JAKARTA – Cara menghitung hari baik boyongan menurut Primbon Jawa Aboge tidak hanya melihat hari dan pasaran kelahiran, tetapi juga mempertimbangkan arah tujuan, bulan, hingga sejumlah pantangan seperti Nogo Dino, Nogo Sasi, Nogo Taun, Rijal Dino, Kolo Wuku, dan Loro Pati. Perhitungan tersebut diyakini menjadi ikhtiar masyarakat Jawa sebelum pindah rumah atau memulai pekerjaan di tempat baru.
Dalam penjelasannya, pemilik kanal Warna Indonesia TV menegaskan bahwa setiap daerah memiliki pakem atau tata cara perhitungan yang bisa saja berbeda. Perbedaan tersebut merupakan hal yang lumrah dalam tradisi perhitungan Primbon Jawa.
Hari Kelahiran Menjadi Dasar Menghitung Hari Baik Boyongan
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengetahui hari dan pasaran kelahiran orang yang akan boyongan.
Apabila perpindahan dilakukan oleh sebuah keluarga, maka perhitungan menggunakan hari lahir kepala keluarga atau ayah. Selain itu, arah tujuan boyongan juga harus ditentukan sejak awal karena menjadi salah satu faktor utama dalam perhitungan.
Setelah itu, tentukan hari yang direncanakan untuk pindah. Hari tersebut harus sesuai dengan tiga langkah pasaran dari hari kelahiran.
Baca Juga: Weton Jumat Wage: 5 Pantangan Besar dan Hari Naas yang Dipercaya Bisa Memicu Kesialan
Namun, apabila salah satu pasaran tersebut bertepatan dengan hari wafat orang tua, maka pasaran tersebut tidak boleh digunakan sehingga pilihan hari menjadi lebih terbatas.
“Hitungan ini bertujuan agar kita terhindar dari hari yang dianggap kurang baik. Setelah menghitung, semuanya tetap diserahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa,” jelasnya.
Hari dan Bulan Harus Masuk Kategori Mulus Sebelum Menentukan Arah
Selain melihat hari kelahiran, perhitungan juga mengharuskan hari dan bulan yang dipilih masuk kategori baik.
Dalam contoh yang dijelaskan, dipilih Senin Pon, Wuku Mengatal, bertepatan dengan 29 Jumadil Awal atau 2 Desember 2024.
Hari tersebut dinilai memiliki kategori “mulus”, sedangkan bulan Jumadil Awal masih termasuk kategori kuning sehingga masih layak digunakan untuk boyongan.
Setelah hari dan bulan dipastikan baik, langkah berikutnya adalah menghindari enam pantangan arah yang terdiri atas:
- Nogo Dino
- Nogo Sasi
- Nogo Taun
- Rijal Dino
- Kolo Wuku
- Loro Pati
Perhitungan seluruh arah tersebut dilakukan menggunakan buku Pawukon.
Pada contoh Senin Pon, arah Nogo Dino berada di barat daya, sedangkan Nogo Sasi berada di tenggara.
Sementara itu, Nogo Taun pada bulan Jumadil Awal berada di timur.
Baca Juga: Rekomendasi HP Flagship 2026: Harga Naik, Ini Deretan HP Premium yang Masih Layak Dibeli
Tahapan berikutnya adalah menentukan Rijal Dino, yaitu arah yang dihitung berdasarkan neptu hari.
Dalam contoh tersebut, Senin Pon memiliki nilai neptu 11 sehingga arah Rijal Dino berada di timur.
Selanjutnya diperiksa Kolo Wuku yang pada Wuku Mengatal berada di timur laut sehingga arah tersebut juga harus dihindari.
Tahap terakhir ialah melihat posisi Waras Urip atau Loro Pati.
Untuk Senin Pon, posisi guru berada di barat, waras di timur, urip di selatan, sedangkan arah sakit (loro) berada di utara. Karena itu, arah utara tidak dianjurkan digunakan untuk boyongan.
Setelah seluruh pantangan tersebut dibandingkan dengan arah tujuan, diperoleh hasil bahwa arah barat laut tidak termasuk ke dalam enam arah yang harus dihindari.
Dengan demikian, berdasarkan contoh perhitungan tersebut, boyongan menuju arah barat laut menggunakan hari Senin Pon, Wuku Mengatal, pada bulan Jumadil Awal dinilai sebagai pilihan yang baik.
Meski demikian, pemilik kanal kembali mengingatkan bahwa seluruh perhitungan Primbon Jawa merupakan bentuk ikhtiar. Hasil akhirnya tetap diserahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai penentu segala sesuatu.
Editor : Ahmad Fadhil Gusnaashir