Abon Ikan Channa, Inovasi Olahan Pangan Bernilai Tinggi
Zaki Jazai• Jumat, 18 April 2025 | 21:35 WIB
Abon ikan haruna yang siap disajikan
Trenggaleknjenggelek – Penganekaragaman olahan pangan menjadi langkah penting untuk memperpanjang masa simpan bahan pangan yang mudah rusak. Salah satu inovasi yang kini kian dilirik adalah produksi abon ikan, termasuk dari ikan haruan atau channa (Channa striata), yang dikenal kaya akan protein dan albumin.
Dalam dunia pengolahan pangan, abon merupakan salah satu bentuk lauk kering yang dibuat dari daging atau ikan. Tujuan utamanya adalah memperpanjang daya simpan sekaligus meningkatkan nilai tambah, baik dari sisi kandungan kimia maupun mutu produk.
Ikan haruan segar mengandung protein tinggi, berkisar antara 15–20%, tergantung pada jenis kelamin dan bobot tubuhnya. Penelitian Suwandi dkk. (2014) menunjukkan, kadar protein terendah ditemukan pada ikan haruan jantan berbobot 2 kilogram sebesar 15,33%, sedangkan kadar tertinggi sebesar 20,14% terdapat pada betina berbobot 1 kilogram. Selain itu, ikan haruan juga dikenal memiliki kandungan albumin sebesar 6,22% (Wahyu et al., 2013), yang berfungsi penting dalam menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh dan membawa berbagai zat seperti hormon, vitamin, serta enzim.
Proses pembuatan abon ikan haruan diawali dengan pemilihan bahan baku yang segar dan bermutu. Ikan disiangi dengan membuang kepala, isi perut, dan sirip, kemudian dagingnya dicuci bersih. Untuk menghilangkan bau amis, daging ikan dibaluri sari jeruk nipis sebelum dikukus selama 30–60 menit hingga lunak.
Usai dikukus, daging ikan dipres untuk mengurangi kadar air, sehingga menghasilkan serat-serat daging yang lebih baik. Tahap selanjutnya adalah pencabikan, baik secara manual maupun menggunakan mesin. Serat-serat daging kemudian dicampur dengan bumbu, antara lain bawang putih, ketumbar, lengkuas, gula pasir, garam, dan santan kelapa.
Proses penggorengan dilakukan selama sekitar 60 menit dengan pengadukan terus-menerus agar abon matang merata dan bumbu meresap sempurna. Warna kuning kecoklatan pada serat daging menjadi tanda bahwa proses penggorengan telah selesai. Setelah itu, abon kembali dipres untuk mengurangi minyak berlebih sebelum masuk ke tahap akhir, yaitu pengemasan.
Melalui tahapan produksi yang cermat ini, abon ikan haruan tidak hanya menjadi alternatif olahan pangan, tetapi juga menawarkan produk bernilai gizi tinggi yang berpotensi memperkaya pilihan lauk kering masyarakat.
Dengan kandungan protein dan albumin yang melimpah, abon ikan haruan menjadi jawaban atas kebutuhan pangan sehat sekaligus solusi untuk memperpanjang masa simpan hasil perikanan lokal.(jaz)