TRENGGALEKNJENGGELEK,JAWAPOS.COM - Naga Dina dan Patine Dina menjadi bagian dari perhitungan tradisional Jawa yang masih digunakan sebagian masyarakat untuk menentukan arah dalam menjalani berbagai aktivitas. Perhitungan tersebut dikaitkan dengan weton, neptu hari, serta neptu pasaran dan dipercaya dapat menjadi pedoman ketika seseorang hendak melakukan perjalanan, berdagang, pindah rumah hingga menggelar hajatan besar.
Dalam tradisi Jawa, Naga Dina disebut sebagai kekuatan atau kejayaan sebuah hari. Arah yang ditempati Naga Dina dipercaya menjadi lokasi “jayanya dina” atau kekuatan hari tersebut. Sementara itu, Patine Dina dimaknai sebagai “kematian hari” atau arah yang sebaiknya dihindari ketika seseorang hendak melakukan kegiatan penting.
Penjelasan mengenai Naga Dina dan Patine Dina tersebut disampaikan dalam sebuah video yang membahas cara menghitung keduanya menggunakan neptu hari dan pasaran. Perhitungan dimulai dengan mengetahui nilai neptu masing-masing hari dan pasaran dalam kalender Jawa.
Cara Menghitung Naga Dina
Nilai neptu hari dalam perhitungan Jawa adalah Minggu 5, Senin 4, Selasa 3, Rabu 7, Kamis 8, Jumat 6, dan Sabtu 9. Sedangkan neptu pasaran terdiri atas Legi 5, Pahing 9, Pon 7, Wage 4, dan Kliwon 8.
Setelah mengetahui nilai tersebut, neptu hari dan pasaran dijumlahkan. Sebagai contoh, Sabtu Legi memiliki neptu 14 karena Sabtu bernilai 9 dan Legi bernilai 5.
Angka 14 kemudian dihitung mulai dari arah timur atau wetan. Urutan arahnya adalah timur, selatan, barat, utara, kemudian kembali ke timur. Dalam contoh Sabtu Legi, hitungan ke-14 jatuh di arah selatan.
Dengan demikian, dalam perhitungan tradisional tersebut, Naga Dina Sabtu Legi berada di selatan. Arah selatan kemudian disebut sebagai kekuatan atau “jayane dina” untuk Sabtu Legi.
Baca Juga: 78 Siswa Masih Sakit Satgas Catat 549 Korban Tak Hanya Satu Sekolah
Cara Menghitung Patine Dina
Setelah mengetahui Naga Dina, perhitungan dilanjutkan untuk menentukan Patine Dina. Dalam kepercayaan Jawa, Patine Dina dianggap sebagai arah yang perlu dihindari ketika seseorang mempunyai keperluan besar.
Untuk contoh Sabtu Legi, angka neptu yang digunakan tetap 14. Hitungan pertama dilakukan pada urutan hari, dimulai dari Sabtu. Setelah dihitung sebanyak 14 langkah, hasilnya kembali jatuh pada Sabtu.
Berikutnya, angka 14 digunakan untuk menghitung pasaran. Dimulai dari Legi dan dilanjutkan Pahing, Pon, Wage, Kliwon hingga kembali ke Legi. Hasil hitungan tersebut jatuh pada Kliwon.
Dengan demikian, Patine Dina untuk Sabtu Legi adalah Sabtu Kliwon. Neptu Sabtu Kliwon kemudian dihitung kembali, yakni Sabtu 9 ditambah Kliwon 8 sehingga menghasilkan angka 17.
Arah Patine Dina Dipercaya Perlu Dihindari
Angka 17 kemudian dihitung mulai dari timur dengan urutan timur, selatan, barat, dan utara. Berdasarkan hitungan tersebut, angka 17 jatuh di arah timur.
Artinya, dalam contoh tersebut, arah Patine Dina Sabtu Legi berada di timur. Masyarakat yang masih memegang perhitungan ini dianjurkan menghindari arah tersebut ketika menjalankan kegiatan penting.
Contohnya, seseorang yang hendak berdagang pada Sabtu Legi dipercaya sebaiknya tidak menuju timur. Begitu pula ketika hendak pindah rumah atau menggelar acara besar seperti prosesi pernikahan.
Perhitungan Naga Dina dan Patine Dina pada dasarnya merupakan bagian dari pengetahuan tradisional dan kepercayaan dalam budaya Jawa. Tidak ada bukti ilmiah bahwa arah tertentu secara langsung menentukan rezeki, keberuntungan atau kesialan seseorang.
Namun, bagi masyarakat yang masih menjalankan tradisi hitungan weton, pengetahuan tersebut dapat menjadi bagian dari pertimbangan sebelum menentukan hari dan arah untuk berbagai keperluan.
Baca Juga: Kekurangan Guru, PGRI Tagih Janji Pemerintah
Editor : Fadhilah Salsa BellaSumber : pinterest