JAKARTA – Nogo Dino merupakan salah satu perhitungan dalam Primbon Jawa yang hingga kini masih digunakan sebagian masyarakat, khususnya untuk menentukan arah yang dianggap baik saat proses lamaran atau pernikahan. Perhitungan ini didasarkan pada posisi “naga” yang berpindah mengikuti siklus bulan dalam kalender Jawa, sehingga masyarakat menghindari arah yang berhadapan langsung dengan posisi mulut naga.
Tradisi tersebut dijelaskan dalam sebuah tayangan yang mengulas cara sederhana menghitung Nogo Dino bagi pemula. Tujuannya agar masyarakat dapat memahami dasar perhitungan tanpa harus selalu bertanya kepada sesepuh atau ahli primbon.
Baca Juga: Deteksi Penderita TB, Rontgen Portabel Diterjunkan
Perhitungan Nogo Dino menggunakan empat arah mata angin, yakni timur (wetan), selatan (kidul), barat (kulon), dan utara (lor). Posisi naga akan berpindah setiap tiga bulan dalam kalender Jawa.
Untuk tiga bulan pertama, yaitu Suro, Safar, dan Mulud, posisi naga berada di arah timur.
Selanjutnya, pada Bakda Mulud, Jumadil Awal, dan Jumadil Akhir, naga berpindah ke arah selatan.
Memasuki bulan Rejeb, Ruwah, dan Poso, posisi naga berada di arah barat.
Sementara tiga bulan terakhir, yakni Syawal, Apit, dan Besar, naga berpindah ke arah utara.
Perputaran tersebut berlangsung terus-menerus setiap tahun mengikuti urutan empat arah mata angin.
Baca Juga: Kalender Jawa Aboge Tahun B: Cek Daftar Hari Pantangan dan Tanggal Baik Hajatan!
Dalam tradisi Nogo Dino, arah yang dihindari adalah arah yang menuju langsung ke posisi mulut naga pada bulan tersebut.
Sebagai contoh, apabila sedang memasuki bulan Jumadil Akhir, posisi naga berada di selatan. Karena itu, masyarakat yang mempercayai perhitungan ini dianjurkan tidak melakukan perjalanan lamaran dari utara menuju selatan.
Jika kondisi tersebut terjadi, salah satu pilihan adalah menunggu hingga bulan berikutnya ketika posisi naga telah berpindah ke arah lain.
Contoh lainnya, apabila proses lamaran dilakukan dari timur menuju barat, maka arah tersebut tidak dianjurkan saat posisi naga berada di barat, yakni pada bulan Rejeb, Ruwah, dan Poso.
Penjelasan tersebut dimaksudkan sebagai panduan sederhana agar masyarakat memahami hubungan antara arah perjalanan dan perpindahan posisi naga dalam kalender Jawa.
Baca Juga: Kalender Jawa Aboge Tahun B: Cek Daftar Hari Pantangan dan Tanggal Baik Hajatan!
Dalam penjelasan itu juga disebutkan bahwa sebagian orang mencoba mengakali arah perjalanan, misalnya dengan memutar jalur agar tidak melewati arah yang dianggap kurang baik.
Namun, menurut penjelasan yang disampaikan, cara tersebut bukan termasuk rekomendasi dalam perhitungan Nogo Dino karena arah tujuan akhirnya tetap sama.
Oleh sebab itu, bagi masyarakat yang masih memegang tradisi Primbon Jawa, pilihan yang lebih dianjurkan adalah menunggu hingga posisi naga berpindah sesuai pergantian bulan Jawa.
Meski demikian, penggunaan Nogo Dino sepenuhnya kembali kepada keyakinan masing-masing. Tradisi ini merupakan bagian dari warisan budaya Jawa yang masih dikenal dan dipraktikkan oleh sebagian masyarakat dalam menentukan waktu maupun arah pelaksanaan lamaran dan pernikahan.
Editor : Ahmad Fadhil Gusnaashir