JAKARTA - Kisah tuyul kembali menjadi sorotan setelah Abah Majam menceritakan pengalaman mengantarkan seorang temannya, yang disebut Budi, membeli tuyul pada 2005. Menurut cerita Abah Majam, kehidupan ekonomi Budi berubah drastis hingga memiliki rumah, tanah, kebun sawit, dan sejumlah mobil.
Kisah Tuyul Berawal dari Teman yang Terlilit Ekonomi
Kisah tuyul tersebut bermula ketika Budi, seorang pedagang pakaian asal Jawa, bertemu kembali dengan Abah Majam di Jambi. Saat itu, Budi mengaku mengalami kesulitan ekonomi setelah berjualan pakaian di Lampung selama setahun dan Jambi selama delapan bulan.
Budi kemudian mencoba berjualan bakso keliling. Namun, usaha tersebut juga disebut tidak memberikan hasil selama berbulan-bulan. Dalam kondisi putus asa, Budi akhirnya meminta bantuan Abah Majam untuk mengantarkannya mencari tuyul.
Baca Juga: Tiap Tahun Ratusan Guru Purnatugas, Beban Mengajar di Trenggalek Kian Berat
Abah Majam mengaku sempat menolak permintaan tersebut. Namun, setelah berdiskusi dengan keluarga, ia akhirnya bersedia mengantar Budi ke sebuah lokasi yang disebut berkaitan dengan praktik mistis tersebut.
Perjalanan menuju lokasi berlangsung sekitar empat hingga enam jam. Dalam cerita yang disampaikan Abah Majam, Budi kemudian bertemu seorang kuncen dan menjalani proses yang disebut sebagai ritual pembelian tuyul.
Menurut Abah Majam, harga tuyul yang ditawarkan saat itu bervariasi. Budi disebut memilih yang paling murah, dengan kisaran harga Rp5 juta, sedangkan yang paling mahal mencapai sekitar Rp10 juta.
Ekonomi Budi Disebut Berubah Setelah Ritual
Baca Juga: Kasus HIV Didominasi Usia Produktif, Penyuluh Agama Ajak Perkuat Hifzh an-Nasl untuk Jaga Generasi
Dalam kisah yang disampaikan, kondisi ekonomi Budi mulai membaik setelah menjalani ritual tersebut. Dalam waktu sekitar tiga bulan, Budi disebut sudah mampu membeli sepeda motor.
Setahun kemudian, ia dikisahkan mulai membeli tanah dan membangun rumah permanen. Kekayaannya terus bertambah hingga memiliki rumah mewah, sejumlah kendaraan, serta kebun sawit.
Namun, Abah Majam juga menceritakan konsekuensi yang dikaitkan dengan praktik tersebut. Menurut pengakuannya, istri pertama Budi mengalami kondisi kesehatan yang memburuk hingga akhirnya meninggal dunia.
Budi kemudian menikah kembali. Dalam cerita itu, istri berikutnya juga disebut mengalami kondisi serupa. Abah Majam menyebut Budi beberapa kali menikah karena adanya kepercayaan bahwa sosok tuyul tersebut membutuhkan susu dari seorang perempuan.
Cerita tersebut kembali muncul ketika Abah Majam melihat kondisi rumah Budi yang disebut sangat mewah. Ia mengaku menemukan suasana yang menurutnya berbeda dari rumah biasa, termasuk sebuah ruangan yang hanya boleh dimasuki Budi.
Abah Majam juga menyebut Budi tidak terlihat seperti orang kaya dalam kehidupan sehari-hari. Meski memiliki banyak aset, Budi disebut tetap berpakaian sederhana dan tidak banyak menunjukkan kekayaannya kepada orang lain.
Abah Majam Menyesal Pernah Mengantarkan Budi
Dalam wawancara tersebut, Abah Majam mengaku mengetahui bahwa Budi masih menjalankan praktik yang sama. Ia menyebut Budi telah menikah hingga enam kali dan terus berpindah rumah dalam satu kota.
Abah Majam memperkirakan nilai aset Budi kini sudah mencapai angka miliaran rupiah. Aset tersebut disebut berupa tanah, rumah, kebun sawit, dan kendaraan.
Meski demikian, Abah Majam mengaku tidak mengetahui bagaimana akhir dari praktik yang dijalankan Budi. Ia juga menegaskan bahwa dirinya kini menyesal pernah membantu mengantarkan sang teman.
“Sangat menyesal sekali. Saya hanya menyesal karena jalan yang ditempuhnya itu salah,” kata Abah Majam dalam tayangan tersebut.
Ia kemudian mengingatkan masyarakat agar tidak mengikuti jejak Budi. Menurut Abah Majam, mencari rezeki seharusnya dilakukan melalui cara yang halal, meski hasilnya tidak besar.
Cerita tentang kisah tuyul tersebut disampaikan sebagai pengalaman dan pengakuan narasumber dalam sebuah tayangan YouTube. Tidak ada bukti yang ditampilkan dalam transkrip untuk membuktikan keberadaan tuyul maupun hubungan sebab-akibat antara praktik tersebut dengan kekayaan atau kondisi kesehatan seseorang.
Abah Majam menutup ceritanya dengan pesan agar masyarakat tidak mencoba mengikuti praktik tersebut. Ia mengaku kehidupannya justru terasa lebih nyaman setelah meninggalkan dunia yang sebelumnya ia jalani dan memilih menjalani kehidupan yang menurutnya lebih berkah.
Editor : Cendikiawan Tristan Valentino