Trenggaleknjenggelek - Bullying bukanlah hal baru dalam kehidupan sosial kita. Bagi sebagian orang, itu menjadi pengalaman pahit yang pernah mereka rasakan.
Bagi yang lain, hanya menyaksikan dari kejauhan pun sudah cukup meninggalkan bekas. Namun, dampak sesungguhnya dari bullying tak selalu tampak di permukaan.
Dalam banyak kasus, luka akibat perlakuan semacam itu terus terbawa hingga dewasa—dan menjadi semakin rumit ketika korban bertemu dengan orang yang salah.
Menurut National Child Traumatic Stress Network, bullying dapat menimbulkan berbagai dampak psikologis yang serius.
Di antaranya adalah stres berkepanjangan, kecemasan, depresi, kemarahan, perasaan terisolasi, hingga munculnya perasaan tidak berharga dan ditolak.
Luka itu, ketika tidak ditangani dengan baik, akan menjadi celah yang mudah dimanfaatkan oleh pihak lain yang tidak bertanggung jawab.
Salah satu ilustrasi yang menggambarkan situasi ini dapat ditemukan dalam serial anime Classroom of the Elite.
Dalam serial tersebut, karakter Kurizawa Kei adalah contoh nyata korban bullying yang belum sepenuhnya pulih dari traumanya.
Masa lalunya yang penuh tekanan kembali menghantuinya ketika ia menjadi korban perundungan di bangku SMA.
Celakanya, momen ini diketahui oleh karakter utama lainnya, Kiyotaka Ayanokoji, yang kemudian memanfaatkannya untuk kepentingannya sendiri.
Ayanokoji—digambarkan sebagai sosok yang dingin dan manipulatif—mengeksploitasi trauma Kei. Ia menekan korban secara psikologis, menggambarkan Kei sebagai pribadi lemah dan tidak berdaya.
Taktik ini menimbulkan kembali rasa penolakan yang pernah dialami Kei, hingga akhirnya membuatnya tunduk pada kehendak Ayanokoji. Bahkan untuk melakukan hal-hal yang berisiko dan merugikan dirinya sendiri.
Kisah ini mungkin fiksi, tetapi situasi serupa kerap terjadi di dunia nyata. Ketika korban bullying belum pulih dari luka batinnya, mereka rentan dieksploitasi oleh individu manipulatif.
Hubungan yang terbentuk dalam situasi semacam itu bukanlah hubungan yang sehat, melainkan bentuk dominasi yang berujung pada trauma yang lebih dalam.
Maka penting bagi kita untuk menyadari bahwa pemulihan trauma korban bullying tidak berhenti hanya pada berhentinya tindakan perundungan.
Dibutuhkan langkah-langkah nyata untuk membantu korban membangun kembali kepercayaan diri dan rasa aman mereka.
Mulai dari teknik manajemen stres, relaksasi, afirmasi terhadap pengalaman masa lalu, hingga pendampingan psikologis.
Namun, yang paling krusial adalah pembenahan pola pikir korban. Mereka perlu diyakinkan bahwa masa lalu bukanlah penentu masa depan.
Mereka layak dicintai, dihargai, dan memiliki hak untuk memilih hidup yang bebas dari dominasi serta manipulasi.
Melalui kampanye ‘Stop Bullying’, kita tidak hanya menyerukan penghentian tindakan perundungan.
Kita juga membuka ruang untuk pemulihan korban. Karena menghentikan bullying bukan hanya soal menegur pelaku, tapi juga tentang menyembuhkan luka yang sudah terlalu lama disimpan sendiri. (kho)