Asal Usul Banyuwangi: Kisah Raden Banterang dan Surati yang Berakhir Tragis hingga Lahir Nama Banyuwangi

Fadhilah Salsa Bella • Dipublikasikan Minggu, 26 Juli 2026 | 16:40 WIB
Asal usul Banyuwangi bermula dari kisah tragis Raden Banterang dan Surati yang difitnah berselingkuh hingga mengorbankan nyawanya demi membuktikan kesetiaan (Gemini AI).
Asal usul Banyuwangi bermula dari kisah tragis Raden Banterang dan Surati yang difitnah berselingkuh hingga mengorbankan nyawanya demi membuktikan kesetiaan (Gemini AI).

TRENGGALEKNJENGGELEK,JAWAPOS.COM - Asal usul Banyuwangi diceritakan melalui legenda Raden Banterang dan Surati, putri Kerajaan Klungkung yang menikah dengan putra Raja Blambangan. Kisah ini berakhir tragis setelah Surati difitnah berselingkuh dan dituduh hendak membalas dendam, hingga akhirnya mengorbankan nyawanya untuk membuktikan kesetiaan. Peristiwa tersebut kemudian dikaitkan dengan lahirnya nama Banyuwangi.

Legenda yang diangkat dalam sebuah video YouTube itu bermula dari peperangan antara Kerajaan Klungkung dan Kerajaan Blambangan. Setelah perang berlangsung beberapa hari, Klungkung mengalami kekalahan dari pasukan Blambangan yang dipimpin Prabu Menak Prakoso.

Meski kerajaan takluk, dua anak Raja Klungkung, yakni Raden Rupaksa dan Putri Surati, berhasil menyelamatkan diri dengan melarikan diri ke hutan sebelum peperangan usai. Dalam pelarian itu, keduanya memilih berpisah demi mengelabui pasukan Blambangan yang masih memburu keluarga kerajaan.

Klungkung Takluk, Raden Banterang Memimpin Blambangan

Setelah kemenangan diraih, Prabu Menak Prakoso memutuskan menetap sementara di Klungkung. Selama itu, pemerintahan Blambangan diserahkan kepada putranya, Raden Banterang.

Dalam kisah tersebut, Raden Banterang dikenal gemar berburu rusa di hutan. Suatu hari, ia kembali berburu bersama para pengawal kerajaan.

Saat menemukan seekor rusa yang sedang mencari makan, Banterang segera mengejarnya. Tanpa disadari, pengejaran itu membuatnya terpisah dari rombongan hingga akhirnya tersesat di tengah hutan.

Merasa lelah, Raden Banterang memutuskan beristirahat di tepi sebuah danau.

Baca Juga: Fenomena Bediding di Pulau Jawa Saat Musim Kemarau 2026, BMKG Ungkap Penyebab dan Daftar Wilayah Terdingin

Pertemuan Pertama dengan Surati

Saat beristirahat, Banterang dikejutkan oleh kemunculan seorang gadis cantik dari balik pepohonan. Gadis itu tampak kelelahan seolah sedang melarikan diri.

Raden Banterang kemudian menghampirinya dan berkenalan. Gadis tersebut memperkenalkan diri sebagai Surati.

Namun, Surati enggan menjelaskan asal-usul maupun identitas keluarganya. Ia masih curiga kepada Banterang yang mengenakan pakaian kebesaran seorang bangsawan.

Beberapa hari tinggal bersama di kawasan hutan membuat hubungan keduanya semakin dekat. Perasaan saling mencintai pun tumbuh.

Raden Banterang akhirnya mengajak Surati pulang ke Kerajaan Blambangan untuk dinikahi.

Setelah keluar dari hutan, mereka bertemu dengan pasukan kerajaan yang sebelumnya ditugaskan mencari Banterang. Beberapa hari kemudian, pesta pernikahan keduanya digelar dan disambut sukacita oleh rakyat Blambangan.

Meski demikian, Prabu Menak Prakoso pada awalnya tidak menyetujui pernikahan tersebut karena asal-usul Surati tidak diketahui secara jelas.

Kehidupan Bahagia Berubah setelah Rupaksa Muncul

Setelah menikah, Surati menjalani kehidupan yang bahagia di Blambangan. Sikapnya yang ramah membuat dirinya disukai masyarakat.

Suatu ketika, saat berbincang dengan seorang pedagang, Surati dipanggil oleh seorang pria berpakaian lusuh.

Pria itu ternyata adalah Raden Rupaksa, kakak kandung Surati yang berhasil selamat dari peperangan.

Dalam pertemuan itu, Rupaksa mengingatkan adiknya bahwa ayah mereka tewas dalam peperangan melawan Blambangan.

Ia mengajak Surati membalas dendam dengan membunuh Raden Banterang.

Namun Surati menolak ajakan tersebut. Ia mengatakan telah menerima kenyataan dan memilih menjalani kehidupan bersama suaminya.

Menurut Surati, dendam tidak akan pernah menyelesaikan persoalan. Ia juga menegaskan tidak mungkin mengkhianati suaminya.

Menyadari adiknya tidak dapat dibujuk, Rupaksa akhirnya mengurungkan niatnya.

Sebelum berpisah, ia memberikan sebuah ikat kepala atau destar khas Kerajaan Klungkung sebagai kenang-kenangan.

Rupaksa meminta Surati menyimpan ikat kepala itu di bawah bantal agar tidak melupakan asal-usulnya.

Baca Juga: Fenomena Bediding Melanda Pulau Jawa, BMKG Jelaskan Penyebab dan Daftar Wilayah Bersuhu Terendah

Fitnah Menghancurkan Kepercayaan

Sesampainya di istana, Surati berniat menceritakan seluruh rahasia mengenai identitasnya kepada Raden Banterang.

Namun saat itu Banterang belum kembali dari berburu.

Di tengah perjalanan berburu, Banterang merasa ada seseorang yang mengikutinya. Ia kemudian menangkap orang tersebut.

Pria itu tidak lain adalah Rupaksa yang menyamar sebagai rakyat biasa.

Rupaksa kemudian melancarkan fitnah.

Ia mengatakan kepada Banterang bahwa Surati telah berselingkuh dengan seorang pemuda dan beberapa kali bertemu secara diam-diam.

Banterang sempat membela istrinya. Ia menegaskan Surati adalah perempuan baik yang tidak mungkin melakukan perbuatan tersebut.

Namun Rupaksa terus meyakinkan Banterang.

Ia mengatakan pemuda itu bahkan memberikan ikat kepala sebagai tanda cinta dan benda tersebut disimpan di bawah bantal Surati.

Tak hanya itu, Rupaksa juga mengungkap identitas Surati sebagai putri Kerajaan Klungkung yang kalah perang.

Menurutnya, Surati bersama pria tersebut tengah menyusun rencana balas dendam terhadap Blambangan.

Mendengar tuduhan tersebut, Banterang menahan emosinya dan segera kembali ke istana untuk membuktikan semuanya.

Ikat Kepala Memicu Kesalahpahaman

Setibanya di kerajaan, Raden Banterang langsung menuju kamar Surati.

Ia mencari ikat kepala yang disebutkan oleh pria misterius tadi.

Benda itu benar-benar ditemukan di bawah bantal Surati.

Penemuan tersebut membuat kemarahan Banterang memuncak.

Ia kemudian mengungkap bahwa dirinya telah mengetahui Surati merupakan putri Raja Klungkung.

Banterang merasa sangat kecewa karena istrinya tidak pernah berterus terang mengenai identitas tersebut.

Di hadapan suaminya, Surati mengakui dirinya memang putri Raja Klungkung.

Ia juga mengakui sempat bertemu seorang pemuda beberapa waktu sebelumnya.

Namun Surati menjelaskan bahwa pria itu adalah Raden Rupaksa, kakak kandungnya sendiri.

Menurut Surati, ikat kepala tersebut hanyalah pemberian sang kakak sebagai kenang-kenangan.

Ia menegaskan tidak pernah berselingkuh dan tidak memiliki niat membalas dendam.

Surati juga mengatakan bahwa satu-satunya orang yang dicintainya hanyalah Raden Banterang.

Bahkan demi cintanya, ia rela melupakan dendam atas kekalahan kerajaan ayahnya.

Baca Juga: BMKG Ungkap Penyebab Angin Kencang di Jawa Timur, Bibit Siklon dan Monsun Australia Jadi Pemicu

Banterang Tetap Dikuasai Amarah

Penjelasan panjang Surati tidak mampu meredakan amarah Banterang.

Dalam kisah itu disebutkan, rasa cemburu telah menguasai pikirannya sehingga ia tidak lagi mempercayai istrinya.

Raden Banterang kemudian memaksa Surati pergi menuju danau, tempat pertama kali mereka bertemu.

Sesampainya di lokasi, Surati tidak menunjukkan rasa takut.

Ia kembali menegaskan dirinya tidak pernah mengkhianati suaminya maupun merencanakan balas dendam.

Namun seluruh penjelasan itu tidak lagi didengar oleh Banterang.

Dalam cerita tersebut bahkan disebutkan bahwa penjaga danau turut membisikkan kata-kata yang semakin memengaruhi pikiran Banterang.

Penjaga itu meminta Banterang membunuh Surati dengan menenggelamkannya ke danau.

Terpengaruh oleh hasutan tersebut, Banterang menghunus sebilah belati.

Saat melihat tindakan suaminya, Surati menyadari alasan dirinya dibawa ke tempat itu.

Pengorbanan Surati dan Lahirnya Nama Banyuwangi

Surati menolak dibunuh oleh tangan suaminya.

Menurutnya, kematian di tangan Banterang sama saja dengan mengakui tuduhan yang dialamatkan kepadanya.

Sebagai gantinya, Surati memilih mengorbankan dirinya sendiri.

Sebelum terjun ke danau, ia mengajukan satu permintaan terakhir.

Surati mengatakan, apabila setelah dirinya meninggal air danau berubah keruh dan berbau busuk, berarti seluruh tuduhan Banterang benar.

Namun jika air danau justru menjadi jernih dan mengeluarkan aroma harum, berarti dirinya tidak bersalah.

Setelah mengucapkan hal itu, Surati menceburkan diri ke dalam danau.

Beberapa saat kemudian, Banterang tersadar dari amarah yang selama ini menguasainya.

Ia menjatuhkan belati dan berusaha menyelamatkan Surati.

Namun semuanya telah terlambat.

Surati telah tenggelam ke dasar danau.

Tak lama kemudian, air danau berubah menjadi semakin jernih dan perlahan mengeluarkan aroma harum.

Peristiwa itu membuat Banterang menyadari seluruh tuduhan yang dilontarkannya selama ini keliru.

Surati tidak pernah mengkhianati dirinya.

Penyesalan mendalam membuat Banterang terus berada di tepi danau sambil mengucapkan kalimat, "Banyune wangi" yang berarti airnya harum.

Dalam legenda tersebut, Banterang terus mengulang ucapan itu selama berhari-hari hingga akhirnya ditemukan oleh para prajurit Blambangan.

Saat ditemukan, Banterang disebut sudah tidak mengenali siapa pun.

Ia hanya terus mengucapkan satu kata, yakni "Banyuwangi", yang kemudian dipercaya menjadi asal-usul nama wilayah Banyuwangi.

Baca Juga: Asal Usul Kawah Sikidang Dieng, Legenda Putri Sinta Dewi dan Sumpah Pangeran Kidang Garungan

Editor : Fadhilah Salsa Bella
Sumber : Gemini AI
Surati asal usul banyuwangi Legenda Banyuwangi Kerajaan Blambangan Raden Banterang