TRENGGALEKNJENGGELEK,JAWAPOS.COM – Putri Junjung Buih menjadi salah satu legenda paling populer dari Kalimantan Selatan yang hingga kini masih diceritakan secara turun-temurun. Kisah ini mengangkat asal-usul seorang putri cantik yang dipercaya muncul dari sungai dan kemudian menjadi anak angkat Raja Patmaraga di Kerajaan Amuntai.
Legenda Putri Junjung Buih tidak hanya menghadirkan cerita penuh keajaiban, tetapi juga sarat pesan moral tentang kesabaran, doa, serta kebijaksanaan seorang pemimpin. Cerita rakyat ini menjadi bagian penting dari kekayaan budaya Banjar yang masih dikenal luas hingga sekarang.
Dalam kisahnya, Putri Junjung Buih lahir dari peristiwa yang tidak biasa. Kemunculannya di tengah aliran sungai menjadi awal perubahan besar bagi Kerajaan Amuntai yang selama bertahun-tahun belum memiliki penerus takhta.
Kerajaan Amuntai Dipimpin Dua Raja yang Bijaksana
Dahulu kala, di wilayah Kalimantan Selatan berdiri Kerajaan Amuntai yang dipimpin oleh dua bersaudara, yakni Raja Patmaraga dan adiknya, Raja Sukmaraga.
Meski diperintah oleh dua raja sekaligus, kerajaan tersebut dikenal damai, makmur, dan sejahtera. Kedua pemimpin mampu bekerja sama dengan harmonis sehingga rakyat hidup tenteram tanpa perselisihan.
Namun, kebahagiaan itu belum sempurna. Raja Patmaraga maupun Raja Sukmaraga sama-sama belum dikaruniai keturunan. Setiap malam keduanya memanjatkan doa agar diberikan anak sebagai penerus kerajaan.
Harapan Raja Sukmaraga akhirnya terwujud lebih dahulu. Sang permaisuri melahirkan bayi kembar laki-laki yang tampan. Kelahiran itu disambut sukacita seluruh rakyat dan keluarga kerajaan.
Di balik kebahagiaan tersebut, Raja Patmaraga mulai merasakan keinginan yang semakin besar untuk memiliki anak sendiri. Baginya, laki-laki ataupun perempuan bukanlah persoalan selama Tuhan berkenan mengabulkan doanya.
Petunjuk dari Mimpi Membawa Raja ke Sungai
Suatu malam Raja Patmaraga memperoleh mimpi yang terasa sangat nyata. Dalam mimpinya ia melihat dirinya sedang bertapa di Candi Agung yang berada di luar wilayah Kerajaan Amuntai.
Menganggap mimpi tersebut sebagai petunjuk, Raja Patmaraga bersama pengawal setianya, Datuk Pujung, berangkat menuju Candi Agung. Di tempat itu sang raja menjalani pertapaan selama beberapa hari dengan harapan memperoleh jawaban atas doa-doanya.
Meski belum merasa mendapatkan hasil, Raja Patmaraga tetap yakin Tuhan memiliki rencana terbaik.
Dalam perjalanan pulang menuju istana, ia beristirahat di bawah pohon besar sebelum melanjutkan perjalanan menyusuri sungai yang berarus tenang.
Saat itulah Raja Patmaraga melihat sesuatu yang mengapung di atas permukaan air. Ternyata benda tersebut adalah seorang bayi perempuan yang sangat cantik.
Bayi Ajaib Mengajukan Permintaan Tak Biasa
Raja Patmaraga segera berniat mengangkat bayi tersebut. Namun, kejadian mengejutkan terjadi ketika bayi itu tiba-tiba berbicara.
Bayi tersebut meminta agar dirinya dijemput oleh 40 dayang-dayang serta sehelai kain tenun yang harus selesai dibuat hanya dalam waktu setengah hari.
Permintaan itu segera disampaikan kepada Raja Sukmaraga melalui Datuk Pujung. Pengumuman pun disebarkan ke seluruh kerajaan. Siapa pun yang mampu menenun kain dalam waktu singkat akan diangkat menjadi pengasuh bayi kerajaan.
Tugas tersebut ternyata tidak mudah. Banyak perempuan mencoba menenun dengan kemampuan terbaik mereka, tetapi waktu terus berjalan dan tidak ada yang berhasil menyelesaikannya.
Menjelang batas waktu berakhir, seorang gadis bernama Kuripan datang membawa hasil tenun yang dinilai memenuhi syarat. Datuk Pujung kemudian menunjuk Kuripan sebagai pengasuh bayi tersebut.
Asal Usul Nama Putri Junjung Buih
Dengan seluruh persyaratan yang telah dipenuhi, Raja Patmaraga akhirnya mengangkat bayi ajaib itu dari sungai.
Karena ditemukan mengapung di atas buih sungai, sang raja memberikan nama Putri Junjung Buih. Bayi tersebut hanya tersenyum seolah menyetujui nama yang diberikan kepadanya.
Raja Patmaraga kemudian membawa Putri Junjung Buih kembali ke istana bersama Datuk Pujung, Kuripan, para dayang, dan rombongan kerajaan.
Sejak saat itu Kerajaan Amuntai kembali dipenuhi kebahagiaan. Raja Patmaraga akhirnya memiliki seorang putri, sementara Raja Sukmaraga telah lebih dahulu dikaruniai anak kembar laki-laki. Kehadiran ketiga anak tersebut melengkapi kebahagiaan keluarga kerajaan dan membuat kehidupan rakyat Amuntai semakin damai, makmur, serta penuh kesejahteraan.
Editor : Fadhilah Salsa BellaSumber : pinterest