MALANG - Kerajaan Singosari menjadi salah satu kerajaan bercorak Hindu Buddha yang memiliki sejarah panjang di Jawa Timur. Berdiri setelah Tumapel melepaskan diri dari pengaruh Kediri, kerajaan ini mengalami pergantian kekuasaan yang penuh konflik sebelum mencapai masa kejayaan pada pemerintahan Kertanegara.
Kerajaan Singosari berada di daerah Singosari, Malang, Jawa Timur. Pendiri sekaligus raja pertamanya adalah Ken Arok. Sebelum dikenal sebagai Singosari, kerajaan tersebut merupakan Kerajaan Tumapel.
Kisah Ken Arok banyak diriwayatkan dalam Serat Pararaton. Dalam cerita tersebut, Ken Arok memiliki perjalanan hidup yang panjang sebelum akhirnya masuk ke lingkungan istana Tumapel.
Ken Arok kemudian mengabdi kepada Tunggul Ametung, akuwu Tumapel. Namun, ia jatuh hati kepada Ken Dedes, istri Tunggul Ametung. Ken Arok kemudian merencanakan pembunuhan terhadap Tunggul Ametung dengan memesan keris kepada Mpu Gandring.
Setelah Tunggul Ametung tewas, Ken Arok menikahi Ken Dedes. Ia juga menikahi Ken Umang. Dengan dukungan para Brahmana, Ken Arok kemudian mengkudeta kekuasaan Sri Kertajaya sebagai Raja Kediri dan membebaskan Tumapel dari kekuasaan Kadiri.
Ken Arok naik takhta sebagai raja pertama Tumapel. Dalam sejumlah sumber yang disebut dalam transkrip, ia menggunakan gelar abhiseka Rangga Rajasa Sang Girinathaputra. Keberadaan tokoh Ken Arok juga disebut tercatat dalam Prasasti Mula Malurung yang berangka tahun 1255.
Perebutan Takhta Berlanjut
Kekuasaan Ken Arok tidak berakhir dengan damai. Dari perkawinannya dengan Ken Dedes, Ken Arok memiliki beberapa anak, termasuk Anusapati yang merupakan putra Ken Dedes dengan Tunggul Ametung.
Baca Juga: Toyota Fortuner 2.8 GR Sport 4x4 2025: Mesin 204 HP, Fitur Makin Lengkap
Saat dewasa, Anusapati mengetahui bahwa dirinya bukan anak Ken Arok. Ia kemudian meminta keris yang digunakan untuk membunuh ayah kandungnya. Anusapati memerintahkan seorang pengalasan dari Desa Batil untuk membunuh Ken Arok menggunakan keris Mpu Gandring.
Ken Arok akhirnya tewas. Anusapati kemudian naik takhta sebagai raja Tumapel kedua dengan gelar Batara Anusapati. Menurut Serat Pararaton, Anusapati memerintah pada 1247 hingga 1249.
Setelah itu, Anusapati dibunuh Tohjaya, putra Ken Arok dengan Ken Umang. Tohjaya kemudian menjadi raja Tumapel. Namun, kekuasaannya kembali menghadapi perlawanan.
Ranggawuni dan Mahisa Campaka melakukan perlawanan terhadap Tohjaya. Ranggawuni kemudian menjadi raja Tumapel dengan gelar Wisnuwardhana. Pada masa pemerintahannya, pusat pemerintahan Tumapel dipindahkan dari Kotaraja ke Singosari. Sejak saat itu, nama Singosari semakin dikenal.
Ranggawuni juga disebut berhasil menumpas pemberontakan Linggapati di Daha pada 1252. Masa pemerintahannya menjadi awal perkembangan Singosari sebelum kerajaan tersebut mencapai puncak kejayaan.
Kertanegara dan Akhir Singosari
Setelah Ranggawuni wafat, Kertanegara naik takhta sebagai raja terakhir Singosari dari Wangsa Rajasa. Ia dikenal sebagai penguasa yang memiliki gagasan memperluas kekuasaan Singosari ke wilayah Nusantara.
Baca Juga: Tagihan Rp 15 Juta Dibebaskan
Pada 1275, Kertanegara mengirim pasukan dalam Ekspedisi Pamalayu untuk mendukung ekspansi kekuasaannya. Pengaruh Singosari juga diperluas melalui hubungan dengan Champa setelah Kertanegara menikahkan putrinya dengan raja Champa.
Namun, kebijakan Kertanegara juga menimbulkan ketidakpuasan di lingkungan kerajaan. Sejumlah pejabat mengalami penurunan jabatan atau mutasi setelah dianggap menentang kebijakannya.
Di tengah kondisi tersebut, Singosari menghadapi pemberontakan Jayakatwang, Bupati Gelang-gelang yang masih memiliki hubungan keturunan dengan Kertajaya. Pemberontakan pada 1292 tersebut berhasil menembus pertahanan Singosari ketika banyak pasukan kerajaan berada di luar Jawa.
Kertanegara akhirnya terbunuh dalam pemberontakan tersebut. Berakhirnya pemerintahan Kertanegara sekaligus menandai runtuhnya Kerajaan Singosari.
Jayakatwang kemudian menjadi penguasa di Singosari dengan Daha sebagai ibu kota. Namun, kekuasaannya tidak berlangsung lama. Pada 1293, Majapahit yang didirikan Raden Wijaya menyerang Jayakatwang dengan bantuan pasukan Mongol.
Setelah Jayakatwang dikalahkan, pasukan Mongol justru diserang balik oleh pihak Majapahit hingga terusir dari tanah Jawa. Dengan demikian, runtuhnya Singosari menjadi bagian dari rangkaian sejarah yang kemudian mengantarkan berdirinya Majapahit.
Editor : Maylanni Diana Fitri