Putri Mandalika, Legenda Putri Cantik Lombok yang Mengorbankan Diri hingga Lahir Tradisi Bau Nyale

Fadhilah Salsa Bella • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 18:20 WIB
Putri Mandalika adalah legenda Lombok tentang putri yang mengorbankan diri demi mencegah perang dan menjadi asal-usul tradisi Bau Nyale yang masih dilestarikan (Gemini AI).
Putri Mandalika adalah legenda Lombok tentang putri yang mengorbankan diri demi mencegah perang dan menjadi asal-usul tradisi Bau Nyale yang masih dilestarikan (Gemini AI).

TRENGGALEKNJENGGELEK,JAWAPOS.COM – Putri Mandalika merupakan tokoh legendaris dari Lombok yang kisahnya masih hidup dalam tradisi masyarakat Sasak hingga saat ini. Cerita tentang pengorbanan sang putri demi mencegah perang antarkerajaan menjadi asal-usul lahirnya tradisi Bau Nyale, sebuah ritual yang digelar setiap tahun di pesisir Lombok.

Legenda Putri Mandalika mengajarkan nilai kepemimpinan, pengorbanan, dan cinta kepada rakyat. Kecantikan serta akhlaknya yang mulia membuat banyak pangeran dari berbagai kerajaan datang melamar, namun situasi itu justru mengancam perdamaian negeri.

Kisah Putri Mandalika tidak hanya menjadi cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun, tetapi juga menjadi simbol persatuan masyarakat Lombok. Pengorbanannya dipercaya menjadi awal kemunculan Nyale, cacing laut berwarna-warni yang hingga kini dihormati dalam tradisi Bau Nyale.

Putri Cantik Kesayangan Rakyat Kerajaan Sekar Kuning

Dahulu kala, di negeri Tonjeng Beru berdiri Kerajaan Sekar Kuning yang dipimpin Raja Raden Pandji Kusuma atau Raja Tonjeng Beru bersama permaisurinya, Dewi Seranting.

Kehidupan kerajaan berlangsung damai dan makmur. Kebahagiaan keluarga kerajaan semakin lengkap setelah lahir seorang putri cantik bernama Mandalika.

Sejak kecil, Putri Mandalika dikenal rendah hati, sopan, serta sangat mencintai rakyatnya. Ia tidak segan membantu masyarakat secara langsung tanpa memandang status sosial. Sikap itulah yang membuat seluruh rakyat begitu menyayangi sang putri.

Kabar mengenai kecantikan dan kepribadian Putri Mandalika akhirnya tersebar ke berbagai kerajaan hingga menarik perhatian banyak pangeran.

Puluhan Pangeran Datang Melamar

Satu per satu pangeran dari berbagai negeri berdatangan ke Kerajaan Sekar Kuning untuk meminang Putri Mandalika.

Mereka datang membawa berbagai hadiah, mulai dari emas, kain sutra, hingga makanan khas daerah masing-masing sebagai tanda kesungguhan.

Melihat banyaknya pelamar, Raja Tonjeng Beru menyerahkan sepenuhnya keputusan kepada Putri Mandalika. Sang putri meminta waktu untuk mengenal para pangeran sebelum menentukan pilihan.

Namun saat mengamati para pelamar, Putri Mandalika justru menyaksikan sikap yang membuatnya kecewa. Para pangeran saling membanggakan kekuatan kerajaan masing-masing dan merendahkan kerajaan lain.

Ancaman Perang Membuat Sang Putri Gelisah

Persaingan antarpangeran semakin memanas. Mereka bahkan mengancam akan menyerang kerajaan pesaing apabila tidak dipilih menjadi suami Putri Mandalika.

Ancaman tersebut membuat sang putri diliputi kegelisahan. Ia menyadari bahwa keputusan memilih satu pangeran berpotensi memicu peperangan besar yang akan membawa penderitaan bagi rakyat.

Putri Mandalika kemudian berdiskusi dengan kedua orang tuanya. Raja dan permaisuri juga merasa bimbang menghadapi situasi tersebut.

Atas saran ayahnya, Putri Mandalika pergi bertapa selama tiga hari di tebing Pantai Seger untuk memohon petunjuk kepada Sang Pencipta.

Keputusan Besar di Pantai Seger

Setelah menyelesaikan pertapaannya, Putri Mandalika mengundang seluruh pangeran dan rakyat berkumpul di Pantai Seger pada keesokan harinya.

Di hadapan semua yang hadir, Putri Mandalika menyampaikan bahwa dirinya tidak ingin melihat perang terjadi hanya karena memperebutkan dirinya.

Ia mengatakan menerima seluruh lamaran para pangeran sekaligus sebagai simbol bahwa dirinya bukan milik satu kerajaan saja, melainkan milik seluruh rakyat.

Sebelum mengakhiri pidatonya, Putri Mandalika berpamitan kepada kedua orang tuanya dan menyampaikan bahwa kelak akan muncul Nyale berwarna-warni yang dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai sumber pangan maupun penyubur sawah.

Mengorbankan Diri Demi Perdamaian

Usai menyampaikan pesan terakhirnya, Putri Mandalika berjalan menuju tepi tebing dan tanpa ragu menjatuhkan diri ke lautan.

Raja, para pangeran, dan seluruh rakyat segera berusaha menyelamatkannya. Mereka menyisir lautan, tetapi Putri Mandalika tidak pernah ditemukan.

Di tengah pencarian, tiba-tiba muncul ribuan hewan laut menyerupai cacing dengan warna-warni yang sama seperti pakaian yang dikenakan sang putri.

Raja dan permaisuri kemudian meyakini bahwa Nyale tersebut merupakan jelmaan Putri Mandalika yang telah mengorbankan dirinya demi kedamaian negeri.

Asal Usul Tradisi Bau Nyale

Atas perintah raja, rakyat mengumpulkan Nyale untuk dibawa pulang. Sebagian dimasak sebagai makanan, sementara sebagian lainnya ditebarkan ke sawah dan ladang karena dipercaya dapat menyuburkan tanaman.

Para pangeran pun kembali ke kerajaan masing-masing tanpa membawa Putri Mandalika. Namun mereka pulang dengan pelajaran berharga tentang arti kepemimpinan, pengorbanan, dan mengutamakan kepentingan rakyat di atas ambisi pribadi.

Sejak saat itu, masyarakat Sasak memperingati pengorbanan Putri Mandalika melalui tradisi Bau Nyale yang digelar setiap tanggal 20 bulan ke-10 dalam kalender Sasak. Tradisi tersebut menjadi simbol penghormatan kepada sang putri yang dikenang sebagai sosok bijaksana, penuh kasih, dan rela mengorbankan dirinya demi menjaga perdamaian.

Editor : Fadhilah Salsa Bella
Sumber : Gemini AI
Putri Mandalika Bau Nyale Legenda Lombok Pantai Seger Suku Sasak