CIREBON - Kisah pesugihan tuyul kembali menjadi cerita yang diperbincangkan setelah Kang Oman mengungkap pengalaman membantu seorang perempuan yang disebut menjalani pesugihan selama delapan tahun. Dalam kisah tersebut, perempuan berinisial Mbak Ana mengaku memperoleh uang hingga Rp5 juta per hari, sebelum akhirnya berusaha menghentikan praktik tersebut.
Cerita itu disampaikan Kang Oman dalam sebuah tayangan Malam Mencekam. Menurut pengakuannya, Mbak Ana awalnya dikenal sebagai pedagang pindang di kawasan pasar dan memiliki kondisi ekonomi pas-pasan.
Baca Juga: Kasus HIV Didominasi Usia Produktif, Penyuluh Agama Ajak Perkuat Hifzh an-Nasl untuk Jaga Generasi
Menurut cerita Kang Oman, Mbak Ana mulai berkeinginan menjadi kaya setelah membandingkan kehidupannya dengan sejumlah teman yang dianggap lebih sukses. Ia kemudian mendapat informasi mengenai praktik pesugihan dan disarankan pergi ke Gunung Serandil, Cilacap.
Mbak Ana disebut berangkat bersama seorang teman untuk mengetahui prosesnya. Namun, setibanya di lokasi, ia justru memutuskan menjalani ritual setelah mendapat penjelasan mengenai risiko yang akan dihadapi.
Dalam cerita tersebut, ritual dilakukan pada Selasa Kliwon. Mbak Ana disebut diminta menyiapkan sejumlah benda, termasuk minyak, makanan, pakaian yang dikenakan, serta mainan anak-anak.
Baca Juga: Alokasi Anggaran Belum Ideal Belanja Pegawai Membengkak Pembahasan APBD 2027 Ditunda
Kang Oman mengaku mendapat cerita bahwa setelah ritual, Mbak Ana melihat sosok yang disebut sebagai induk tuyul. Sosok tersebut kemudian dikaitkan dengan kemampuan memperoleh uang sekitar Rp5 juta per hari.
Setelah kembali ke rumah, Mbak Ana disebut mulai menemukan uang di bawah kasur. Ia kemudian menganggap uang tersebut sebagai hasil dari pesugihan yang dijalaninya.
Kang Oman menyebut praktik tersebut berlangsung selama sekitar delapan tahun. Selama periode itu, Mbak Ana disebut mampu membeli rumah dan mengumpulkan uang dalam jumlah besar.
Namun, kehidupan tersebut tidak sepenuhnya membuatnya tenang. Menurut cerita Kang Oman, rumah Mbak Ana berada di dekat musala yang rutin mengadakan pengajian tentang kesyirikan.
Dari pengajian tersebut, Mbak Ana disebut mulai menyadari bahwa praktik yang dijalaninya bertentangan dengan keyakinannya. Ia kemudian meminta bantuan Kang Oman untuk menghentikan pesugihan tersebut.
Kang Oman juga menceritakan bahwa Mbak Ana sempat menemui pihak yang sebelumnya membantunya menjalani ritual. Namun, ia disebut mendapat jawaban bahwa perjanjian tersebut tidak dapat dihentikan karena masih menyisakan tujuh tahun.
Dalam cerita itu, sebelumnya terdapat 15 bunga yang diberikan setelah ritual. Bunga tersebut disebut berkurang satu setiap tahun sehingga menjadi penanda sisa waktu perjanjian.
Kang Oman kemudian mengajak Mbak Ana menjalani proses penghentian ritual melalui kegiatan keagamaan. Ia juga meminta agar uang yang disebut berasal dari pesugihan dikumpulkan.
Dalam salah satu proses yang diceritakan, Mbak Ana disebut mengalami kondisi tidak nyaman dan kemudian mengeluarkan bunga yang sebelumnya dikaitkan dengan ritual tersebut. Kang Oman menganggap kejadian itu sebagai bagian dari proses penghentian pesugihan.
Setelah itu, Mbak Ana disebut mulai menjalankan ibadah dan bertobat. Kang Oman menyampaikan nasihat agar masyarakat tidak mencari kekayaan melalui praktik yang dianggap syirik.
Cerita tersebut juga menyebut bahwa uang dalam jumlah besar yang sebelumnya dikumpulkan akhirnya tidak lagi ditemukan. Namun, seluruh kisah mengenai hilangnya uang, keberadaan makhluk gaib, serta penyebab kejadian tersebut merupakan pengakuan dalam tayangan dan tidak disertai bukti independen yang dapat memverifikasi klaim supranatural tersebut.
Pada akhir tayangan, Kang Oman mengingatkan penonton agar tidak mengambil jalan pintas untuk mendapatkan kekayaan. Ia menganjurkan masyarakat memperkuat iman dan menjauhi praktik yang dianggap bertentangan dengan ajaran agama.
Editor : Cendikiawan Tristan Valentino