Hari Baik Membangun Rumah Menurut Primbon Jawa, Selasa Legi Disebut Paling Istimewa

Fadhilah Salsa Bella • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 17:51 WIB
Hari baik membangun rumah 2026 menurut Primbon Jawa menyebut Selasa Legi dan bulan Besar sebagai waktu paling istimewa untuk memulai pembangunan rumah (Pinterest).
Hari baik membangun rumah 2026 menurut Primbon Jawa menyebut Selasa Legi dan bulan Besar sebagai waktu paling istimewa untuk memulai pembangunan rumah (Pinterest).

TRENGGALEKNJENGGELEK.JAWAPOS.COM – Hari baik membangun rumah 2026 menurut Primbon Jawa kembali menjadi perbincangan setelah seorang pemerhati budaya Jawa mengulas secara rinci tentang pemilihan waktu terbaik untuk memulai pembangunan rumah. Dalam tradisi leluhur Jawa, penentuan hari, bulan, hingga jam peletakan batu pertama dipercaya menjadi bagian dari ikhtiar agar penghuni memperoleh keselamatan, ketenteraman, dan rezeki.

Pembahasan mengenai hari baik membangun rumah 2026 menurut Primbon Jawa tersebut menyoroti pentingnya pepetungan atau perhitungan tradisional yang diwariskan turun-temurun. Meski tidak bersifat wajib, tradisi ini masih dipraktikkan sebagian masyarakat Jawa sebagai bentuk pelestarian budaya.

Selain memilih hari, hari baik membangun rumah 2026 menurut Primbon Jawa juga mempertimbangkan bulan, neptu, pasaran, hingga waktu peletakan batu pertama. Seluruh unsur tersebut diyakini memiliki makna simbolis yang mencerminkan harapan akan kehidupan yang lebih baik bagi pemilik rumah.

Bulan yang Dianggap Baik untuk Membangun Rumah

Dalam penjelasannya, narasumber menyebut beberapa bulan yang sejak lama dianggap baik untuk memulai pembangunan rumah. Di antaranya adalah bulan Syawal, bulan setelah Mulud, Rejab, hingga bulan Besar.

Dari seluruh pilihan tersebut, bulan Besar disebut sebagai waktu yang paling utama. Menurut kepercayaan masyarakat Jawa, kata "Besar" melambangkan kemuliaan, kelapangan rezeki, serta keberuntungan yang lebih besar bagi pemilik rumah.

Sementara itu, bulan Mulud dan Ruwah disebut lebih jarang dipilih untuk memulai pembangunan rumah berdasarkan tradisi yang berkembang di masyarakat.

Selasa Legi Disebut Hari Paling Istimewa

Selain bulan, penentuan hari juga menjadi bagian penting dalam pepetungan Jawa. Narasumber menjelaskan bahwa terdapat dua jenis perhitungan yang dikenal masyarakat, yakni Kertayasa Candi Raga Sempoyong dan Ringkel Dedel Nabi Sleman.

Dari keduanya, kombinasi yang dianggap paling istimewa adalah ketika perhitungan Kertayasa jatuh pada Candi dan Ringkel Dedel jatuh pada Nabi Sleman.

Menurut penjelasan tersebut, kondisi ini hanya terjadi pada hari Selasa Legi yang memiliki jumlah neptu delapan. Karena kemunculannya sangat terbatas, hari tersebut dianggap sebagai momentum terbaik untuk memulai pembangunan rumah.

Apabila Selasa Legi juga bertepatan dengan bulan Besar, maka menurut tradisi Jawa nilainya dianggap semakin baik.

Baca Juga: Bulan Baik Bangun Rumah Menurut Buya Yahya, Benarkah Harus Muharram atau Dzulhijjah?

Peletakan Batu Pertama Harus Dilakukan Pemilik Rumah

Tidak hanya hari dan bulan, jam pelaksanaan juga memiliki perhatian tersendiri dalam budaya Jawa. Waktu peletakan batu pertama dihitung berdasarkan siklus "urip, lara, pati" untuk mencari momentum yang jatuh pada kategori "urip".

Perhitungan tersebut diterapkan khusus saat memulai pembangunan atau peletakan pondasi pertama. Setelah tahap awal selesai, proses pembangunan selanjutnya dapat berjalan sebagaimana biasa.

Hal lain yang juga ditekankan adalah peletakan batu pertama sebaiknya dilakukan langsung oleh pemilik rumah. Walaupun hanya meletakkan satu bata sebagai simbol, tindakan tersebut dianggap sebagai penanda bahwa pemiliklah yang secara resmi memulai pembangunan rumahnya.

Berbeda dengan Membeli Rumah Jadi

Narasumber juga membedakan antara membangun rumah dari awal dengan membeli rumah yang sudah jadi.

Untuk rumah yang dibeli, pemilik tidak perlu menghitung waktu pembangunan karena proses tersebut telah dilakukan sebelumnya. Sebagai gantinya, masyarakat Jawa biasanya memilih hari baik ketika melakukan boyongan atau mulai menempati rumah baru.

Sementara itu, jika hanya melakukan renovasi ringan, perhitungan hari tidak dianggap terlalu penting. Namun apabila renovasi dilakukan secara besar-besaran hingga mengubah struktur utama bangunan, sebagian masyarakat tetap memilih hari baik sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi.

Tradisi yang Tidak Bersifat Memaksa

Di akhir penjelasannya, narasumber menegaskan bahwa seluruh pepetungan tersebut merupakan bagian dari budaya Jawa yang diwariskan para leluhur.

Ia menekankan bahwa pembahasan mengenai hari baik membangun rumah bukanlah ajakan atau kewajiban yang harus diikuti semua orang. Menurutnya, pada dasarnya setiap hari adalah baik, sedangkan penggunaan pepetungan hanyalah bentuk pelestarian tradisi yang masih diyakini sebagian masyarakat hingga sekarang.

Dengan demikian, masyarakat dipersilakan memilih apakah ingin mengikuti perhitungan Primbon Jawa atau tidak, sesuai keyakinan dan tradisi masing-masing.

Baca Juga: Hari Baik Bangun Pondasi Rumah Menurut Primbon Jawa, Begini Cara Menghitungnya

Editor : Fadhilah Salsa Bella
Sumber : pinterest
Selasa Legi peletakan batu pertama Hari baik membangun rumah 2026 Membangun rumah menurut Jawa Primbon Jawa