TRENGGALEKNJENGGELEKMJAWAPOS.COM – Nogo Dino kembali menjadi perbincangan setelah sebuah video di YouTube membahas kepercayaan masyarakat Jawa mengenai arah yang diyakini dapat memengaruhi keberuntungan, rezeki, hingga kelancaran berbagai aktivitas sehari-hari. Dalam tradisi Primbon Jawa, Nogo Dino dipercaya menempati arah tertentu sesuai hari dan pasaran, sehingga menjadi pedoman bagi sebagian masyarakat sebelum bepergian atau menjalankan usaha.
Konsep Nogo Dino telah lama dikenal dalam budaya Jawa. Kepercayaan ini menyebutkan bahwa terdapat arah yang sebaiknya dihindari pada hari-hari tertentu karena diyakini dapat membawa kesialan, kerugian, atau menghambat datangnya rezeki. Sebaliknya, memilih arah yang berlawanan dipercaya dapat meningkatkan peluang memperoleh keberuntungan.
Dalam video tersebut dijelaskan bahwa penempatan Nogo Dino berubah mengikuti kombinasi hari dan pasaran Jawa. Oleh karena itu, seseorang yang masih memegang tradisi Primbon Jawa biasanya akan mempertimbangkan arah perjalanan sebelum melakukan aktivitas penting.
Baca Juga: Karangan Fest 2026 Sedot Perhatian Warga Kades Karangan Beri Apresiasi Kreativitas Pemuda
Jadwal Arah Nogo Dino Menurut Hari
Menurut penjelasan dalam video, arah Nogo Dino berbeda setiap hari. Pada Kamis, Jumat, dan Minggu, Nogo Dino berada di arah timur. Sementara pada Sabtu berpindah ke arah selatan.
Adapun pada Selasa dan Rabu disebut berada di arah barat. Untuk Senin, posisi Nogo Dino dijelaskan berada di utara barat atau dalam istilah Jawa disebut ngalor ngulon. Sedangkan Jumat memiliki posisi utara timur atau ngaler wetan.
Selain berdasarkan hari, arah tersebut juga dikaitkan dengan sistem pasaran Jawa yang terdiri atas Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon.
Hubungan Pasaran Jawa dengan Nogo Dino
Dalam tradisi Primbon, masing-masing pasaran memiliki arah tersendiri. Kliwon dikaitkan dengan posisi tengah, Pahing berada di selatan, Pon di barat, Legi di timur, sedangkan Wage berada di utara.
Video tersebut juga menjelaskan bahwa pasaran Wage dianggap sebagai hari yang memiliki makna "kosong". Karena alasan itu, sebagian masyarakat Jawa menghindari penggunaan hari Wage untuk menggelar acara penting seperti pernikahan, memulai usaha, atau pindah rumah.
Kepercayaan tersebut menyebutkan bahwa apabila kegiatan penting dilakukan pada hari yang dianggap kosong, hasilnya dikhawatirkan kurang maksimal, misalnya tamu yang datang sedikit atau rezeki yang diperoleh tidak sesuai harapan.
Baca Juga: HMP Ilmu Komputer ITB Trenggalek Bekali Generasi Muda Bangun Personal Branding Digital
Diyakini Berpengaruh pada Rezeki Pedagang
Salah satu penerapan Nogo Dino yang paling sering dijumpai adalah pada pedagang keliling. Mereka dipercaya dapat memperoleh keberuntungan lebih baik apabila menghindari arah tempat Nogo Dino berada pada hari tersebut.
Sebagai contoh, ketika Jumat Legi dan posisi Nogo Dino berada di timur, pedagang disarankan memulai perjalanan ke arah barat. Sebaliknya, jika tetap menuju timur, menurut kepercayaan Primbon Jawa, peluang mengalami kerugian, dagangan sepi, tertipu saat membeli barang, atau kehilangan dianggap lebih besar.
Hal serupa juga disebut berlaku pada Sabtu. Karena Nogo Dino berada di selatan, masyarakat yang masih memegang tradisi tersebut dianjurkan menghindari perjalanan ke arah selatan apabila memungkinkan.
Tidak Hanya Berdagang, Lamaran hingga Pindah Rumah
Kepercayaan mengenai Nogo Dino tidak hanya diterapkan dalam aktivitas perdagangan. Sebagian masyarakat Jawa juga menggunakannya sebagai pertimbangan ketika hendak melamar calon pasangan, mencari hari baik pindah rumah, hingga memulai usaha baru.
Dalam video dijelaskan bahwa arah perjalanan menuju rumah calon mempelai juga diperhatikan agar proses lamaran berjalan lancar dan terhindar dari hal-hal yang dianggap kurang baik, seperti rasa malu atau penolakan.
Meski demikian, praktik tersebut merupakan bagian dari adat istiadat Jawa yang diwariskan secara turun-temurun dan masih dipercaya oleh sebagian kalangan.
Di akhir pembahasan, pembuat video mengajak masyarakat untuk menjadikan pengetahuan mengenai Nogo Dino sebagai bagian dari pelestarian budaya Jawa. Ia juga menyarankan agar masyarakat melakukan pembuktian sendiri terhadap kepercayaan tersebut, terutama bagi pedagang keliling yang ingin mengetahui apakah pemilihan arah perjalanan benar-benar memengaruhi hasil usaha mereka.
Pada akhirnya, kepercayaan tentang Nogo Dino merupakan bagian dari khazanah budaya dan Primbon Jawa yang hingga kini masih hidup di tengah masyarakat. Sebagian orang menjadikannya pedoman dalam menentukan arah perjalanan maupun hari baik, sementara sebagian lainnya memandangnya sebagai warisan tradisi yang patut dipahami sebagai bagian dari kekayaan budaya Nusantara.
Baca Juga: Ekonomi Dominasi Faktor Gugatan Cerai
Editor : Fadhilah Salsa BellaSumber : pinterest