JAKARTA – Guru Dino dan Nogo Dino merupakan bagian dari tradisi Primbon Jawa yang sejak lama dijadikan pedoman masyarakat sebelum membuka usaha, merantau, membangun rumah, hingga memulai pekerjaan penting. Namun, kajian ini menegaskan bahwa keduanya bukan penentu mutlak datangnya rezeki, melainkan simbol kehati-hatian, perencanaan, dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan.
Tradisi tersebut lahir dari pengalaman panjang masyarakat Jawa dalam mengamati ritme kehidupan, musim, arah angin, hingga kebiasaan pasar. Dalam perkembangannya, Guru Dino dan Nogo Dino dipahami sebagai panduan budaya yang membantu seseorang mempertimbangkan waktu dan keadaan sebelum bertindak.
Kajian juga menegaskan bahwa dalam ajaran Islam, rezeki sepenuhnya berasal dari Allah SWT. Perhitungan hari tidak boleh diyakini sebagai penentu keberuntungan, melainkan hanya sebagai bagian dari warisan budaya yang dapat diambil nilai filosofinya.
Baca Juga: Tumpukan Meterial Jadi Sumber PAD Di Terminal MPU
Guru Dino secara sederhana dimaknai sebagai petunjuk mengenai karakter suatu hari menurut perhitungan Primbon Jawa. Setiap hari dipercaya memiliki sifat yang berbeda sehingga masyarakat terdahulu memilih waktu tertentu untuk memulai aktivitas penting.
Sementara itu, Nogo Dino berasal dari simbol naga yang dalam budaya Jawa melambangkan kekuatan alam, arah, dan kewaspadaan. Simbol tersebut digunakan sebagai pengingat agar seseorang tidak bertindak secara tergesa-gesa ketika hendak membuka usaha, membangun rumah, atau melakukan perjalanan jauh.
Kajian menjelaskan bahwa filosofi tersebut sebenarnya mengajarkan manusia agar selalu mempertimbangkan berbagai kemungkinan sebelum mengambil keputusan besar.
Prinsip ini dinilai masih relevan pada era modern. Seorang pebisnis, misalnya, melakukan riset pasar, menghitung modal, dan menentukan waktu peluncuran produk sebagai bentuk perencanaan yang matang sebelum memulai usaha.
Baca Juga: Peralatan KDMP Datang, Pemdes Tunggu Kejelasan Operasional
Dalam tradisi masyarakat Jawa, keterkaitan antara hari dan rezeki berawal dari kebiasaan membaca situasi alam.
Petani menentukan musim tanam berdasarkan kondisi cuaca, nelayan memperhatikan arah angin sebelum melaut, sedangkan pedagang memilih hari ketika pasar diperkirakan ramai.
Kebiasaan tersebut kemudian berkembang menjadi pedoman budaya yang diwariskan turun-temurun dalam Primbon Jawa.
Kajian menegaskan bahwa inti ajaran tersebut bukanlah keyakinan terhadap kekuatan hari, melainkan pentingnya membaca keadaan sebelum bertindak.
Selain itu, budaya Jawa juga mengenal berbagai petuah seperti Obah Mamah yang berarti siapa yang mau bergerak akan memperoleh makan.
Ungkapan tersebut menunjukkan bahwa kerja keras, disiplin, dan ketekunan jauh lebih penting daripada sekadar mencari hari yang dianggap baik.
Sebagai ilustrasi, seorang pedagang yang bekerja jujur, disiplin, dan menjaga kualitas dagangannya dinilai memiliki peluang lebih besar untuk berhasil dibandingkan orang yang hanya mengandalkan perhitungan hari tanpa memperbaiki kualitas usahanya.
Baca Juga: Ramalan Weton Pahing Agustus 2026: Siap-Siap Kejutan Rezeki dan Ujian Tak Terduga!
Pada bagian akhir pembahasan ditegaskan bahwa Islam mengajarkan Allah SWT sebagai Ar-Razzaq atau Maha Pemberi Rezeki.
Tidak ada hari, pasaran, maupun perhitungan tertentu yang dapat menjamin seseorang menjadi kaya ataupun mengalami kesialan tanpa kehendak Allah.
Karena itu, mempelajari Guru Dino dan Nogo Dino sebagai warisan budaya masih dapat dipahami selama tidak diyakini sebagai penentu mutlak nasib seseorang.
Kajian tersebut juga merangkum empat prinsip utama dalam menjemput rezeki, yakni bekerja dengan sungguh-sungguh, menjaga kejujuran, mempererat silaturahmi, serta memperbanyak doa dan rasa syukur.
Selain itu, masyarakat diingatkan agar tidak lebih percaya kepada hitungan dibandingkan kepada Tuhan.
Kesimpulannya, Guru Dino dan Nogo Dino merupakan bagian dari kekayaan budaya Jawa yang mengajarkan manusia untuk hidup dengan penuh pertimbangan, disiplin, dan kehati-hatian.
Sementara dalam perspektif Islam, hari terbaik bukan ditentukan oleh namanya, melainkan oleh bagaimana manusia mengisinya dengan ibadah, kerja keras, kejujuran, serta ketakwaan kepada Allah SWT.
Editor : Ahmad Fadhil Gusnaashir