Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Rawan Trauma sebagai Dampak Kekalahan Telak Timnas Indonesia U-17 atas Korea Utara, Ini Cara Psikologis yang Perlu Dilakukan

Akhmad Nur Khoiri • Rabu, 16 April 2025 | 19:00 WIB
Timnas U-17 Merayakan Kemenagan
Timnas U-17 Merayakan Kemenagan

Trenggaleknjenggelek - Ajang Piala Asia U-17 2025 menjadi panggung harapan bagi Timnas Indonesia U-17. Namun kenyataan di lapangan berkata lain.

Pada babak perempat final, Timnas Indonesia U-17 harus menelan kekalahan telak 0-6 dari Korea Utara U-17 di King Abdullah Sports City Hall Stadium, Jeddah, Senin (14/4/2025).

Kekalahan ini tentu menjadi pukulan berat bagi Timnas Indonesia U-17 yang sebelumnya tampil gemilang di fase grup.

Euforia usai menumbangkan tim kuat seperti Korea Selatan, Yaman, dan Afghanistan berubah menjadi keheningan saat peluit panjang dibunyikan.

Tidak sedikit yang menyebut ini sebagai kekalahan paling menyakitkan dalam sejarah Timnas kelompok usia.

Kondisi ini bisa memicu dampak psikologis yang serius. Rasa kecewa, marah, hingga penurunan kepercayaan diri adalah hal yang sangat mungkin dialami para pemain muda.

Seperti yang kerap terjadi dalam dunia olahraga, kekalahan dengan margin besar bisa menciptakan trauma kolektif.

Trauma ini muncul ketika seseorang — atau dalam hal ini sebuah tim — mengalami kejadian yang mengejutkan, memalukan, dan menimbulkan rasa tidak aman.

Trauma semacam ini tak jarang menimbulkan gejala-gejala psikologis seperti intrusive thoughts (ketakutan akan kegagalan serupa yang kembali terulang), rasa bersalah terhadap tim atau bangsa, hingga munculnya keyakinan bahwa diri mereka belum layak mengenakan seragam Garuda.

Jika dibiarkan berlarut-larut, trauma ini bisa menghambat perkembangan pemain secara mental maupun teknis.

Itu sebabnya penting bagi federasi dan tim pelatih untuk memberi perhatian serius terhadap pemulihan psikologis para pemain muda ini.

Beberapa cara dapat dilakukan untuk membantu mereka pulih. Meditasi dan teknik ekspresi diri — seperti menulis jurnal atau berbagi cerita tanpa tekanan — bisa menjadi langkah awal.

Pemain juga bisa didorong untuk mendekat pada hal-hal positif, membangun ulang kepercayaan diri lewat rutinitas latihan yang menyenangkan, bukan menekan.

Namun jika pendekatan mandiri belum cukup efektif, pendampingan profesional seperti psikolog olahraga atau psikiater menjadi langkah penting berikutnya.

Dengan penanganan yang tepat, luka hari ini bisa menjadi bahan bakar untuk kebangkitan esok.

Garuda Muda mungkin tumbang di Jeddah, tapi bukan berarti mimpi mereka turut mati.

Karena seperti halnya kekalahan Italia di dua edisi Piala Dunia, proses belajar dari kegagalan adalah pondasi utama bagi tim hebat di masa depan.

Yang penting bukan seberapa dalam mereka jatuh, tetapi seberapa kuat mereka bangkit. (kho)

LANCAR: Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura (UTM) mengikuti kuliah tamu, Selasa (15/4). (ZEINAL ABIDIN/JPRM)
LANCAR: Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura (UTM) mengikuti kuliah tamu, Selasa (15/4). (ZEINAL ABIDIN/JPRM)
Editor : Akhmad Nur Khoiri
#Timnas Indonesia U-17 #psikologis #Piala Asia #trauma #korea utara