Legenda Lembu Suro dan Gunung Kelud: Kisah Sayembara Putri Majapahit hingga Sumpah untuk Kediri

Fadhilah Salsa Bella • Dipublikasikan Minggu, 26 Juli 2026 | 16:35 WIB
Legenda Lembu Suro mengisahkan sayembara Putri Majapahit, pembangunan sumur di Gunung Kelud, hingga sumpah untuk Kediri, Blitar, dan Tulungagung (Pinterest).
Legenda Lembu Suro mengisahkan sayembara Putri Majapahit, pembangunan sumur di Gunung Kelud, hingga sumpah untuk Kediri, Blitar, dan Tulungagung (Gemini AI).

TRENGGALEKNJENGGELEK,JAWAPOS.COM - Legenda Lembu Suro menjadi salah satu cerita rakyat yang paling dikenal di Jawa Timur. Kisah ini menceritakan sayembara yang digelar Prabu Brawijaya untuk menikahkan putrinya, Diyah Ayu Pusparini, hingga berujung pada sumpah Lembu Suro yang dikaitkan dengan Gunung Kelud, Kediri, Blitar, dan Tulungagung. Cerita tersebut kembali diangkat dalam sebuah video YouTube yang mengulas asal-usul legenda tersebut.

Dalam kisah yang disampaikan, Prabu Brawijaya, raja Majapahit, merasa khawatir karena putrinya yang terkenal cantik belum juga bersedia menikah meski telah banyak dilamar para pemuda dari berbagai daerah. Demi menemukan pasangan terbaik bagi sang putri, raja kemudian menggelar sebuah sayembara dengan syarat yang tidak mudah.

Peserta diwajibkan mampu membentangkan busur pusaka Kyai Garudayaksa dan mengangkat gong pusaka Kyai Sekardelima. Siapa pun yang berhasil memenuhi kedua syarat tersebut berhak menikahi Diyah Ayu Pusparini.

Baca Juga: Ustaz Syam Viral Usai Nasihati Natali Haur Berhenti Terima Saweran di Acara Pernikahan, Tuai Pro dan Kontra

Sayembara untuk Menentukan Pendamping Putri Majapahit

Dalam cerita tersebut, kecantikan Diyah Ayu Pusparini disebut telah masyhur ke seluruh negeri. Banyak bangsawan dan pemuda datang untuk melamarnya. Namun, seluruh lamaran itu ditolak karena sang putri belum ingin menikah.

Kondisi tersebut membuat Prabu Brawijaya mulai memikirkan masa depan putrinya sekaligus kelangsungan kerajaan. Ia ingin memastikan putrinya dipersunting oleh pria yang dianggap sakti, kuat, dan layak menjadi pendamping.

Suatu malam, raja memanggil sang putri untuk berbicara secara pribadi. Dalam pembicaraan itu, Prabu Brawijaya menjelaskan rencana menggelar sayembara.

Sang putri sempat terkejut mendengar keputusan tersebut. Meski demikian, ia tidak berani menolak permintaan ayahnya dan akhirnya menyetujui rencana tersebut.

Perintah kemudian disebarkan ke seluruh wilayah Majapahit. Para pangeran maupun pemuda dari berbagai daerah diundang mengikuti sayembara yang akan berlangsung di alun-alun kerajaan.

Busur dan Gong Pusaka Menjadi Ujian

Menjelang hari pelaksanaan, Diyah Ayu Pusparini digambarkan terus diliputi kegelisahan. Ia berharap calon suaminya kelak benar-benar sesuai dengan keinginannya.

Di sisi lain, sang putri mengetahui bahwa busur Kyai Garudayaksa dan gong Kyai Sekardelima bukan benda biasa. Keduanya merupakan pusaka kerajaan yang memiliki kekuatan luar biasa sehingga hampir mustahil digunakan sembarang orang.

Hari yang dinanti akhirnya tiba. Para peserta memenuhi alun-alun kerajaan.

Prabu Brawijaya duduk di singgasana bersama permaisuri dan Diyah Ayu Pusparini. Para prajurit kemudian menyiapkan kedua pusaka sebagai perlengkapan utama sayembara.

Setelah gong dipukul sebagai tanda dimulainya perlombaan, para peserta bergantian mencoba membentangkan busur dan mengangkat gong.

Namun, tidak seorang pun berhasil.

Bahkan, sejumlah peserta mengalami cedera saat mencoba menyelesaikan tantangan tersebut. Ada yang mengalami patah lengan akibat memaksa membentangkan busur, sementara peserta lain terluka karena berusaha mengangkat gong yang sangat berat.

Melihat seluruh peserta gagal, Prabu Brawijaya mulai cemas. Ia khawatir tidak ada seorang pun yang mampu memenangkan sayembara tersebut.

Baca Juga: Pernikahan Natalie Holscher dan Arif Fadli Resmi Digelar, Ini 5 Momen Haru yang Jadi Sorotan

Kemunculan Lembu Suro

Ketika raja hampir mengakhiri perlombaan, muncul seorang pemuda berkepala sapi yang datang dari kejauhan.

Pemuda itu meminta izin kepada Prabu Brawijaya agar diperbolehkan mengikuti sayembara.

Saat ditanya identitasnya, ia memperkenalkan diri sebagai Lembu Suro.

Prabu Brawijaya kemudian mengizinkan Lembu Suro ikut bertanding. Dalam cerita tersebut, raja digambarkan meremehkan kemampuan Lembu Suro karena menganggap ia tidak akan mampu menyelesaikan tantangan.

Perkiraan itu ternyata keliru.

Dengan kemampuan kanuragan yang dimilikinya, Lembu Suro berhasil membentangkan busur Kyai Garudayaksa dengan mudah.

Keberhasilan itu langsung disambut tepuk tangan para penonton yang memenuhi arena sayembara.

Diyah Ayu Pusparini Menolak Kenyataan

Meski masyarakat bersorak, suasana berbeda justru terlihat dari wajah Diyah Ayu Pusparini.

Sang putri tampak cemas karena tidak ingin menikah dengan pria berkepala sapi.

Harapan terakhirnya tinggal saat Lembu Suro mencoba mengangkat gong Kyai Sekardelima.

Seluruh hadirin menyaksikan momen tersebut dengan penuh ketegangan.

Namun, Lembu Suro kembali menunjukkan kesaktiannya. Ia berhasil mengangkat gong pusaka tanpa mengalami kesulitan berarti.

Sorak kemenangan kembali menggema di alun-alun kerajaan.

Sementara itu, Diyah Ayu Pusparini hanya bisa terdiam. Ia merasa sangat terpukul karena harus menerima kenyataan bahwa pemenang sayembara adalah Lembu Suro.

Tangis sang putri pecah. Ia meninggalkan arena perlombaan dengan perasaan sedih.

Prabu Brawijaya juga merasa kecewa melihat kondisi putrinya. Akan tetapi, demi menjaga kehormatan sebagai seorang raja, ia tetap memenuhi janjinya.

Lembu Suro kemudian dinyatakan sebagai pemenang dan dinikahkan dengan Diyah Ayu Pusparini sesuai hasil sayembara.

Baca Juga: Natalie Holscher Menikah Lagi dengan Arif Fadli, Minta Restu Ayah hingga Sule Dikabarkan Hadiri Resepsi

Permintaan Membuat Sumur di Puncak Gunung Kelud

Setelah pernikahan berlangsung, Diyah Ayu Pusparini terus bersedih.

Dalam cerita tersebut, ia digambarkan lebih banyak mengurung diri di kamar sambil menangisi nasibnya.

Melihat keadaan sang putri, seorang pengasuh kemudian memberikan saran.

Pengasuh mengusulkan agar sang putri mengajukan syarat baru kepada Lembu Suro sebagai bagian dari permintaan setelah pernikahan.

Syarat tersebut adalah membuat sebuah sumur di puncak Gunung Kelud yang nantinya akan digunakan sebagai tempat pemandian sang putri.

Namun, sumur itu harus selesai hanya dalam waktu satu malam.

Diyah Ayu Pusparini menerima usulan tersebut dan segera menyampaikan permintaannya kepada Lembu Suro.

Tanpa banyak berpikir, Lembu Suro menyanggupi syarat itu.

Lembu Suro Dikubur Hidup-Hidup

Pada malam yang telah ditentukan, rombongan kerajaan bersama Lembu Suro berangkat menuju puncak Gunung Kelud.

Setibanya di lokasi, Lembu Suro mulai menggali tanah menggunakan kedua tanduknya.

Lubang yang digali semakin lama semakin dalam.

Melihat pekerjaan itu hampir selesai sebelum matahari terbit, Diyah Ayu Pusparini kembali merasa panik.

Ia kemudian meminta ayahnya agar menghentikan pekerjaan Lembu Suro.

Prabu Brawijaya yang tidak ingin putrinya kembali kecewa akhirnya memerintahkan para prajurit untuk menimbun sumur tersebut menggunakan batu dan tanah.

Perintah itu langsung dilaksanakan.

Meski Lembu Suro masih berada di dalam lubang, para prajurit tetap menutup sumur hingga akhirnya ia terkubur.

Dalam cerita itu disebutkan bahwa teriakan Lembu Suro masih terdengar dari dalam timbunan tanah.

Baca Juga: Fenomena Bediding di Pulau Jawa Saat Musim Kemarau 2026, BMKG Ungkap Penyebab dan Daftar Wilayah Terdingin

Sumpah Lembu Suro untuk Kediri, Blitar, dan Tulungagung

Sebelum benar-benar terkubur, Lembu Suro mengucapkan sumpah kepada Prabu Brawijaya dan masyarakat Kediri.

Dalam sumpahnya, ia menyatakan bahwa suatu hari masyarakat Kediri akan menerima balasan besar.

Ucapan tersebut berbunyi bahwa Kediri akan menjadi sungai, Blitar akan menjadi daratan, sedangkan Tulungagung akan berubah menjadi wilayah perairan yang dalam.

Ancaman tersebut membuat Prabu Brawijaya bersama rakyat berupaya menangkal sumpah itu.

Dalam kisah tersebut diceritakan bahwa mereka membangun tanggul besar yang menyerupai gunung dan kemudian dikenal sebagai Gunung Pegat.

Selain itu, Prabu Brawijaya juga mengadakan ritual penolak bala berupa larung sesaji di kawah Gunung Kelud.

Letusan Gunung Kelud Dikaitkan dengan Kemarahan Lembu Suro

Legenda tersebut juga menjelaskan keyakinan yang berkembang di kalangan masyarakat.

Setiap kali Gunung Kelud mengalami letusan, peristiwa itu dipercaya sebagai luapan amarah Lembu Suro atas perlakuan yang diterimanya dari Prabu Brawijaya dan Diyah Ayu Pusparini.

Kepercayaan tersebut menjadi penutup kisah legenda yang menghubungkan asal-usul Gunung Kelud dengan sumpah Lembu Suro, sekaligus menjadi salah satu cerita rakyat yang terus diwariskan di Jawa Timur.

Baca Juga: Fenomena Bediding Melanda Pulau Jawa, BMKG Jelaskan Penyebab dan Daftar Wilayah Bersuhu Terendah

Editor : Fadhilah Salsa Bella
Sumber : Gemini AI
Legenda Lembu Suro Prabu Brawijaya Diyah Ayu Pusparini gunung kelud majapahit