TRENGGALEKNJENGGELEK,JAWAPOS.COM- Hari baik menanam menurut hitungan Jawa masih menjadi bagian dari tradisi yang dipertahankan sebagian masyarakat, khususnya petani yang ingin mengikuti pakem warisan leluhur. Perhitungan ini membagi jenis tanaman ke dalam empat kategori, yakni oyot, wit, godong, dan woh.
Tradisi mencari hari baik menanam dipercaya sebagai salah satu bentuk ikhtiar agar tanaman tumbuh baik dan hasil panen sesuai harapan. Para sesepuh Jawa pada masa lalu menggunakan perhitungan tersebut sebelum mulai menanam, antara lain dengan harapan tanaman terhindar dari gangguan hama seperti wereng.
Meski demikian, hasil pertanian tetap diyakini berada di luar kendali manusia. Perhitungan hari baik dalam tradisi Jawa dipandang sebagai ikhtiar, sedangkan hasil akhirnya tetap bergantung pada Tuhan serta kondisi pertanian yang sebenarnya.
Empat Kategori Tanaman dalam Hitungan Jawa
Dalam pakem yang dijelaskan, terdapat empat kategori yang digunakan untuk menentukan waktu menanam. Pertama adalah oyot, yang berarti akar. Kategori ini digunakan untuk tanaman yang bagian hasilnya berada di dalam tanah, seperti ketela dan kacang tanah.
Kedua adalah wit, yang berarti pohon. Kategori ini dapat digunakan untuk tanaman yang menghasilkan bagian utama pada batang atau pohonnya, termasuk tebu.
Ketiga adalah godong, yang berarti daun. Perhitungan ini identik dengan tanaman sayuran yang bagian daunnya menjadi hasil utama.
Keempat adalah woh, yakni buah. Kategori tersebut digunakan untuk tanaman yang hasil utamanya berupa buah yang tumbuh atau bergantung pada tanaman.
Baca Juga: 11 Jenderal Baru Polri Hasil Mutasi 25 Juni 2026, Ini Daftar dan Jabatan Barunya
Neptu Menentukan Jenis Hari
Cara menghitung hari baik menanam menurut hitungan Jawa dilakukan dengan menggunakan neptu hari. Nilai neptu tersebut kemudian dibagi empat. Sisa hasil pembagian menjadi penentu kategori tanaman.
Untuk kategori oyot, hari yang digunakan memiliki neptu 13, 17, atau 9. Dalam contoh yang diberikan, neptu 13 dibagi empat menghasilkan sisa satu. Sisa tersebut masuk kategori oyot.
Sementara kategori wit menggunakan neptu 10, 14, dan 18. Salah satu contohnya adalah Selasa Pon yang memiliki neptu 10. Angka tersebut dibagi empat dan menghasilkan sisa dua sehingga masuk kategori wit.
Untuk kategori godong, neptu yang digunakan adalah 7, 11, dan 15. Rabu Wage menjadi salah satu contoh dengan neptu 11. Setelah dibagi empat, tersisa tiga yang masuk kategori godong.
Adapun kategori woh menggunakan neptu 8, 12, dan 16. Rabu Legi, misalnya, memiliki neptu 12 sehingga termasuk dalam kategori tersebut.
Jangan Abaikan Pantangan dalam Hitungan
Selain menentukan kategori tanaman, terdapat pula beberapa hal yang dipercaya perlu dihindari. Salah satunya adalah menggunakan hari yang bertepatan dengan geblak atau hari meninggalnya orang tua.
Hari yang memiliki kaitan dengan peristiwa tersebut disebut sebaiknya tidak digunakan meskipun secara perhitungan masuk kategori baik untuk menanam. Hari yang dianggap sebagai Nas atau pantangan pribadi juga perlu diperhatikan.
Dengan demikian, memilih waktu menanam tidak hanya berdasarkan angka neptu. Petani yang mengikuti tradisi ini juga perlu memperhatikan berbagai pantangan yang dipercaya berkaitan dengan keluarga dan weton.
Baca Juga: 78 Siswa Masih Sakit Satgas Catat 549 Korban Tak Hanya Satu Sekolah
Tidak Menggunakan Perhitungan Mongso
Dalam penjelasan tersebut, perhitungan hari baik menanam tidak menggunakan sistem mongso atau musim Jawa. Alasannya, kondisi cuaca saat ini dianggap jauh lebih sulit diprediksi dibandingkan masa lalu.
Perubahan pola hujan membuat petani perlu menyesuaikan waktu tanam dengan kondisi nyata di lapangan. Karena itu, perhitungan tradisional tersebut dapat diposisikan sebagai bagian dari pelestarian budaya, sementara keputusan bercocok tanam tetap perlu mempertimbangkan cuaca, kondisi tanah, ketersediaan air, benih dan pengendalian hama.
Selain waktu tanam, kesuburan tanah juga menjadi faktor penting. Tanah yang kurang subur dapat dibantu dengan memperbanyak penggunaan pupuk alami seperti pupuk kandang atau kompos.
Pemupukan organik dinilai penting untuk menjaga kualitas tanah dalam jangka panjang. Dengan menggabungkan pengetahuan pertanian modern dan kearifan lokal, petani diharapkan dapat meningkatkan peluang memperoleh hasil panen yang lebih baik.
Editor : Fadhilah Salsa BellaSumber : pinterest