MALANG - Kerajaan Singasari tidak hanya dikenal lewat kisah Ken Arok, perebutan takhta, dan kejayaan Raja Kertanegara. Kerajaan bercorak Hindu Buddha yang berpusat di Malang, Jawa Timur, itu juga memiliki kehidupan masyarakat yang ditopang pertanian, perdagangan, pelayaran, serta budaya yang berkembang.
Kerajaan Singasari berdiri pada 122 Masehi setelah Ken Arok berhasil menaklukkan Raja Kertajaya dari Kerajaan Kediri. Sebelum dikenal sebagai Singasari, kerajaan tersebut disebut sebagai Tumapel. Nama itu berkaitan dengan pusat pemerintahan yang sebelumnya berada di wilayah Kutaraja, Tumapel.
Setelah pusat kerajaan dipindahkan ke Singosari di Malang, nama Singasari kemudian semakin dikenal. Informasi mengenai kerajaan ini disebut terdapat dalam sejumlah sumber, di antaranya Kitab Pararaton, Kitab Negarakertagama, Prasasti Kudadu, serta berita Cina dari Dinasti Yuan.
Kehidupan masyarakat Singasari sendiri memiliki pembagian status sosial. Masyarakat terbagi menjadi kelompok kelas atas yang terdiri atas raja dan bangsawan, serta kelas bawah yang terdiri atas rakyat jelata. Penduduk juga diwajibkan membayar upeti atau pajak kepada raja.
Wilayah kerajaan yang subur membuat sektor pertanian dan perkebunan menjadi salah satu penopang perekonomian. Sungai Brantas memiliki peran penting karena dimanfaatkan untuk irigasi, pelayaran, dan perdagangan.
Pusat-pusat perdagangan kemudian didirikan di sepanjang Sungai Brantas hingga Pasuruan. Wilayah Pasuruan disebut memiliki pelabuhan dagang yang menjadi pusat aktivitas perdagangan dengan bangsa asing.
Ramainya perdagangan membuat Kerajaan Singasari disebut mampu menguasai jalur perdagangan dari Selat Malaka bagian barat hingga Kepulauan Maluku di bagian timur. Komoditas yang diperdagangkan meliputi beras, emas, kayu cendana, dan rempah-rempah.
Agama dan Budaya Kerajaan Singasari
Dalam kehidupan keagamaan, masyarakat Singasari mengenal Hindu, Buddha, dan Tantrayana. Tantrayana dalam pembahasan tersebut disebut sebagai ajaran sinkretisme atau perpaduan antara ajaran Hindu Siwa dan Buddha.
Baca Juga: Toyota Fortuner 2.8 GR Sport 4x4 2025: Mesin 204 HP, Fitur Makin Lengkap
Kegiatan keagamaan dipimpin oleh seorang pejabat atau pendeta yang disebut Dharmadiaksa. Pada pemerintahan Kertanegara, terdapat pejabat tinggi keagamaan untuk menangani agama Buddha dan Hindu Siwa.
Perkembangan keagamaan tersebut juga terlihat dari peninggalan sejarah. Beberapa arca disebut menjadi bukti yang berkaitan dengan ajaran Tantrayana, di antaranya Arca Jokodolok dan Arca Amoga Pasa. Ada pula Arca Dewi Prajnaparamita yang dikaitkan dengan sosok Ken Dedes.
Masyarakat Singasari juga dikenal memiliki kemampuan tinggi dalam membuat candi dan patung. Sejumlah peninggalan yang disebut berasal dari masa kerajaan tersebut antara lain Candi Kidal, Candi Jago, Candi Jawi, dan Candi Singasari.
Candi Jago menjadi salah satu peninggalan yang dikaitkan dengan masa pemerintahan Rangga Wuni. Jasad Rangga Wuni disebut dicandikan di Jajagu atau Candi Jago sebagai Buddha Amogapasa. Bangunan tersebut memiliki kaki candi bertingkat tiga yang disusun berundak dan dihiasi relief.
Kertanegara Bawa Singasari ke Puncak Kejayaan
Perkembangan Kerajaan Singasari mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Kertanegara yang berkuasa dari 1268 hingga 1292 Masehi. Kertanegara memiliki ambisi memperluas wilayah kerajaan hingga seluruh Nusantara.
Baca Juga: Pajero Dakar 2016 Diesel dibanderol Rp297 Juta, Kondisinya Disebut Masih Rapi
Ekspansi dilakukan melalui kebijakan dalam dan luar negeri. Pada 1275, Kertanegara mengirim pasukan yang dipimpin Mahisa Anabrang untuk melakukan ekspedisi ke kerajaan Melayu. Ekspedisi tersebut kemudian dikenal sebagai Ekspedisi Pamalayu.
Hubungan diplomatik juga dijalin dengan Kerajaan Champa. Hubungan itu salah satunya berkaitan dengan upaya menghadapi ekspansi Kubilai Khan dari Mongol.
Namun, perkembangan Singasari akhirnya terhenti pada 1292. Ketika pasukan Singasari banyak diarahkan untuk mendukung ekspansi, Jaya Katwang dari Kediri menyerang kerajaan.
Serangan tersebut menyebabkan Kertanegara dan sejumlah pejabat istana tewas. Peristiwa itu sekaligus mengakhiri keberadaan Kerajaan Singasari.
Meski masa pemerintahannya berakhir, jejak kehidupan masyarakat Singasari tetap terlihat melalui sistem sosial, aktivitas pertanian dan perdagangan, perkembangan keagamaan, serta berbagai candi dan arca yang menjadi peninggalan sejarah.
Editor : Maylanni Diana Fitri