TRENGGALEKNJENGGELEK,JAWAPOS.COM- Arah hari menurut Primbon Jawa dipercaya sebagian masyarakat dapat menjadi petunjuk sebelum menjalankan aktivitas penting. Setiap hari disebut memiliki arah berbeda yang dikaitkan dengan tiga kategori, yakni arah “hidup”, “mati”, dan “sakit”. Perhitungan ini biasanya digunakan untuk menentukan arah ketika seseorang keluar rumah atau hendak menjalankan kegiatan yang dianggap penting.
Kepercayaan mengenai arah hari menurut Primbon Jawa tersebut masih menjadi bagian dari tradisi masyarakat Jawa. Arah “hidup” dipercaya sebagai arah yang baik untuk dituju, sedangkan arah “mati” dan “sakit” sebaiknya dihindari. Penggunaannya lebih sering dikaitkan dengan kegiatan besar seperti hajatan, perkawinan, urusan pekerjaan, atau keperluan yang dianggap menentukan.
Dalam sebuah penjelasan mengenai Primbon Jawa, masyarakat yang mengikuti petunjuk tersebut bahkan dianjurkan mengarahkan langkah pertama ketika keluar rumah sesuai arah “hidup”. Jika tujuan akhirnya berada di arah yang dianggap kurang baik, seseorang dapat terlebih dahulu menuju arah yang baik, kemudian memutar menuju lokasi tujuan.
Baca Juga: Kekurangan Guru, PGRI Tagih Janji Pemerintah
Arah Hari Senin hingga Kamis
Untuk Senin, arah “hidup” disebut berada di selatan. Karena itu, seseorang yang hendak menjalankan aktivitas penting dianjurkan keluar rumah menuju selatan terlebih dahulu. Arah utara disebut sebagai “mati”, sedangkan timur dan barat juga tidak dianjurkan sebagai arah awal.
Selasa memiliki arah “hidup” di utara. Sementara itu, barat disebut sebagai arah “mati” dan timur sebagai arah “sakit”. Karena itu, arah utara menjadi pilihan utama ketika seseorang hendak memulai perjalanan.
Pada Rabu, terdapat dua arah yang disebut sebagai arah “hidup”, yakni utara dan timur. Arah selatan menjadi “mati”, sedangkan barat dikaitkan dengan “sakit”.
Kemudian Kamis memiliki dua arah “hidup”, yakni timur dan selatan. Dalam perhitungan tersebut, utara menjadi arah “mati” dan barat menjadi arah “sakit”.
Arah Hari Jumat hingga Minggu
Memasuki Jumat, arah “hidup” berada di utara. Arah selatan disebut sebagai “mati”, sedangkan timur dan barat masuk dalam kategori “sakit”. Karena itu, masyarakat yang mempercayai hitungan tersebut dianjurkan memulai perjalanan menuju utara.
Sabtu memiliki arah “hidup” di barat. Sebaliknya, utara menjadi arah “mati”, sementara selatan dan timur dikaitkan dengan arah “sakit”.
Untuk Minggu, arah “hidup” berada di timur dan selatan. Arah barat menjadi “mati”, sedangkan utara disebut sebagai arah “sakit”.
Baca Juga: 78 Siswa Masih Sakit Satgas Catat 549 Korban Tak Hanya Satu Sekolah
Tidak Berlaku untuk Semua Aktivitas
Dalam penjelasan tersebut, petunjuk arah hari menurut Primbon Jawa tidak harus digunakan untuk aktivitas sehari-hari yang bersifat sederhana. Perhitungan lebih ditujukan bagi kegiatan yang dianggap penting dalam kehidupan.
Contohnya ketika seseorang hendak menghadap atasan, menjalankan urusan pekerjaan penting, menggelar perkawinan, atau melakukan kegiatan besar lainnya. Sementara bepergian untuk bersilaturahmi atau mengunjungi keluarga tidak dianggap perlu mengikuti perhitungan tersebut.
Jika seseorang harus menuju arah yang dianggap “mati” atau “sakit”, terdapat cara yang dipercaya dapat dilakukan. Misalnya pada Senin, ketika arah “hidup” berada di selatan tetapi tujuan berada di utara, seseorang dapat keluar rumah menuju selatan terlebih dahulu sebelum berputar dan melanjutkan perjalanan ke utara.
Tradisi yang Diwariskan Leluhur
Petunjuk arah dalam Primbon Jawa merupakan bagian dari pengetahuan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Kepercayaan tersebut tidak dapat dijadikan kepastian ilmiah mengenai keselamatan, kesehatan, rezeki, maupun keberhasilan seseorang.
Bagi masyarakat yang mempercayainya, hitungan tersebut dapat menjadi bagian dari ikhtiar dan pertimbangan sebelum melakukan kegiatan penting. Sementara itu, keputusan akhir tetap bergantung pada usaha, perencanaan dan keyakinan masing-masing.
Baca Juga: Satu Anak Diduga Keracunan MBG Dirawat di RSUD Dehidrasi Berat, Muntah dan Diare Lebih dari 10 Kali
Editor : Fadhilah Salsa BellaSumber : pinterest