Raja Henry VIII Disebut Raja Terburuk? Fakta Kelam Enam Istri, Eksekusi Massal, dan Inggris Bangkrut

Fadhilah Salsa Bella • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 17:00 WIB
Raja Henry VIII dikenal karena enam istri, eksekusi massal, memisahkan Inggris dari Gereja Katolik, hingga membuat kerajaan nyaris bangkrut. Benarkah ia raja terburuk? (Pinterest).
Raja Henry VIII dikenal karena enam istri, eksekusi massal, memisahkan Inggris dari Gereja Katolik, hingga membuat kerajaan nyaris bangkrut. Benarkah ia raja terburuk? (Pinterest).

TRENGGALEKNJENGGELEK,JAWAPOS.COM – Raja Henry VIII hingga kini masih menjadi salah satu tokoh paling kontroversial dalam sejarah Inggris. Sosok yang memerintah pada abad ke-16 itu dikenal bukan hanya karena memiliki enam istri, tetapi juga karena kebijakan politik dan pemerintahannya yang penuh konflik. Tak sedikit sejarawan yang bahkan menyebut Raja Henry VIII sebagai salah satu raja terburuk dalam sejarah dunia.

Julukan tersebut muncul karena sederet keputusan kontroversial yang diambilnya selama berkuasa. Mulai dari perceraian yang mengguncang hubungan Inggris dengan Gereja Katolik, eksekusi terhadap orang-orang terdekatnya, hingga peperangan yang menguras kas kerajaan.

Meski begitu, sebagian sejarawan menilai warisan Raja Henry VIII tidak sepenuhnya buruk. Reformasi gereja yang dilakukannya justru menjadi titik awal perubahan besar dalam sejarah Inggris. Lantas, benarkah Henry VIII pantas menyandang predikat sebagai raja terburuk sepanjang sejarah?

Enam Pernikahan yang Berakhir Tragis

Reputasi buruk Henry VIII banyak dipengaruhi kehidupan rumah tangganya yang penuh gejolak. Demi memperoleh pewaris laki-laki, ia membatalkan pernikahannya dengan Catherine dari Aragon setelah gagal mendapatkan putra yang diharapkannya.

Keputusan itu membuka jalan bagi pernikahannya dengan Anne Boleyn. Namun, ketika Anne hanya melahirkan seorang putri yang kelak dikenal sebagai Ratu Elizabeth I, Henry kehilangan kesabaran. Anne kemudian dituduh berzina dan berkhianat terhadap kerajaan sebelum akhirnya dihukum mati.

Pernikahan ketiga dengan Jane Seymour akhirnya menghasilkan pewaris laki-laki, Edward VI. Namun kebahagiaan itu berlangsung singkat karena Jane meninggal dunia usai melahirkan.

Henry kemudian menikahi Anne of Cleves dalam sebuah pernikahan politik yang hanya bertahan sebentar. Istri kelimanya, Katherine Howard, juga bernasib tragis setelah dihukum mati dengan tuduhan serupa seperti Anne Boleyn. Hanya istri terakhirnya, Catherine Parr, yang berhasil bertahan hidup hingga Henry wafat.

Baca Juga: Raja Henry VIII dan 6 Istrinya: Obsesi Punya Putra Berujung Perceraian hingga Eksekusi Mati

Ambisi Militer Berujung Kegagalan

Selain kehidupan pribadinya, Henry VIII juga dikenal karena ambisi militernya yang besar. Sayangnya, berbagai peperangan yang dipimpinnya tidak banyak menghasilkan kemenangan berarti.

Upaya berulang untuk menaklukkan Skotlandia justru mendorong negara tersebut menjalin aliansi dengan Prancis. Dalam perang melawan Prancis, Henry bahkan sudah terlalu gemuk untuk menunggang kuda sehingga harus ditandu saat memimpin pasukan.

Meski berhasil menguasai Pelabuhan Boulogne, keberhasilan itu tidak bertahan lama karena wilayah tersebut akhirnya kembali jatuh ke tangan Prancis. Sementara itu, biaya perang yang sangat besar membuat kondisi keuangan kerajaan semakin memburuk.

Memisahkan Inggris dari Gereja Katolik

Salah satu keputusan terbesar Henry VIII adalah memutus hubungan Inggris dengan Gereja Katolik Roma.

Setelah gagal memperoleh izin perceraian dari Paus, Henry bersama penasihatnya, Thomas Cromwell, mendorong parlemen mengesahkan undang-undang yang menetapkannya sebagai kepala Gereja Inggris.

Kebijakan tersebut mengubah arah sejarah Inggris secara drastis. Ribuan biara dibubarkan dan seluruh asetnya diambil alih kerajaan. Kekuasaan raja meningkat tajam, tetapi kebijakan ini juga memicu konflik keagamaan yang berlangsung selama beberapa dekade.

Baca Juga: 6 Istri Raja Henry VIII, Kisah Tragis Dua Ratu Dipenggal hingga Satu-satunya yang Berhasil Selamat

Eksekusi dan Pemerintahan yang Penuh Ketakutan

Masa pemerintahan Henry VIII juga diwarnai eksekusi terhadap banyak tokoh penting.

Thomas More, Margaret Pole, hingga Thomas Cromwell termasuk di antara orang-orang yang dihukum mati setelah dianggap mengancam kekuasaan raja. Sejumlah keluarga bangsawan juga dieksekusi dengan tuduhan bersekongkol merebut takhta.

Beberapa catatan sejarah bahkan menyebut jumlah korban mencapai puluhan ribu orang. Meski angka tersebut masih diperdebatkan, para sejarawan sepakat bahwa ratusan orang benar-benar kehilangan nyawa akibat kebijakan Henry VIII.

Bangkrut dan Diduga Mengalami Perubahan Kepribadian

Henry VIII sebenarnya mewarisi kekayaan kerajaan yang sangat besar. Ia juga memperoleh tambahan harta dari pembubaran biara dan berbagai kebijakan perpajakan baru.

Namun gaya hidup mewah, pembangunan istana, serta perang berkepanjangan membuat kas kerajaan terus terkuras. Bahkan pemerintahannya beberapa kali harus menurunkan nilai mata uang demi menutupi krisis keuangan, meski langkah itu justru memperburuk inflasi.

Sejumlah ahli menduga perubahan kepribadian Henry VIII dipicu cedera serius akibat kecelakaan turnamen tombak pada 1536. Setelah insiden itu, ia mengalami luka kronis di kaki, berat badannya meningkat hingga mendekati 182 kilogram, dan sikapnya berubah menjadi lebih curiga serta paranoid.

Saat meninggal pada 1547, Henry VIII meninggalkan kerajaan yang penuh persoalan. Putranya, Edward VI, naik takhta dalam usia muda sebelum digantikan Mary I dan kemudian Elizabeth I yang berhasil memulihkan stabilitas Inggris. Karena itu, meski warisannya masih diperdebatkan, banyak sejarawan menilai pemerintahan Henry VIII meninggalkan salah satu periode paling penuh gejolak dalam sejarah Inggris.

Baca Juga: Fakta Raja Henry VIII yang Jarang Diketahui, Dijuluki Hidung Tembaga hingga Punya Staf Khusus Toilet

Editor : Fadhilah Salsa Bella
Sumber : pinterest
Raja Henry VIII Sejarah Inggris Enam Istri Henry VIII Gereja Inggris Raja Terburuk Dunia