TRENGGALEKNJENGGELEK,JAWAPOS.COM – Hari baik membangun rumah 2026 menurut Primbon Jawa kembali menjadi pembahasan setelah sebuah video mengulas perhitungan tradisional yang masih dipercaya sebagian masyarakat Jawa. Dalam pembahasan tersebut, Selasa Legi disebut sebagai salah satu hari paling istimewa untuk memulai pembangunan rumah, terutama saat peletakan batu pertama.
Video tersebut menjelaskan bahwa masyarakat Jawa sejak dahulu memiliki tradisi menghitung hari, bulan, hingga jam sebelum mendirikan rumah. Tujuannya bukan semata mengikuti adat, tetapi sebagai ikhtiar agar rumah yang dibangun membawa keselamatan, ketenteraman, kesehatan, dan kelancaran rezeki bagi penghuninya.
Menurut narasumber, penentuan hari baik membangun rumah tidak hanya mempertimbangkan neptu hari dan pasaran, tetapi juga bulan dalam penanggalan Jawa, wuku, hingga waktu pelaksanaan peletakan pondasi.
Bulan yang Dianggap Baik untuk Membangun Rumah
Dalam penjelasan tersebut disebutkan bahwa beberapa bulan yang sering dianjurkan untuk memulai pembangunan rumah adalah bulan Syawal, setelah Mulud, dan Rejab.
Namun, bulan yang dianggap paling baik adalah bulan Besar, yang dalam kalender Masehi umumnya bertepatan sekitar Juni hingga Juli, meski dapat berubah mengikuti penanggalan Jawa.
Menurut tradisi tersebut, bulan Besar dimaknai sebagai simbol kebesaran, sehingga diharapkan membawa kemuliaan, keselamatan, dan rezeki yang lebih besar bagi pemilik rumah.
Sementara itu, bulan Mulud dan Ruwah disebut sebagai waktu yang relatif jarang dipilih untuk memulai pembangunan rumah menurut kebiasaan masyarakat Jawa terdahulu.
Baca Juga: Nogo Dino Menurut Primbon Jawa, Begini Cara Menentukan Arah Rezeki Berdasarkan Hari dan Pasaran
Selasa Legi Disebut Hari Paling Istimewa
Selain memilih bulan, penentuan hari juga menjadi bagian penting dalam Primbon Jawa.
Narasumber menjelaskan bahwa masyarakat umumnya memilih hari yang memiliki hitungan Kertayasa dengan hasil Candi, karena telah dianggap sebagai hari yang baik.
Namun, terdapat satu hari yang disebut memiliki keistimewaan lebih tinggi, yakni Selasa Legi.
Menurut perhitungan Primbon Jawa yang dipaparkan dalam video, Selasa Legi memiliki jumlah neptu delapan sehingga mempertemukan dua hasil sekaligus, yaitu Kertayasa jatuh Candi dan Ringkel Dedel jatuh Sleman atau Nabi. Kombinasi inilah yang disebut sangat langka dan hanya muncul sekali dalam satu tahun.
Karena alasan tersebut, Selasa Legi dipercaya menjadi salah satu waktu terbaik untuk memulai pembangunan rumah apabila memungkinkan.
Peletakan Batu Pertama Menjadi Penentu
Video tersebut juga menjelaskan bahwa yang paling penting dalam pembangunan rumah bukan keseluruhan proses pembangunan, melainkan saat peletakan batu pertama atau pondasi.
Prosesi itu harus dilakukan langsung oleh pemilik rumah sebagai simbol dimulainya pembangunan.
Apabila pemilik rumah tidak ikut meletakkan batu pertama, tradisi tersebut dianggap belum memenuhi tata cara sebagaimana yang dilakukan oleh masyarakat Jawa pada masa lampau.
Setelah prosesi tersebut dilakukan, pengerjaan pembangunan selanjutnya dapat diteruskan oleh para tukang bangunan.
Baca Juga: Weton Jumat Wage Menurut Primbon Jawa, Benarkah Sulit Rezeki tapi Sukses di Usia 30 Tahun?
Jam Pelaksanaan Juga Diperhitungkan
Selain hari dan bulan, masyarakat Jawa juga memperhitungkan jam pelaksanaan.
Dalam video dijelaskan bahwa waktu terbaik dipilih berdasarkan hitungan urip, lara, pati, sehingga prosesi peletakan batu pertama diupayakan berlangsung pada hitungan yang jatuh pada urip, yang dimaknai sebagai simbol kehidupan dan keselamatan.
Perhitungan tersebut biasanya dilakukan sebelum waktu yang telah ditentukan agar pelaksanaan dapat berlangsung sesuai tradisi.
Berlaku untuk Rumah Baru, Berbeda dengan Rumah Jadi
Narasumber juga membedakan antara membangun rumah baru dengan membeli rumah yang sudah jadi.
Apabila seseorang membeli rumah yang telah selesai dibangun, perhitungan Primbon Jawa tidak lagi difokuskan pada proses pembangunan, melainkan cukup memilih hari baik untuk pindah atau menempati rumah tersebut.
Sementara itu, apabila hanya melakukan renovasi ringan, perhitungan khusus juga tidak selalu diperlukan. Namun, jika renovasi dilakukan secara besar-besaran hingga mengubah struktur utama bangunan, sebagian masyarakat Jawa tetap memilih menggunakan perhitungan hari baik.
Di akhir pembahasan, narasumber menegaskan bahwa seluruh perhitungan tersebut merupakan bagian dari budaya dan tradisi leluhur Jawa. Ia menekankan bahwa penjelasan yang disampaikan bukan bermaksud mengharuskan masyarakat mengikuti tradisi tersebut, melainkan sebagai upaya melestarikan warisan budaya yang masih dipercaya oleh sebagian kalangan hingga saat ini.
Editor : Fadhilah Salsa BellaSumber : pinterest