MALANG - Kerajaan Singosari berakhir setelah Raja Kertanegara tewas dalam pemberontakan Jayakatwang pada 1292. Peristiwa tersebut menjadi penutup perjalanan kerajaan bercorak Hindu Buddha yang sebelumnya tumbuh dari Tumapel dan mencapai perkembangan besar pada masa pemerintahan Kertanegara.
Sebelum bernama Singosari, kerajaan tersebut dikenal sebagai Tumapel. Pendiri sekaligus raja pertamanya adalah Ken Arok. Setelah berhasil membebaskan Tumapel dari kekuasaan Kadiri, Ken Arok naik takhta sebagai raja pertama.
Kisah mengenai Ken Arok banyak diriwayatkan dalam Serat Pararaton. Dalam cerita itu, perjalanan Ken Arok menuju takhta tidak berlangsung sederhana. Ia sempat hidup berpindah-pindah sebelum akhirnya bertemu dengan Lohgawe dan kemudian datang ke istana Tumapel.
Ken Arok mengabdi kepada Tunggul Ametung, akuwu Tumapel. Namun, ia kemudian jatuh hati kepada Ken Dedes, istri Tunggul Ametung. Keinginan tersebut mendorong Ken Arok merencanakan pembunuhan Tunggul Ametung.
Ia memesan keris kepada Mpu Gandring. Keris tersebut kemudian digunakan untuk membunuh Tunggul Ametung. Setelah itu, Ken Arok menikahi Ken Dedes dan kemudian menjadi penguasa Tumapel.
Dengan dukungan para Brahmana, Ken Arok melakukan kudeta terhadap Sri Kertajaya, Raja Kediri. Tumapel kemudian terbebas dari kekuasaan Kadiri. Ken Arok naik takhta dan menggunakan gelar Rangga Rajasa Sang Girinathaputra.
Takhta Singosari Diwarnai Konflik Keluarga
Kekuasaan Ken Arok kemudian diteruskan oleh Anusapati. Konflik ini berawal dari hubungan keluarga Ken Dedes dengan Tunggul Ametung.
Baca Juga: Pajero Dakar 2017 Ditawarkan Rp359 Juta, Dapat Interior Black Piano
Ken Dedes memiliki seorang anak dari Tunggul Ametung bernama Anusapati. Setelah dewasa, Anusapati mengetahui bahwa Ken Arok bukan ayah kandungnya. Ia kemudian meminta keris yang digunakan untuk membunuh Tunggul Ametung.
Seorang pengalasan dari Desa Batil akhirnya diperintahkan membunuh Ken Arok dengan keris Mpu Gandring. Ken Arok tewas pada 1170 Saka. Anusapati kemudian naik takhta sebagai raja Tumapel kedua dan memerintah pada 1247 hingga 1249 menurut Serat Pararaton.
Anusapati selanjutnya dibunuh Tohjaya, putra Ken Arok dengan Ken Umang. Setelah menjadi raja, Tohjaya kembali menghadapi perlawanan. Ranggawuni dan Mahisa Campaka kemudian melakukan kudeta terhadap kekuasaannya.
Ranggawuni akhirnya naik takhta sebagai raja Tumapel dengan nama Wisnuwardhana. Pada masa pemerintahannya, pusat pemerintahan dipindahkan dari Kotaraja Tumapel ke Singosari. Sejak itu, nama Singosari semakin dikenal.
Ranggawuni juga disebut berhasil menumpas pemberontakan Linggapati di Daha pada 1252. Pemerintahannya menjadi salah satu fase penting sebelum Singosari memasuki masa kejayaan.
Kertanegara dan Pemberontakan Jayakatwang
Setelah Ranggawuni meninggal, Kertanegara naik takhta sebagai raja terakhir Singosari dari Wangsa Rajasa. Ia dikenal sebagai penguasa yang memiliki gagasan memperluas kekuasaan Singosari ke wilayah Nusantara.
Baca Juga: Moto3 Austria 2026: Maximo Quiles Juara, Veda Ega Pratama Finis ke-13
Pada 1275, Kertanegara mengirim pasukan dalam Ekspedisi Pamalayu. Pengaruh Singosari juga diperluas melalui hubungan dengan Champa. Namun, ambisi ekspansi tersebut berjalan bersamaan dengan berbagai persoalan di dalam pemerintahan.
Kertanegara dikenal memiliki kemauan yang keras. Menurut sumber yang disebut dalam transkrip, sejumlah pejabat yang menentang kebijakannya mengalami penurunan jabatan atau mutasi. Kondisi itu memunculkan ketidakpuasan di lingkungan kerajaan.
Ancaman terbesar kemudian datang dari Jayakatwang, Bupati Gelang-gelang. Pada 1292, Jayakatwang memberontak ketika sebagian kekuatan Singosari digunakan untuk mendukung ekspansi ke luar wilayah.
Pemberontakan tersebut berhasil. Kertanegara yang tengah berpesta minuman keras tewas dalam serangan Jayakatwang bersama sejumlah pejabat kerajaan. Peristiwa itu mengakhiri pemerintahan Kertanegara sekaligus riwayat Kerajaan Singosari.
Jayakatwang kemudian menjadi penguasa dengan Daha sebagai ibu kota. Namun, kekuasaannya tidak berlangsung lama. Raden Wijaya, yang kemudian mendirikan Majapahit, menyerang Jayakatwang pada 1293 dengan bantuan pasukan Mongol.
Setelah Jayakatwang dikalahkan, pasukan Mongol justru diserang balik oleh pihak Majapahit hingga keluar dari tanah Jawa. Rangkaian peristiwa tersebut menjadi penghubung antara berakhirnya Singosari dan munculnya Majapahit sebagai kerajaan penerusnya.
Editor : Maylanni Diana Fitri