Sejarah Kerajaan Kediri: Masa Kejayaan Raja Jayabaya Hingga Runtuh Usai Raja Kertajaya Diserang Ken Arok

Dinar Ananda Putri • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 19:22 WIB

 

Ulasan sejarah Kerajaan Kediri dari kejayaan Raja Jayabaya, perdagangan rempah global, hingga runtuh usai Raja Kertajaya tewas oleh Ken Arok.
Ulasan sejarah Kerajaan Kediri dari kejayaan Raja Jayabaya, perdagangan rempah global, hingga runtuh usai Raja Kertajaya tewas oleh Ken Arok.

TRENGGALEKNJENGGELEK.JAWAPOS.COM - Kerajaan Kediri berawal dari perpecahan Kerajaan Kahuripan setelah Raja Airlangga memutuskan menjadi pertapa pada tahun 1052 Masehi. Keputusan tersebut diambil lantaran putri sulungnya, Sangrama Wijaya Tunggadewi, menolak takhta dan memilih jalan hidup sebagai pertapa.

Untuk mencegah perang saudara, Raja Airlangga membagi wilayahnya kepada dua putranya. Mapanji Garasakan menerima Kerajaan Jenggala di Kahuripan, sementara Sri Samara Wijaya memperoleh Kerajaan Panjalu yang beribu kota di Daha.

Namun, perselisihan senjata tetap meletus karena kedua pangeran berupaya menguasai seluruh bekas wilayah Kahuripan. Setelah konflik berkepanjangan selama kurun waktu 58 tahun, Kerajaan Panjalu berhasil menaklukkan Jenggala dan bersatu kembali menjadi Kerajaan Kediri.

Baca Juga: Prasasti Ciaruteun: Menguak Rahasia Pahatan Tapak Kaki Raja Purnawarman dan Kebesaran Tarumanegara

Kronologi Perang Saudara Jenggala dan Panjalu

Perpecahan wilayah pada 1052 Masehi membagi kekuasaan Kahuripan menjadi dua entitas berbeda. Mapanji Garasakan memimpin Kerajaan Jenggala dengan wilayah meliputi Malang, Delta Sungai Brantas, serta pelabuhan di Surabaya, Rembang, dan Pasuruan.

Di sisi lain, Sri Samara Wijaya memimpin Kerajaan Panjalu dengan wilayah Kediri dan Madiun. Perang saudara pecah lantaran kedua belah pihak tidak puas dengan pembagian wilayah tersebut.

Pada 1059 Masehi, Raja Samarosaha dari Jenggala sempat merebut Panjalu. Namun pertempuran terus berlanjut hingga Kerajaan Panjalu akhirnya bangkit mengalahkan Jenggala dan mendirikan Kerajaan Kediri pada abad ke-11 Masehi.

Masa Kejayaan Kerajaan Kediri di Bawah Pemimpin Raja Jayabaya

Puncak kejayaan Kerajaan Kediri tercipta di bawah kepemimpinan Raja Jayabaya yang bertakhta pada rentang 1135 hingga 1159 Masehi. Raja Jayabaya berhasil menstabilkan situasi politik pascaperang saudara yang berkecamuk puluhan tahun.

Kemenangan Panjalu atas Jenggala diabadikan dalam Prasasti Hantang tahun 1135 Masehi dengan semboyan Panjalu Jayati yang berarti Panjalu atau Kediri menang. Atas perintah Raja Jayabaya, Empu Sedah dan Empu Panuluh menulis Kakawin Baratayuda untuk mengabadikan kisah perang saudara tersebut.

Raja Jayabaya juga melahirkan karya sastra fenomenal berupa ramalan-ramalan masa depan yang terangkum dalam buku Jangka Jayabaya.

Baca Juga: Pengakuan Juru Kunci Parang Kusumo: Terkuak Perbedaan Kanjeng Ratu Kidul dan Nyi Roro Kidul Serta Syarat Bertemu

Tatanan Sosial, Ekonomi, dan Struktur Pemerintahan Kerajaan

Struktur pemerintahan Kerajaan Kediri dipimpin raja dengan bantuan tiga menteri utama (Maha Menteri) yaitu Rakrian i Hino, Rakrian i Sirikan, dan Rakrian i Halu. Penasihat raja diampu oleh Rakrian Mapatih, sedangkan jajaran pelaksana pemerintahan dinamai Rakrian Mahamantri i Angga.

Masyarakat dibagi menjadi tiga strata sosial, yakni kerabat istana, petani pedesaan, serta kelompok non-pemerintah. Perekonomian berkembang pesat berkat kesuburan tanah dari erosi vulkanik Gunung Kelud dan jalur pelayaran Sungai Brantas.

Selain bertani dan menenun sutra, penduduk aktif berdagang komoditas emas, perak, kayu cendana, gading gajah, buah pinang, serta rempah-rempah. Rempah-rempah Kediri dieksport hingga ke Sriwijaya, India, Teluk Persia, Laut Merah, dan Eropa melalui jaringan pelayaran kapal Venesia.

Menurut catatan Cina Ling Wai Tai Ta (1178 M), masyarakat Kediri hidup rapi, tinggal di rumah berubin hijau-kuning, serta mengenakan transaksi uang perak dan emas. Berdasarkan undang-undang kerajaan, pelaku kejahatan berat seperti pencurian, perampokan, dan pembunuhan bakal diancam hukuman mati.

Keruntuhan Kerajaan Kediri Usai Pertempuran Ganter

Masa kemunduran Kerajaan Kediri bermula pada era kepemimpinan Raja Kertajaya atau Dandang Gendis yang memerintah pada 1185 hingga 1222 Masehi. Sikap Raja Kertajaya yang sombong dan berani melanggar adat memicu perselisihan tajam dengan kaum Brahmana.

Merasa terdesak, para Brahmana mengalihkan dukungan dan meminta perlindungan kepada Ken Arok, penguasa wilayah Tumapel. Ken Arok lantas memimpin pasukan militer gabungan untuk menggempur pertahanan pusat kerajaan.

Pada tahun 1222 Masehi, pertempuran mematikan pecah di wilayah Ganter. Raja Kertajaya tewas dalam peperangan tersebut, yang secara resmi mengakhiri riwayat Kerajaan Kediri sekaligus menyegel akhir dari silsilah Dinasti Isyana di Jawa Timur.

Silsilah Raja dan Peninggalan Sejarah Kerajaan Kediri

Berdasarkan sumber-sumber prasasti dan catatan sejarah, berikut adalah silsilah raja yang pernah bertakhta di Kerajaan Kediri:

  1. Raja Jayawarsa / Samara Wijaya (1104–1116 M)

  2. Raja Sri Bameswara (1117–1134 M)

  3. Raja Jayabaya (1135–1159 M)

  4. Raja Sri Sarweswara (1159–1169 M)

  5. Raja Sri Aryeswara (1169–1181 M)

  6. Raja Gandra (1181–1182 M)

  7. Raja Kameswara (1182–1185 M)

  8. Raja Kertajaya (1185–1222 M)

Warisan peradaban Kerajaan Kediri tercatat melalui karya sastra seperti Kakawin Kresnayana, Smaradahana, dan Lupdaka. Selain itu, terdapat peninggalan prasasti seperti Sirah Keting (1104 M), Padlegan (1117 M), Talan (1136 M), Banjaran (1152 M), Hantang (1152 M), Jaring (1194 M), dan Kamulan (1194 M).

Bangunan fisik peninggalan kerajaan ini mencakup Candi Penataran di Blitar, Candi Gurah dan Candi Tondo Wongso di Kediri, serta Candi Mirigambar di Tulungagung.

Baca Juga: Harga Vivo V50 Turun ke Rp4,4 Jutaan, Masih Jadi Rekomendasi HP Mid-Range 2026? Ini Alasannya

 

Editor : Dinar Ananda Putri
Sumber : youn tube
Raja Jayabaya Ken Arok Sejarah Kerajaan Kediri dari masa kejayaan Raja Jayabaya hingga runtuh akibat serangan Ken Arok Raja Kertajaya Kerajaan Kediri