mbah Sarjini memahami betul silsilah hingga tata cara spiritual di kawasan Cempuri, Parang Kusumo.
Baca Juga: Harga Vivo V50 Turun Drastis, Masih Worth It Dibeli pada 2026? Ini Kelebihan dan Kekurangannya
Mbah Sarjini menjelaskan secara terperinci perbedaan peran kedua sosok mistis tersebut beserta syarat bagi warga yang ingin memohon keselamatan maupun rezeki di Pantai Selatan.
Asal-usul Roro Sawidi dan Perbedaan Kanjeng Ratu Kidul dengan Nyi Roro Kidul
Mbah Sarjini menceritakan bahwa Kanjeng Ratu Kidul berasal dari Kerajaan Pajajaran di Jawa Barat. Ia merupakan anak dari Raja Prabu Mundingsari dan cucu dari Prabu Siliwangi, bernama asli Roro Sawidi.
Roro Sawidi dikenal memiliki kanuragan tinggi serta kelebihan khusus. Sang putri digadang-gadang menjadi penerus takhta, namun ia menolak menikah dan menolak mati secara wajar layaknya manusia.
Keinginan tersebut memicu kemurkaan Prabu Mundingsari. Roro Sawidi lantas diminta keluar dari keraton jika tetap berpegang teguh pada keinginannya untuk hidup hingga akhir zaman.
Roro Sawidi kemudian berjalan kaki dari Pajajaran menuju Pantai Parangtritis tanpa makan dan minum. Setibanya di tepi pantai, ia melakukan semedi hingga bertemu dengan Dewa Dadan.
Baca Juga: Harga Vivo V50 Turun Jadi Rp4,6 Juta, Masih Layak Dibeli pada 2026? Ini Alasan yang Bikin Worth It
Dewa memberikan syarat agar Roro Sawidi bersedia melepaskan raganya jika ingin hidup abadi. Setelah menyetujuinya, roh Roro Sawidi ditempatkan di sebuah keraton emas buatan alam di tengah laut dan diberi gelar Kanjeng Ratu Kidul.
Tugas utamanya adalah mengordinasi roh-roh di laut agar tidak mengganggu anak cucu manusia di dunia. Sementara itu, sosok Nyi Roro Kidul memiliki asal-usul yang sangat berbeda.
Nyi Roro Kidul merupakan Cewang Wulan, istri dari Ki Joko Tarub. Karena telah menikah dengan manusia, ia tidak diizinkan kembali ke kayangan oleh dewa.
Cewang Wulan kemudian melakukan semedi seperti Roro Sawidi dan diizinkan beralih hidup menumpang di keraton selatan. Dalam struktur pemerintahan gaib, Nyi Roro Kidul bertindak setara Menteri Dalam Negeri yang menguasai wilayah tersebut di bawah perintah penguasa utama.
Baca Juga: Sejarah Kerajaan Tarumanegara: Mengulas Pendirian Jayasingawarman Hingga Mahakarya Raja Purnawarman
Syarat Ritual Puasa dan Lokasi Pertemuan di Cempuri Parang Kusumo
Untuk bisa bertemu atau memohon pertolongan kepada penguasa laut selatan, Mbah Sarjini menegaskan bahwa seseorang harus membersihkan jiwanya terlebih dahulu. Pembersihan diri ini bukan dilakukan dengan cara mandi, melainkan melalui ritual puasa.
Terdapat dua jenis puasa yang disarankan. Pertama adalah puasa kelahiran selama satu hari satu malam penuh tanpa makan dan minum.
Kedua adalah puasa tuntunan Sunan Kalijaga selama 3 malam 3 hari pada hari tertentu. Hari yang dipilih biasanya kombinasi Rabu Wageng, Kamis Wage, dan Jumat Kliwon, yang nilainya dihitung setara dengan puasa 40 hari 40 malam.
Baca Juga: Sejarah Kerajaan Tarumanegara: Pembangunan Sungai Bekasi Hingga Jejak Kejayaan Raja Purnawarman
Setelah menjalani puasa, peziarah dapat mendatangi Cempuri di Pantai Parang Kusumo tanpa terikat hari atau waktu tertentu, meski waktu terbaik adalah malam hari usai Magrib. Berbagai kalangan masyarakat biasanya datang untuk meminta keselamatan, kelancaran kerja, rezeki, hingga kemudahan agar anaknya diterima menjadi anggota polisi.
Pentingnya Iman dan Kesaksian Spiritual Abdi Dalem Parang Kusumo
Mbah Sarjini mengingatkan bahwa orang yang hendak bertemu harus memiliki benteng iman dan kesabaran yang kuat. Jika hatinya tidak tenang atau bungkel, peziarah tidak akan mampu berbicara.
Ia mencontohkan kejadian seorang pengunjung asal Kalimantan yang memiliki ilmu tinggi tetapi mendadak pingsan saat berhadapan dengan penguasa laut. Setelah sadar, peziarah tersebut mengaku melihat sosok wanita yang sangat cantik, namun lidahnya mendadak kaku dan tidak bisa mengucapkan salam hingga akhirnya pingsan.
Sebagai abdi dalem yang telah mengabdi selama 65 tahun, Mbah Sarjini diberi nama khusus oleh keraton, yaitu Wedono Surakso Jaladri. Nama tersebut bermakna tugas untuk ngrekso atau menjaga laut serta Parang Kusumo.
Di kawasan Parang Kusumo sendiri terdapat total 40 juru kunci yang terbagi dalam tiga kelompok tugas di Belabelu, Maulano Magribi, dan Parang Kusumo. Struktur kepangkatan abdi dalem berjenjang mulai dari jajar, bekal enom, bekal sepuh, lurah, penewu, hingga wedono, dengan Mbah Sarjini sempat menjabat sebagai pengirit atau pemimpin anak buah selama 13 tahun.
Mbah Sarjini mengaku selama 65 tahun mengabdi, ia baru satu kali bertemu secara langsung dalam kondisi sadar dengan sosok penguasa laut di Cempuri saat berusia 65 tahun. Dalam pertemuan singkat tersebut, ia hanya menerima pesan singkat agar selalu berhati-hati dalam menjalankan tugas sebagai ketua abdi dalem.
Meta Description:
Juru Kunci Parang Kusumo Mbah Sarjini ungkap perbedaan Kanjeng Ratu Kidul dan Nyi Roro Kidul serta syarat tirakat puasa di Cempuri.
Sumber : youtube