TRENGGALEKNJENGGELEK,JAWAPOS.COM – Ramalan Jayabaya 2026 kembali menjadi perbincangan setelah sebuah video yang membahas isi Jangka Jayabaya ramai diperbincangkan di YouTube. Video tersebut mengulas berbagai tafsir mengenai naskah kuno yang selama ini kerap dikaitkan dengan perjalanan sejarah Indonesia, mulai dari pergantian pemimpin hingga kondisi sosial politik di masa kini.
Pembahasan mengenai Ramalan Jayabaya 2026 menyoroti sejumlah bagian yang paling populer dalam Jangka Jayabaya, seperti Jangka Notonegoro, zaman Kalabendu, simbol dua matahari, hingga kemunculan Satrio Piningit. Meski demikian, isi naskah tersebut dipaparkan sebagai tafsir budaya yang berkembang di masyarakat, bukan sebagai fakta yang dapat dipastikan kebenarannya.
Dalam video tersebut dijelaskan bahwa Ramalan Jayabaya 2026 selama ini memunculkan beragam penafsiran karena menggunakan bahasa simbolik. Oleh sebab itu, setiap bagian dari Jangka Jayabaya memiliki makna yang berbeda-beda tergantung sudut pandang pembacanya.
Jangka Notonegoro dan Tafsir Urutan Pemimpin Indonesia
Salah satu bagian yang paling banyak dibahas adalah Jangka Notonegoro. Dalam naskah kuno disebutkan adanya rangkaian suku kata yang diyakini sebagian kalangan sebagai simbol urutan pemimpin Indonesia pada masa kemerdekaan.
Tafsir yang berkembang menghubungkan suku kata "No" dengan Presiden pertama Soekarno, kemudian "To" dikaitkan dengan Presiden kedua Soeharto.
Selanjutnya, sebagian penafsir menghubungkan masa transisi kepemimpinan setelah Soeharto dengan era BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, dan Megawati Soekarnoputri. Sementara sosok Pandito Ratu sering dikaitkan dengan Susilo Bambang Yudhoyono, sedangkan bagian akhir ditafsirkan sebagai pemimpin yang berasal dari kalangan rakyat dan kerap dikaitkan dengan Joko Widodo.
Namun, video tersebut juga menggarisbawahi bahwa seluruh hubungan tersebut merupakan hasil penafsiran masyarakat dan bukan isi eksplisit dari naskah asli.
Zaman Kalabendu Disebut Masa Penuh Kekacauan
Bagian lain yang turut dibahas adalah zaman Kalabendu, yaitu periode yang dalam berbagai tafsir digambarkan sebagai masa penuh konflik, kebingungan, dan kemerosotan nilai moral.
Salah satu kutipan yang sering dikaitkan dengan bagian ini adalah ungkapan "zaman edan", yang menggambarkan situasi ketika orang yang berpegang pada kebenaran justru dianggap tertinggal, sementara pihak yang berbuat salah tampak memperoleh keuntungan.
Dalam berbagai penafsiran, zaman Kalabendu juga dikaitkan dengan maraknya penyebaran informasi palsu, melemahnya penegakan hukum, meningkatnya konflik sosial, hingga menguatnya kepentingan kelompok dibanding kepentingan bersama.
Baca Juga: Hari Baik Membangun Rumah Menurut Primbon Jawa, Selasa Legi Disebut Paling Istimewa
Simbol Dua Matahari dan Dualisme Kekuasaan
Salah satu bagian yang paling banyak memancing perhatian adalah simbol "dua matahari".
Dalam video dijelaskan bahwa matahari dipahami sebagai lambang kekuasaan tertinggi. Karena itu, kemunculan dua matahari ditafsirkan sebagai adanya dua pusat kekuasaan yang sama-sama kuat sehingga berpotensi memunculkan persaingan pengaruh maupun konflik elite.
Sebagian kalangan kemudian mengaitkan simbol tersebut dengan dinamika politik yang diperkirakan dapat terjadi pada 2026. Namun, penafsiran tersebut tidak memiliki dasar historis maupun akademik yang dapat memverifikasi bahwa ramalan itu benar-benar merujuk pada peristiwa tertentu.
Satrio Piningit dan Harapan Zaman Baru
Selain membahas masa penuh kekacauan, Jangka Jayabaya juga memuat kisah mengenai kemunculan Satrio Piningit.
Dalam berbagai tafsir budaya Jawa, Satrio Piningit digambarkan sebagai sosok pemimpin yang lahir bukan dari keluarga elite politik ataupun kalangan berkuasa. Ia dipercaya muncul setelah melewati berbagai kesulitan hidup dan hadir ketika kondisi masyarakat sedang mengalami krisis.
Tokoh tersebut diyakini membawa perubahan dengan memperbaiki keadilan, mempersatukan masyarakat, serta membuka masa yang disebut sebagai zaman Kalasuba atau masa yang lebih damai, adil, dan sejahtera.
Dipahami sebagai Warisan Budaya, Bukan Kepastian Masa Depan
Di akhir pembahasan, video tersebut menegaskan bahwa Jangka Jayabaya sebaiknya dipahami sebagai warisan budaya yang sarat pesan moral, bukan sebagai naskah yang mampu memastikan masa depan Indonesia.
Berbagai simbol seperti urutan pemimpin, zaman Kalabendu, dua matahari, hingga Satrio Piningit lebih tepat dipandang sebagai pengingat agar masyarakat tetap menggunakan akal sehat, menjaga persatuan, dan tidak mudah terjebak dalam konflik maupun perebutan kekuasaan. Dengan demikian, masa depan bangsa tetap ditentukan oleh tindakan masyarakat dan para pemimpinnya, bukan semata-mata oleh tafsir atas sebuah ramalan kuno.
Baca Juga: Hari Baik Membangun Rumah Menurut Primbon Jawa, Ini 4 Hari Neptu 13 yang Diyakini Paling Baik
Editor : Fadhilah Salsa BellaSumber : pinterest