TRENGGALEKNJENGGELEK,JAWAPOS.COM - Legenda asal usul Kawah Sikidang di Dataran Tinggi Dieng mengisahkan Putri Sinta Dewi yang dikenal berparas cantik, tetapi memiliki sifat sombong dan menetapkan syarat mas kawin yang sangat tinggi bagi setiap pelamarnya. Kisah tersebut berakhir dengan kematian Pangeran Kidang Garungan dan lahirnya legenda Kawah Sikidang serta anak berambut gimbal di Dieng.
Cerita rakyat ini bermula di sebuah istana megah yang berdiri di Dataran Tinggi Dieng. Di kerajaan tersebut hidup seorang putri bernama Sinta Dewi yang terkenal memiliki kecantikan luar biasa sehingga banyak pangeran dan pemuda datang untuk meminangnya.
Namun, setiap lamaran selalu ditolak karena Putri Sinta Dewi menganggap persembahan yang diberikan para pelamar belum mampu memenuhi martabatnya.
Putri Sinta Dewi Menolak Banyak Lamaran
Dalam legenda tersebut, Putri Sinta Dewi digambarkan sebagai sosok yang sangat cantik sehingga namanya dikenal hingga ke berbagai negeri.
Banyak pangeran datang membawa emas dan perhiasan untuk meminangnya.
Namun, seluruh lamaran itu ditolak karena sang putri menganggap persembahan yang diberikan masih terlalu sedikit.
Ia bahkan menyatakan menginginkan mas kawin yang jauh lebih besar.
Penolakan demi penolakan akhirnya membuat kabar mengenai syarat mas kawin Putri Sinta Dewi menyebar ke berbagai daerah.
Sejak saat itu, hampir tidak ada lagi lelaki yang berani melamarnya.
Raja Khawatir Putrinya Tidak Menikah
Melihat kondisi tersebut, sang raja mengingatkan putrinya agar tidak terlalu tinggi menetapkan syarat bagi calon suami.
Raja khawatir tidak ada lagi laki-laki yang berani datang melamar sehingga Putri Sinta Dewi akan hidup tanpa pendamping maupun penerus takhta kerajaan.
Namun, Putri Sinta Dewi tetap mempertahankan pendiriannya.
Ia merasa kecantikan dan kedudukannya sebagai seorang putri membuatnya berhak meminta mas kawin yang sangat besar.
Baca Juga: Pernikahan Natalie Holscher dan Arif Fadli Resmi Digelar, Ini 5 Momen Haru yang Jadi Sorotan
Pangeran Kidang Garungan Mengirim Lamaran
Di tempat lain hiduplah Pangeran Kidang Garungan yang dikenal kaya raya dan berwibawa.
Legenda menggambarkan sang pangeran memiliki tubuh manusia, tetapi berkepala kijang lengkap dengan tanduknya.
Mendengar kecantikan Putri Sinta Dewi, Pangeran Kidang Garungan tertarik untuk melamarnya.
Ia mengirim seorang pengawal membawa emas dan perhiasan sebagai tanda kesungguhan.
Dalam pesannya, sang pangeran menyatakan bersedia memenuhi seluruh permintaan Putri Sinta Dewi apabila lamarannya diterima.
Putri Sinta Dewi Menerima Pinangan
Setelah melihat persembahan yang dibawa utusan tersebut, Putri Sinta Dewi mulai mempertimbangkan lamaran itu.
Ia menilai Pangeran Kidang Garungan sebagai sosok yang sangat kaya dan mampu memenuhi keinginannya.
Meski belum pernah bertemu secara langsung, sang putri akhirnya menerima pinangan tersebut.
Keputusan itu kemudian disampaikan kepada Pangeran Kidang Garungan melalui utusannya.
Terkejut Melihat Wujud Sang Pangeran
Beberapa hari kemudian, Pangeran Kidang Garungan datang ke Dataran Tinggi Dieng.
Ia membawa persembahan yang lebih banyak dengan kereta kencana yang ditarik seekor gajah.
Kedatangannya menarik perhatian masyarakat yang belum pernah melihat rombongan semegah itu.
Namun, suasana berubah ketika sang pangeran turun dari kereta.
Putri Sinta Dewi terkejut setelah mengetahui calon suaminya memiliki kepala kijang dengan tanduk bercabang.
Rasa kagum terhadap kekayaannya seketika berubah menjadi ketakutan dan rasa jijik.
Meski demikian, Putri Sinta Dewi tetap menyambut tamunya dengan ramah sambil mempersilakan sang pangeran beristirahat.
Putri Menyusun Rencana
Di balik sikap tenangnya, Putri Sinta Dewi mulai memikirkan cara membatalkan pernikahan tersebut.
Ia mengaku tidak sanggup menikah dengan sosok yang menurutnya memiliki wujud seperti binatang.
Karena telah menerima lamaran secara sukarela, sang putri menyadari tidak bisa begitu saja membatalkan pertunangan.
Akhirnya ia menyusun rencana dengan memberikan syarat baru kepada Pangeran Kidang Garungan.
Tantangan Membuat Sumur Semalam
Putri Sinta Dewi meminta sang pangeran membuat sebuah sumur yang harus selesai sebelum fajar menyingsing.
Selain harus memancarkan air, sumur tersebut juga wajib dikerjakan sendiri oleh Pangeran Kidang Garungan.
Mendengar permintaan itu, sang pangeran langsung menyanggupinya.
Dengan kesaktiannya, ia menggali tanah menggunakan tangan dan tanduknya.
Dalam waktu singkat, lubang besar mulai terbentuk.
Melihat pekerjaan hampir selesai menjelang pagi, Putri Sinta Dewi justru semakin panik.
Ia khawatir benar-benar harus menikah dengan Pangeran Kidang Garungan.
Pangeran Ditimbun Hidup-Hidup
Untuk menggagalkan pekerjaan tersebut, Putri Sinta Dewi diam-diam memerintahkan para pengawalnya menimbun kembali tanah galian.
Tanpa disadari sang pangeran, tanah dan bebatuan mulai menutup lubang tempat ia bekerja.
Merasa dikhianati, Pangeran Kidang Garungan berusaha keluar dari timbunan.
Ketika hampir berhasil, Putri Sinta Dewi kembali memerintahkan para pengawalnya menambah timbunan tanah dan batu.
Akibatnya, sang pangeran tidak mampu lagi menyelamatkan diri dan akhirnya terperangkap di dalam sumur.
Baca Juga: Kucing Sphynx Makin Populer, Kenali Sejarah, Keunggulan, dan Cara Merawat Si Kucing Botak
Sumpah Pangeran Kidang Garungan
Sebelum meninggal, Pangeran Kidang Garungan mengucapkan sumpah kepada Putri Sinta Dewi.
Dalam legenda tersebut, ia menyatakan bahwa seluruh keturunan Putri Sinta Dewi kelak akan ditandai dengan rambut gimbal sebagai pengingat atas keserakahan dan pengkhianatan yang dilakukan sang putri.
Sumpah itu kemudian dipercaya menjadi asal-usul munculnya anak-anak berambut gimbal di kawasan Dieng.
Asal Usul Kawah Sikidang
Legenda juga menceritakan bahwa sebelum meninggal, Pangeran Kidang Garungan menimbulkan ledakan dahsyat yang mengguncang bumi.
Bekas ledakan tersebut perlahan membentuk sebuah kawah di Dataran Tinggi Dieng.
Kawah itu kemudian dikenal masyarakat dengan nama Kawah Sikidang.
Hingga kini, cerita mengenai Putri Sinta Dewi, Pangeran Kidang Garungan, serta asal-usul anak berambut gimbal masih menjadi bagian dari cerita rakyat yang hidup di tengah masyarakat Dieng. Meski merupakan kisah legenda yang diwariskan secara turun-temurun, cerita tersebut tetap menjadi salah satu warisan budaya lisan yang melekat dengan kawasan Dataran Tinggi Dieng.
Editor : Fadhilah Salsa Bella